Tampilkan postingan dengan label Absurd. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Absurd. Tampilkan semua postingan

Senin, Januari 22, 2018

Hai

Jadi kapan terakhir kali saya menulis di sini?


Lama sekali ya. Adakah yang rindu tulisan random saya? Atau malah sebenarnya saya tidak punya pembaca setia? Hahaha. Marilah sejenak berpura-pura, bahwa sebenarnya banyak sekali yang membaca. Woi...itu yang tertulis di halaman depan apa non? Kelihatan kali berapa orang yang sudah pernah mampir dimari.

Ah, bodo amat. Bisa kan kita sehari saja tidak perlu mendebatkan hal-hal yang tidak cukup bermutu.

Jadi kemana saya selama ini?

Saya kerja saudaraa. Ada begitu banyak deadline yang harus saya selesaikan setiap harinya. Ngeluh? Hmm No. Hanya terkadang pengen bebas hambatan untuk jalan-jalan. Wkakaka.

Then, selanjutnya, tunggu ya tulisan random-random saya.

Kamis, Februari 23, 2017

Bahkan Ini pun Harus Kita syukuri

Credit here
Masih ada yang menggerutu tentang pekerjaannya saat ini? Capek, teman kantor yang nggak oke, bos yang galak, atau kalau punya usaha, sepinya order, ditipu orang dan lain sebagainya.

Saya ingin mengajak melihat beberapa fenomena yang ada di sekitar. Fenomena yang harusnya membuat kita mensyukuri apapun yang bisa kita lakukan (yang bisa jadi tidak bisa orang lain lakukan). Setiap senin sore saya selalu melewati satu ruas jalan yang sama. Jalan gambir, kalau masih ada yang tidak tahu, arah ke utara dari fakultas teknik Universitas Negeri Yogyakarta. Setiap senin sore itu pula, Allah menampar saya. Ada seorang bapak yang sudah berumur. Sudah tua dan bungkuk, sedang menunggui jualannya berupa mainan tradisional. Mainan yang tidak semua anak suka, apalagi di era generasi gadget seperti ini.

Kedua, di sekitar ruas jalan yang sama, saya beberapa kali menemui bapak (kalau tidak boleh disebut kakek) sedang mendorong keranjangnya yang berisi penuh celengan dari tanah berbentuk kuda-kudaan, ayam-ayaman dan sejenisnya. Si bapak ini beberapa kali menjajakan jualannya di sekitaran kampus.

Ketiga, ada seorang bapak yang atas ijin Allah dibuat istimewa (tidak bisa melihat), pada hari-hari terentu dia akan menjajakan jualannya berupa keset, sulak (kemoceng), kain lap dan sejenisnya di sekitaran masjid kampus UGM.

Keempat, bagi yang domisili di Jogja coba sekali-sekali saat pagi hari, belanja di pasar demangan.  Setelah belanja sempatkan untuk lewat di dekat bak sampah (sebuah kotak besar dari semen) yang ada di  pojok depan pasar. Disana akan ditemui seorang bapak yang duduk di antara tumpukan sampah sambil memilah-milah sampah. Mana yang bisa dijual kembali dan mana yang tidak. Inilah kenapa buat para mbak-mbak dan ibu-ibu, kalau buang (maaf) pembalut tolong lebih hati-hati.

Kelima, ahh rasanya saya nyaris tidak sanggup menuliskannya, setiap sore (akhir-akhir ini tidak ada) ada sepasang suami istri (sudah berumur) menjajakan topi anyaman. Jangan pikirkan seperti topi anyaman yang untuk di pantai. Dan beberapa kali saya lihat, jualannya tidak kunjung berkurang banyak.

Pernah saya berpikir dan mungkin banyak orang lain yang berpikir serupa, kenapa sih bapak-bapak itu tidak berjualan yang mudah habis atau minimal yang ‘lebih modern’. Kan kalau mudah habis orang akan beli lagi, misalnya makanan. Lha kalau yang dijual celengan kuda-kudaan, atau mainan, kan nggak mungkin setiap hari beli. Nggak mungkin kan dalam satu hari celengannya penuh.

Namun, kemudian saya berpikir bagaimana kalau memang hanya itu keahlian yang mereka punya. Membuat celengan dari tanah, merangkai bilah-bilah bambu untuk membuat mainan, menganyam rotan untuk membuat topi dan lain-lain.

