Jadi kapan terakhir kali saya menulis di sini?
Lama sekali ya. Adakah yang rindu tulisan random saya? Atau malah sebenarnya saya tidak punya pembaca setia? Hahaha. Marilah sejenak berpura-pura, bahwa sebenarnya banyak sekali yang membaca. Woi...itu yang tertulis di halaman depan apa non? Kelihatan kali berapa orang yang sudah pernah mampir dimari.
Ah, bodo amat. Bisa kan kita sehari saja tidak perlu mendebatkan hal-hal yang tidak cukup bermutu.
Jadi kemana saya selama ini?
Saya kerja saudaraa. Ada begitu banyak deadline yang harus saya selesaikan setiap harinya. Ngeluh? Hmm No. Hanya terkadang pengen bebas hambatan untuk jalan-jalan. Wkakaka.
Then, selanjutnya, tunggu ya tulisan random-random saya.
Tampilkan postingan dengan label Absurd. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Absurd. Tampilkan semua postingan
Kamis, Februari 23, 2017

Bahkan Ini pun Harus Kita syukuri
![]() |
| Credit here |
Masih ada yang menggerutu tentang pekerjaannya saat ini?
Capek, teman kantor yang nggak oke, bos yang galak, atau kalau punya usaha,
sepinya order, ditipu orang dan lain sebagainya.
Saya ingin mengajak melihat beberapa fenomena yang ada di
sekitar. Fenomena yang harusnya membuat kita mensyukuri apapun yang bisa kita
lakukan (yang bisa jadi tidak bisa orang lain lakukan). Setiap senin sore saya
selalu melewati satu ruas jalan yang sama. Jalan gambir, kalau masih ada yang tidak
tahu, arah ke utara dari fakultas teknik Universitas Negeri Yogyakarta. Setiap
senin sore itu pula, Allah menampar saya. Ada seorang bapak yang sudah berumur.
Sudah tua dan bungkuk, sedang menunggui jualannya berupa mainan tradisional.
Mainan yang tidak semua anak suka, apalagi di era generasi gadget seperti ini.
Kedua, di sekitar ruas jalan yang sama, saya beberapa kali
menemui bapak (kalau tidak boleh disebut kakek) sedang mendorong keranjangnya
yang berisi penuh celengan dari tanah berbentuk kuda-kudaan, ayam-ayaman dan
sejenisnya. Si bapak ini beberapa kali menjajakan jualannya di sekitaran kampus.
Ketiga, ada seorang bapak yang atas ijin Allah dibuat
istimewa (tidak bisa melihat), pada hari-hari terentu dia akan menjajakan
jualannya berupa keset, sulak (kemoceng), kain lap dan sejenisnya di sekitaran
masjid kampus UGM.
Keempat, bagi yang domisili di Jogja coba sekali-sekali saat
pagi hari, belanja di pasar demangan.
Setelah belanja sempatkan untuk lewat di dekat bak sampah (sebuah kotak
besar dari semen) yang ada di pojok
depan pasar. Disana akan ditemui seorang bapak yang duduk di antara tumpukan
sampah sambil memilah-milah sampah. Mana yang bisa dijual kembali dan mana yang
tidak. Inilah kenapa buat para mbak-mbak dan ibu-ibu, kalau buang (maaf)
pembalut tolong lebih hati-hati.
Kelima, ahh rasanya saya nyaris tidak sanggup menuliskannya,
setiap sore (akhir-akhir ini tidak ada) ada sepasang suami istri (sudah
berumur) menjajakan topi anyaman. Jangan pikirkan seperti topi anyaman yang
untuk di pantai. Dan beberapa kali saya lihat, jualannya tidak kunjung
berkurang banyak.
Pernah saya berpikir dan mungkin banyak orang lain yang
berpikir serupa, kenapa sih
bapak-bapak itu tidak berjualan yang mudah habis atau minimal yang ‘lebih
modern’. Kan kalau mudah habis orang akan beli lagi, misalnya makanan. Lha
kalau yang dijual celengan kuda-kudaan, atau mainan, kan nggak mungkin setiap
hari beli. Nggak mungkin kan dalam satu hari celengannya penuh.
Namun, kemudian saya berpikir bagaimana kalau memang hanya
itu keahlian yang mereka punya. Membuat celengan dari tanah, merangkai
bilah-bilah bambu untuk membuat mainan, menganyam rotan untuk membuat topi dan
lain-lain.
Ada satu hal yang harus segera kita syukuri, kemampuan untuk
bertahan hidup. Kemampuan yang atas ijin Allah menempel pada diri kita. Bisa
menulis, mengajar, ilmu kedokteran, ilmu tentang bumi (perminyakan, geologi,
geografi dll), kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik, kemampuan marketing
yang mudah diterima dan lain sebagainya. Bisa dibayangkan kalau tetiba Allah
membalik semuanya? Ilmu-ilmu yang kita miliki berpindah tubuh ke orang lain
misalnya.
