Tampilkan postingan dengan label Perempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perempuan. Tampilkan semua postingan

Senin, Juli 15, 2019

Review Produk Hair Mask Natur Aloe Vera


Jadi, kapan terakhir saya menulis di blog ini? Hehe!
Saya mau pengakuan dosa dulu, jadi sekitar 3 tahun ini saya tengah tersibukkan dengan kegiatan menjadi conten writer salah satu situs web di Yogyakarta. Sebenarnya kewajiban nulisnya tidak banyak, hanya saja saya sok sibuk. Jadi, usai menulis konten untuk web orang lain, tidak menyempatkan diri untuk mengisi rumah sendiri.

Sebagai pemanasan, kali ini saya mau menulis tentang pengalaman saya menggunakan hair mask dari Natur.  Lho kok tiba-tiba saya jadi posting hal-hal berbau perempuan begini? Ya sesekali boleh dong. Seperti namanya, hair mask adalah masker rambut. Bagi yang pernah menggunakan masker untuk wajah, hair mask ini prinsipnya juga sama, namun penggunaannya di rambut. Ingat ya, rambut. Bukan kulit kepala. Lho beda? Ya beda dong. Nanti kita bahas.

Bagi yang sudah kenal dekat dengan saya, atau minimal pernah bekegiatan bareng, pasti tahu kalau bukan tipe saya banget untuk menggunakan aneka ramuan untuk diri.  Alasannya ribet. Alasan lain karena belum cukup yakin dengan produk-produk di pasaran. Apakah benar-benar aman? Apakah benar-benar alami? Sampai akhirnya tanggal 6 Juli 2019 lalu, saya diajak seorang rekan untuk mengenal produk-produk perawatan rambut yang dikeluarkan oleh Natur.


Teman-teman pasti sudah tahu dong brand Natur. Dulu, saya mengenal brand sebagai produsen sampo bau jamu. Hehe! Ya enggak salah kan.Natur sendiri mengakui bahwa awalnya, produk mereka memenag memiliki kelemahan dalam hal bau. Hal ini kemudian menjadi PR besar yang digarap serius. Hasilnya, saat ini produk-produk perawatan rambut oleh Natur, wangi. Tidak kalah dengan produk-produk perawatan rambut lain.

Terkait perawatan rambut, siapa diantara teman-teman yang masih berpedoman bahwa merawat rambut itu cukup keramas saja? Toss dulu kita. Dulu saya pun beranggapan demikian. Tapi sepertinya semenjak mendengarkan penjelasan dari Natur kemarin, saya menjadi lebih tercerahkan. Hehe. Sama halnya seperti wajah kita yang butuh aneka uborampe, begitu pula rambut kita. Apalagi yang pakai jilbab, rambut lebih sering tertutup dibandingkan terbuka. Jadi, mau tidak mau perawatan rambut kudu jadi satu prioritas tersendiri.

Bicara tentang uborampe perawatan rambut, tentu kita lebih suka pilih yang alami dong. Apalagi konon katanya rambut itu mahkotanya perempuan, jangan sampai deh salah pilih produk perawatan rambut yang asal-asalan. Buat yang sama seperti saya, yang selalu pilih yang alami, karena alami lebih baik, Nature Hair Care memberikan rangkaian perawatan rambut. Mulai dari sampo, tonic, dan tentu saja hair mask atau masker rambut.  

Emang produk-produk Natur Hair Care sudah teruji memberikan hasil terbaik. Hmm kalau untuk saya yang sudah mencoba produk-produk Natur Hair Care, rasanya puas. Selain baunya segar baik itu sampo, tonic, maupun hair mask-nya, hair mask Natur juga memberikan efek yang lembut bagi rambut. Dan enggak cuma itu. Bagi para hijaber, pasti salah satu masalah yang sering dihadapi adalah rambut rontok kan? Hair mask Natur khususnya yang varian hair nutritive treatment with aloe vera extract ini juga membantu menutrisi helai rambut, menjaga kesuburan rambut, sehingga rambut tumbuh lebat halus.
Beneran nih? Kalau untuk saya yang baru pertama kali mencoba hair mask Natur sih, khasiat ini terbukti. Meski belum sampai efek jangka panjang, namun efek jangka pendek  melembutkan rambut, sudah cukup terasa. Misalnya nih, biasanya kalau habis keramas lalu sisiran itu kan semacam penebangan pohon alias banyak yang rontok gitu kan. Apalagi kalau sebelum keramas, rambut dalam kondisi kusut. Nah, setelah pakai hair mask Natur, kusut dan rontok setelah keramas ini cukup banyak berkurang. Baunya wangi pula. Wanginya saya suka.