Ada satu hal yang harus segera kita syukuri, kemampuan untuk bertahan hidup. Kemampuan yang atas ijin Allah menempel pada diri kita. Bisa menulis, mengajar, ilmu kedokteran, ilmu tentang bumi (perminyakan, geologi, geografi dll), kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik, kemampuan marketing yang mudah diterima dan lain sebagainya. Bisa dibayangkan kalau tetiba Allah membalik semuanya? Ilmu-ilmu yang kita miliki berpindah tubuh ke orang lain misalnya.
Itulah kenapa ada hak orang lain dari harta kita.

Zink!! Ini kenap tetiba saya jadi begitu serius begini ya, Oh no, kotak tertawa, mana kotak tertawa.

Sije

Senin, Februari 20, 2017

Foto Dulu, Foto Lagi, dan Foto Terus

Credit here
Teknologi memang seperti pisau bermata dua. Satu sisi bisa menjadi manfaat, namun disisi lain juga bisa menjadi bumerang yang mampu menghancukan penggunannya. Salah satu teknologi yang saat ini banyak digunakan oleh masyarakat adalah handphone a.k.a Hp.

Sekarang ini hampir semua lapisan masyarakat mempunyai handphone. Mulai dari masyarakat pedesaan hingga perkotaan. Tidak tanggung-tanggung, bukan hanya untuk telfon dan sms namun juga dilengkapi fitur kamera. Teknologi komunikasi memang berkembang cukup pesat, yang awalnya hanya handphone biasa, kini sudah muncul yang namanya smartphone. Fitur yang ditawarkan beragam, mulai dari kamera dengan hasil gambar yang jelas, hingga aplikasi media sosial yang bisa langsung diakses kapan saja.

Kemudahan yang diberikan oleh smartphone ini kini membawa tuah. Banyak remaja kita yang sekarang dijangkiti virus foto selfie. Dimana saja dan kapan saja foto selfie tidak pernah terlupa. Saat menunggu antrian, selesai sholat tarawih, waktu pergi ke tempat wisata, disemua tempat yang dilalui dan disinggahinya. Moto yang digunakan, foto dulu, foto lagi, dan foto terus.

Fenomena ini tidak hanya berhenti sampai foto saja, setelah foto selfie, hal reflek yang banyak kita lakukan adalah mengunggahnya di sosial media. Berburu like dan komentar. Ada rasa jumawa bila banyak yang like atau memberikan komentar. Niat awal yang hanya sekedar mengunggah foto kini menjadi niat ingin mendapat banyak pujian dan like.

Fenomena ini mau tidak mau harus mendapat porsi tersendiri untuk ditangani. Sebab, virus ini katanya banyak menjangkiti para muslimah yang konon fitrahnya bermahkotakan rasa malu. Syetan dengan halusnya memberikan bujuk rayu agar senang foto, senang pamer, dan akhirnya mengharap pujian dari orang lain.

Pada beberapa kelompok ada yang sebenarnya tidak ada niatan untuk pamer foto, namun tidak menyadari bahwa foto yang diunggahnya ke sosial media tanpa manfaat yang mendesak justru membuat mudhorot bagi orang lain. Banyak muslimah yang bersungut-sungut tak suka ketika ada laki-laki yang menggodanya. Namun diwaktu yang sama masih sering kali mengunggah foto selfie cantiknya. Bersembunyi di belakang kalimat, “ah…salah sendiri tidak bisa jaga mata”. Kepada kita yang masih seperti ini, ada sebuah nasehat.

Kita tidak pernah tahu kondisi iman saudara kita. Maka tugas kitalah untuk saling menjaga iman saudaranya yang lain. Salah satunya adalah dengan tidak melakukan hal-hal yang justru membuat iman mereka turun. Bagaimana kalau ternyata foto-foto kita lah yang selama ini membuat rontok iman mereka?

Lalu apakah muslimah tidak boleh berfoto?
Ulama masih berbeda pendapat tentang ini. Namun kalau pun berpegangan dengan pendapat ulama yang memperbolehkan foto, alangkah baiknya foto-foto itu disimpan sendiri, untuk konsumsi pribadi. Tak perlulah diunggah ke sosial media. Bukankah setiap apa yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban nantinya. Pun diunggah, seperlunya saja. Sebutuhnya. Tentu saja kebutuhan eksis seorang public figure berbeda dengan ibu rumah tangga biasa.

Satu yang jauh lebih penting dari semuanya adalah, apa jawaban kita atas foto-foto yang beredar di dunia maya?


Sije

Hari Gini Tanya Kapan Nikah? Kuno!