Itulah kenapa ada hak orang lain dari harta kita.
Zink!! Ini kenap tetiba saya jadi begitu serius begini ya,
Oh no, kotak tertawa, mana kotak tertawa.
Sije
Senin, Februari 20, 2017

Foto Dulu, Foto Lagi, dan Foto Terus
![]() |
| Credit here |
Teknologi memang seperti pisau bermata dua. Satu
sisi bisa menjadi manfaat, namun disisi lain juga bisa menjadi bumerang yang
mampu menghancukan penggunannya. Salah satu teknologi yang saat ini banyak
digunakan oleh masyarakat adalah handphone a.k.a Hp.
Sekarang ini hampir semua lapisan masyarakat
mempunyai handphone. Mulai dari masyarakat pedesaan hingga perkotaan. Tidak
tanggung-tanggung, bukan hanya untuk telfon dan sms namun juga dilengkapi fitur
kamera. Teknologi komunikasi memang berkembang cukup pesat, yang awalnya hanya
handphone biasa, kini sudah muncul yang namanya smartphone. Fitur yang
ditawarkan beragam, mulai dari kamera dengan hasil gambar yang jelas, hingga
aplikasi media sosial yang bisa langsung diakses kapan saja.
Kemudahan yang diberikan oleh smartphone ini kini
membawa tuah. Banyak remaja kita yang sekarang dijangkiti virus foto selfie.
Dimana saja dan kapan saja foto selfie tidak pernah terlupa. Saat menunggu
antrian, selesai sholat tarawih, waktu pergi ke tempat wisata, disemua tempat
yang dilalui dan disinggahinya. Moto yang digunakan, foto dulu, foto lagi, dan
foto terus.
Fenomena ini tidak hanya berhenti sampai foto saja,
setelah foto selfie, hal reflek yang banyak kita lakukan adalah mengunggahnya
di sosial media. Berburu like dan komentar. Ada rasa jumawa bila banyak yang
like atau memberikan komentar. Niat awal yang hanya sekedar mengunggah foto
kini menjadi niat ingin mendapat banyak pujian dan like.
Fenomena ini mau tidak mau harus mendapat porsi
tersendiri untuk ditangani. Sebab, virus ini katanya banyak menjangkiti para
muslimah yang konon fitrahnya bermahkotakan rasa malu. Syetan dengan halusnya
memberikan bujuk rayu agar senang foto, senang pamer, dan akhirnya mengharap
pujian dari orang lain.
Pada beberapa kelompok ada yang sebenarnya tidak ada
niatan untuk pamer foto, namun tidak menyadari bahwa foto yang diunggahnya ke
sosial media tanpa manfaat yang mendesak justru membuat mudhorot bagi orang
lain. Banyak muslimah yang bersungut-sungut tak suka ketika ada laki-laki yang
menggodanya. Namun diwaktu yang sama masih sering kali mengunggah foto selfie
cantiknya. Bersembunyi di belakang kalimat, “ah…salah sendiri tidak bisa jaga
mata”. Kepada kita yang masih seperti ini, ada sebuah nasehat.
Kita tidak
pernah tahu kondisi iman saudara kita.
Maka tugas kitalah untuk saling menjaga iman saudaranya yang lain. Salah
satunya adalah dengan tidak melakukan hal-hal yang justru membuat iman mereka
turun. Bagaimana kalau ternyata foto-foto kita lah yang selama ini membuat
rontok iman mereka?
Lalu apakah muslimah tidak boleh berfoto?
Ulama masih berbeda pendapat tentang ini. Namun
kalau pun berpegangan dengan pendapat ulama yang memperbolehkan foto, alangkah
baiknya foto-foto itu disimpan sendiri, untuk konsumsi pribadi. Tak perlulah
diunggah ke sosial media. Bukankah setiap apa yang kita lakukan akan dimintai
pertanggungjawaban nantinya. Pun diunggah, seperlunya saja. Sebutuhnya. Tentu
saja kebutuhan eksis seorang public figure
berbeda dengan ibu rumah tangga biasa.
Satu yang jauh lebih penting dari semuanya adalah, apa
jawaban kita atas foto-foto yang beredar di dunia maya?
Sije

Hari Gini Tanya Kapan Nikah? Kuno!