Credit here
Kita hidup di negeri yang penuh bully. Mau salah atau benar, tidak ada yang luput dari ‘dunia perbullyan’. Satu hal yang sering dijadikan tema bully adalah nikah, dan ini erat kaitannya dengan jomblo. Dua hal ini menjadi trending topik paling atas dalam ‘dunia perbullyan’. Kaum jomblo seolah menjadi sasaran empuk untuk ‘dibabakbelurkan’. Kadang tidak hanya mereka yang memang sengaja ‘sorangan wae’ kena getahnya. Mereka yang menjaga untuk tidak pacaran atau sedang dalam rangka memperbaiki diri juga sering kena bully.

Bagi yang tidak tahan, biasanya menarik diri dari lingkungan. Bosan ditanya kapan nikah. Mencari komunitas yang bernasib sama. Menjauh dari keluarga besar, karena tidak kuat menahan kuping yang memerah akibat ‘cibiran’ yang kadang serasa tidak sengaja namun membiasa.

Siapa pula yang tahan bila setiap hari ditanya hal yang sama. Padahal jelas tahu kalau sedang berusaha mewujudkannya. Parahnya lagi tidak jarang diikuti dengan cerita untuk menakut-nakuti, mulai dari perawan tua, hingga mati tanpa sempat mendua. Sebal? Sama!  

Bullyan ‘kapan nikah’ sekarang ini membudaya. Bukan hanya di pertemuan keluarga, reuni TK pun juga banyak yang bertanya. Padahal bila mau sedikit saja peka, apakah bullyan semacam itu merupakan sebuah prestasi? Mungkinkah itu memberikan solusi? Atau justru malah sebaliknya, semakin memperkeruh suasana dan merenggangkan persaudaraan antar sesama.
Bila kita mau berkaca pada Alquran dan hadits Nabi, pasti bullyan semacam ini tidak akan ada.
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al Hujuraat 10)

Hadis riwayat Nukman bin Basyir RA, ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam. (HR.Muslim)

Hadis riwayat Abu Musa RA dia berkata:
Rasulullah SAW bersabda: Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan di mana bagiannya saling menguatkan bagian yang lain. (HR. Muslim)

Allah sudah memberikan perintah sejak dahulu bahwa sesama muslim adalah saudara yang harus saling kasih mengasihi. Sepenanggungan. Bila satu tersakiti, maka yang lain pun merasa tersakiti. Lalu bila hampir setiap hari kita membully saudara kita tanpa memberi solusi, apakah bisa kita disebut orang-orang yang beriman?

Bukankah lebih menyenangkkan bila pertanyaan, “Kapan nikah?” diganti dengan, “Mau yang seperti apa? Sini saya bantu cari.” Bukan membully tapi memberi solusi.


Hari gini masih tanya kapan nikah? Kuno!

Perempuan, Laki-laki dan Foto

Credit here
Tulisan ini, catatan ke-101 di facebook saya. Mau berteman, silakan berkunjung dimari.

Semakin hari, saya semakin menikmati dunia perempuan. Banyak hal yang menarik, meskipun banyak hal yang kontroversial. Apalagi tradisi kita di Indonesia kebanyakan menggunakan 'Patriarki'. Seolah Perempuan itu tidak ada ruang untuk aktualisasi diri. Hal ini membuat saya semakin penasaran. Benarkah? Mungkin karena saya lahir di keluarga tanpa anak laki-laki. Jadi saya tidak melihat perbedaan bagaimana bersikap kepada anak laki-laki dan kepada anak perempuan. 

Berbicara tentang laki-laki dan perempuan, saya jadi teringat sesuatu. Beberapa waktu lalu ada seseorang bertamu ke rumah (kontrakan) saya. Teman dulu di organisasi saat kuliah. Beliau menyampaikan sebuah titipan dari seseorang. Lalu mulailah kita ngobrol ngalur ngidul, saling bertukar kabar teman-teman lama. Hingga akhirnya kita sampai pada bahasan interaksi antara laki-laki dan perempuan. Saya masih ingat, saat itu saya menanyakan nama seseorang, 

"Kenal sama si X nggak?"

"Iya kenal, kenapa? Nggak beres ya. Iya itu sudah banyak yang menasehati kok. Sudah ditanting juga. Tapi dianya nggak berani". 

Lalu teman saya bertanya, 

"Kenal sama ini?" Dia menyebutkan nama seseorang. Perempuan. 

"Oh, nggak. Kenapa?"

"Nggak apa-apa" Jawabnya. 

Bukan saya kalau nggak penasaran dengan apa yang saya dengar setengah. Saya search FB dengan nama yang disebutkan teman saya itu. Kebetulan banyak mutual friend. Jadi tidak sulit mencarinya. Sekilas tidak ada yang aneh. Biasa saja. Mbaknya cantik. Ya namanya juga perempuan, pasti cantik kan. Lalu saya mulai mengepo foto profile-nya. 