![]() |
| Credit here |
Kita hidup di negeri yang penuh bully. Mau salah atau benar, tidak ada
yang luput dari ‘dunia perbullyan’. Satu hal yang sering dijadikan tema bully adalah nikah, dan ini erat
kaitannya dengan jomblo. Dua hal ini menjadi trending topik paling atas dalam ‘dunia
perbullyan’. Kaum jomblo seolah menjadi sasaran empuk untuk ‘dibabakbelurkan’. Kadang
tidak hanya mereka yang memang sengaja ‘sorangan wae’ kena getahnya. Mereka
yang menjaga untuk tidak pacaran atau sedang dalam rangka memperbaiki diri juga
sering kena bully.
Bagi yang tidak tahan, biasanya menarik
diri dari lingkungan. Bosan ditanya kapan nikah. Mencari komunitas yang
bernasib sama. Menjauh dari keluarga besar, karena tidak kuat menahan kuping
yang memerah akibat ‘cibiran’ yang kadang serasa tidak sengaja namun membiasa.
Siapa pula yang tahan bila setiap hari
ditanya hal yang sama. Padahal jelas tahu kalau sedang berusaha mewujudkannya. Parahnya
lagi tidak jarang diikuti dengan cerita untuk menakut-nakuti, mulai dari
perawan tua, hingga mati tanpa sempat mendua. Sebal? Sama!
Bullyan ‘kapan nikah’ sekarang ini membudaya.
Bukan hanya di pertemuan keluarga, reuni TK pun juga banyak yang bertanya.
Padahal bila mau sedikit saja peka, apakah bullyan semacam itu merupakan sebuah
prestasi? Mungkinkah itu memberikan solusi? Atau justru malah sebaliknya,
semakin memperkeruh suasana dan merenggangkan persaudaraan antar sesama.
Bila kita mau berkaca pada Alquran dan hadits
Nabi, pasti bullyan semacam ini tidak
akan ada.
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu
damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah
terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al Hujuraat 10)
Hadis riwayat Nukman
bin Basyir RA, ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Perumpamaan orang-orang mukmin
dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah
tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang
lain ikut merasakan sulit tidur dan demam. (HR.Muslim)
Hadis riwayat Abu Musa
RA dia berkata:
Rasulullah SAW bersabda: Seorang mukmin terhadap mukmin yang
lain adalah seperti sebuah bangunan di mana bagiannya saling menguatkan bagian
yang lain. (HR. Muslim)
Allah sudah memberikan perintah sejak
dahulu bahwa sesama muslim adalah saudara yang harus saling kasih mengasihi.
Sepenanggungan. Bila satu tersakiti, maka yang lain pun merasa tersakiti. Lalu
bila hampir setiap hari kita membully
saudara kita tanpa memberi solusi, apakah bisa kita disebut orang-orang yang
beriman?
Bukankah lebih menyenangkkan bila
pertanyaan, “Kapan nikah?” diganti dengan, “Mau yang seperti apa? Sini saya
bantu cari.” Bukan membully tapi
memberi solusi.
Hari gini masih tanya kapan nikah?
Kuno!

Perempuan, Laki-laki dan Foto
![]() |
| Credit here |
Tulisan ini, catatan ke-101 di
facebook saya. Mau berteman, silakan berkunjung dimari.
Semakin hari, saya semakin menikmati
dunia perempuan. Banyak hal yang menarik, meskipun banyak hal yang
kontroversial. Apalagi tradisi kita di Indonesia kebanyakan menggunakan
'Patriarki'. Seolah Perempuan itu tidak ada ruang untuk aktualisasi diri. Hal
ini membuat saya semakin penasaran. Benarkah? Mungkin karena saya lahir di
keluarga tanpa anak laki-laki. Jadi saya tidak melihat perbedaan bagaimana
bersikap kepada anak laki-laki dan kepada anak perempuan.
Berbicara tentang laki-laki dan
perempuan, saya jadi teringat sesuatu. Beberapa waktu lalu ada seseorang
bertamu ke rumah (kontrakan) saya. Teman dulu di organisasi saat kuliah. Beliau
menyampaikan sebuah titipan dari seseorang. Lalu mulailah kita ngobrol ngalur
ngidul, saling bertukar kabar teman-teman lama. Hingga akhirnya kita sampai pada
bahasan interaksi antara laki-laki dan perempuan. Saya masih ingat, saat itu
saya menanyakan nama seseorang,
"Kenal sama si X
nggak?"
"Iya kenal, kenapa? Nggak
beres ya. Iya itu sudah banyak yang menasehati kok. Sudah ditanting juga. Tapi
dianya nggak berani".
Lalu teman saya bertanya,
"Kenal sama ini?" Dia
menyebutkan nama seseorang. Perempuan.
"Oh, nggak. Kenapa?"
"Nggak apa-apa"
Jawabnya.
Bukan saya kalau nggak penasaran
dengan apa yang saya dengar setengah. Saya search FB dengan nama yang
disebutkan teman saya itu. Kebetulan banyak mutual friend. Jadi tidak sulit
mencarinya. Sekilas tidak ada yang aneh. Biasa saja. Mbaknya cantik. Ya namanya
juga perempuan, pasti cantik kan. Lalu saya mulai mengepo foto
profile-nya.