WAOW! 

Saya menemukan beberapa eh banyak fotonya. Berjilbab syar'i. Tertutup rapat. Hmm meskipun dengan wajah close up. Saya sendiri sebagai perempuan risih. Fotonya sangat close up dan dengan berbagai macam gaya. Saya bukan ahli tafsir memang. Jadi saya juga kurang tahu apa hukum pastinya yang kayak gitu. Foto syar'i tapi close up. Ah, kalau ada salah satu pembaca yang tahu, silahkan komen. :) 


Lebih-lebih ada begitu banyak komentator mengerubungi foto-foto itu. Sebagian besar laki-laki. Ikhwan, ah mungkin masih bakwan kali ya. Bakal ikhwan, atau mungkin itong, ikhwan sepotong. Pokonya berjenis kelamin laki-laki. 

Komennya beragam, mulai dari:

"Subhanallah"

"Cantiknya"

"Kenalan donk"

"Kalau punya istri seperti ini...."

"Wajah bidadari" 

Sampai,

"Mbak, boleh minta fotonya?" 

Lalu kalau sudah begini, siapa yang harus evaluasi diri? Hanya perempuan kah? Kan perempuan yang mancing-mancing. Kalau nggak dipancing, laki-laki juga nggak tergoda buat lihat. Apalagi itu di upload di FB. Terbuka untuk umum kan berarti. 

Atau harus laki-laki saja yang mengevaluasi diri?

Dasar laki-laki. Matanya jelalatan kemana-mana. Kalau lihat cewek cantik, apalagi akhwat, pengennya dideketin. PDKT lewat facebook. Komen-komen nggak jelas. Semua status di-like. 

Lalu ditutuplah dengan dengan sebuah kalimat. 

Perempuan dimana-mana sama saja. Tukang menggoda!!

dan 

Laki-laki dimana-mana sama saja. Mata keranjang!! 

Jadinya salah semua nih? 


Kalau katanya Pak Jalal di Para Pencari Tuhan sih, laki-laki menahan, perempuan menjaga. 

Sije

Jangan Bully Jomblo

Credit here

Oke, bosen baca-baca berita pilkada mulu, sekali-kali bikin tulisan kayak gini. Akhir-akhir ini saya sering menemukan gerakan bully Jomblo. Baik itu di iklan TV, Instagram, FB, dll. Jadi merasa terusik aja. Buka apa-apa. Hanya saja, apa yang mereka lakukan tidak berimbang. Bukan mengajak ke arah yang lebih baik, tapi sebaliknya.

Satu sisi banyak masyarakat yang menganggap kalau jomblo itu aib. Okelah, siapa sih yang mau hidup sendiri? Rosul aja berkeluarga. Tapi apa iya selamanya jomblo itu aib? Mari kita bahas. Gerakan bully jomblo ini secara tidak sadar tersebar begitu cepat.  Sasarannya siapa? Yap, remaja! Bukan mereka yang sudah siap tidak menjomblo. Kalimat yang terakhir tidak akan saya bahas.

 Remaja kita mamen yang terpapar bully-an ini. Akibatnya banyak remaja kita yang merasa jomblo itu aib. Saya pernah bertemu remaja umur 15 tahun yang galau tingkat dewa gegara merasa dia nggak laku. Segitunya banget gitu. Payahnya lagi, saat saya berkesempatan ngobrol dengan siswa di sebuah sekolah ternama di Yogya dan saya menceritakan hal ini, mereka bilang, “ya wajar kan mbak kalau dia merasa nggak laku.” Duh, pengen pingsan.

Kenapa gerakan Bully jomblo ini harus disudahi? 

Fenomena yang kemudian hadir di remaja kita adalah Bully jomblo yang tidak punya pacar. See? Kemana arahnya? Susah payah kita mengajarkan pendidikan karakter (duh opo iki), hasilnya zonk hanya gegara gerakan tidak mutu ini. Remaja kita digiring kepada pemahaman, bahwa tidak punya pacar itu aib. Kalau malem minggu dirumah saja itu mengenaskan. Bukan hanya sekedar jomblo itu aib.


 Lalu dimana keinginan untuk berprestasi itu diletakkan? Ketika semua media sosial menuju kearah yang sama?
  
Jadi ingat grup JV (justice voice), terakhir sepanggung dengan mereka tahun 2013 silam. Save our masjid, keep our heart and also selamatkan generasi ini. 

-Catatan random untuk memantik ide selanjutnya- 

Sije