WAOW!
Saya menemukan beberapa eh banyak
fotonya. Berjilbab syar'i. Tertutup rapat. Hmm meskipun dengan wajah close up. Saya
sendiri sebagai perempuan risih. Fotonya sangat close up dan dengan berbagai
macam gaya. Saya bukan ahli tafsir memang. Jadi saya juga kurang tahu apa hukum
pastinya yang kayak gitu. Foto syar'i tapi close up. Ah, kalau ada salah satu
pembaca yang tahu, silahkan komen. :)
Lebih-lebih ada begitu banyak
komentator mengerubungi foto-foto itu. Sebagian besar laki-laki. Ikhwan, ah
mungkin masih bakwan kali ya. Bakal ikhwan, atau mungkin itong, ikhwan
sepotong. Pokonya berjenis kelamin laki-laki.
Komennya beragam, mulai dari:
"Subhanallah"
"Cantiknya"
"Kenalan donk"
"Kalau punya istri seperti
ini...."
"Wajah bidadari"
Sampai,
"Mbak, boleh minta
fotonya?"
Lalu kalau sudah begini, siapa
yang harus evaluasi diri? Hanya perempuan kah? Kan perempuan yang
mancing-mancing. Kalau nggak dipancing, laki-laki juga nggak tergoda buat
lihat. Apalagi itu di upload di FB. Terbuka untuk umum kan berarti.
Atau harus laki-laki saja yang
mengevaluasi diri?
Dasar laki-laki. Matanya
jelalatan kemana-mana. Kalau lihat cewek cantik, apalagi akhwat, pengennya
dideketin. PDKT lewat facebook. Komen-komen nggak jelas. Semua status
di-like.
Lalu ditutuplah dengan dengan
sebuah kalimat.
Perempuan dimana-mana sama saja.
Tukang menggoda!!
dan
Laki-laki dimana-mana sama saja.
Mata keranjang!!
Jadinya salah semua nih?
Kalau katanya Pak
Jalal di Para Pencari Tuhan sih,
laki-laki menahan, perempuan menjaga.
Sije

Jangan Bully Jomblo
![]() |
| Credit here |
Oke, bosen baca-baca berita
pilkada mulu, sekali-kali bikin tulisan kayak gini. Akhir-akhir ini saya sering
menemukan gerakan bully Jomblo. Baik itu di iklan TV, Instagram, FB, dll. Jadi
merasa terusik aja. Buka apa-apa. Hanya saja, apa yang mereka lakukan tidak
berimbang. Bukan mengajak ke arah yang lebih baik, tapi sebaliknya.
Satu sisi banyak masyarakat yang
menganggap kalau jomblo itu aib. Okelah, siapa sih yang mau hidup sendiri?
Rosul aja berkeluarga. Tapi apa iya selamanya jomblo itu aib? Mari kita bahas.
Gerakan bully jomblo ini secara tidak sadar tersebar begitu cepat.
Sasarannya siapa? Yap, remaja! Bukan mereka yang sudah siap tidak
menjomblo. Kalimat yang terakhir tidak akan saya bahas.
Remaja kita mamen yang
terpapar bully-an ini. Akibatnya banyak remaja kita yang merasa jomblo itu aib.
Saya pernah bertemu remaja umur 15 tahun yang galau tingkat dewa gegara merasa
dia nggak laku. Segitunya banget gitu. Payahnya lagi, saat saya berkesempatan
ngobrol dengan siswa di sebuah sekolah ternama di Yogya dan saya menceritakan
hal ini, mereka bilang, “ya wajar kan mbak kalau dia merasa nggak laku.” Duh,
pengen pingsan.
Kenapa gerakan Bully jomblo ini harus disudahi?
Fenomena yang kemudian hadir di
remaja kita adalah Bully jomblo yang tidak punya pacar. See? Kemana arahnya?
Susah payah kita mengajarkan pendidikan karakter (duh opo iki), hasilnya zonk
hanya gegara gerakan tidak mutu ini. Remaja kita digiring kepada pemahaman,
bahwa tidak punya pacar itu aib. Kalau malem minggu dirumah saja itu mengenaskan.
Bukan hanya sekedar jomblo itu aib.
Lalu dimana keinginan untuk
berprestasi itu diletakkan? Ketika semua media sosial menuju kearah yang sama?
Jadi ingat grup JV (justice
voice), terakhir sepanggung dengan mereka tahun 2013 silam. Save our masjid,
keep our heart and also selamatkan generasi ini.
-Catatan random untuk memantik
ide selanjutnya-
Sije
Langganan:
Postingan (Atom)