Tertarik untuk mencoba? Saran saya, biar tambah mantap, sebelum menggunakan hair mask, gunakan pula produk shampoo Natur. Usai keramas, ketika rambut masih basah, langsung usapkan hair mask Natur dari pangkal sampai ujung rambut. Karena ini adalah hair mask, jadi tidak perlu sampai ke kulit kepala ya, cukup di rambut saja. Selanjutnya diamkan selama 1-2 menit, lalu bilas. Praktis kan? Untuk hasil lebih maksimal, gunakan pula Natur hair tonic untuk akar rambut lebih kuat.

Masih belum yakin nih, mau lihat-lihat infonya dulu. Hmm boleh, langsung saja follow IG Natur di @backtonatur atau bisa juga kepoin fanpage FB Natur di back to natur. Nanti akanada banyak informasi terkait produk-produk hair care dari Natur. 

Senin, Februari 18, 2019

Apakah Benar Keberhargaan Diri Dihitung dari Bersanding dengan Seseorang?



Credit: Pinterest
Wait! Sebelum banyak yang berpikir tidak-tidak, saya mau bilang saya sedang baik-baik saja. Sungguh. Hanya sedang agak peyok karena tumpukan editan dan deadline tulisan. Tapi itu bukan masalah. Bukankah hal paling menyenangkan itu adalah passion yang dibayar.

Nah belum lama ini saya iseng blogwalking ke sebuah ‘rumah’ orang. Awalnya sih dapat link itu dari rekomendasi orang. Begitu sudah dibaca, saya ketagihan. Orait! Tidak hanya NAPZA saja yang bikin kecanduan. Membaca juga. Dari rumah tersebut saya dapat setidaknya lima ide tulisan dari salah satu kamarnya. Salah satunya tentang ini.

Apakah benar keberhargaan diri dihitung dari bersanding dengan seseorang?

Dulu, saya pernah berpikir akan ‘mengawali’  hidup setelah terikat dengan seseorang. Alasannya simple, ketika belum terikat, seorang perempuan masih belum ‘jelas’. Mau hidup dimana, mau merencanakan seperti apa, bahkan mau bekerja dimana, semua bisa acakadut kembali ketika menggenap. See? Betapa rapuhnya saya? Hahaha! Kalau selama ini saya terlihat kuat dan punya rencana hidup yang jelas, berarti pencitraan saya sukses. *apa lo? Jiakakaka! :-p

Hingga suatu ketika ada seorang teman yang bilang begini, “Bagiku perempuan tetap punya jalan sendiri. Dia tetap berhak atas hidupnya. Sama seperti laki-laki. Sama sajalah.” Lalu saya semacam kegetok. Nah, laki-laki saja mikirnya begitu, kenapa saya jadi perempuan letoy amat ya. Lagi pula, mana ada sih laki-laki cerdas nan menarik akan tertarik dengan perempuan yang bahkan tidak tahu mau ngapain. Jiahah. Orait!

Sebenarnya tidak hanya saya saja yang berpikir seperti itu, perempuan-perempuan di sekitar saya ada beberapa (kalau tidak boleh dibilang banyak), yang berpikir serupa dengan saya. Nanti deh serius dengan hidup kalau sudah menggenap. Sekarang menikmati hidup dulu. Bukan berarti tidak bekerja dan berkarya sama sekali. Namun lebih ke mencari kegiatan yang tidak cukup menghasilkan uang, tapi tetap kaya pengalaman. Kerja-kerja freelance sambil keliling Indonesia misalnya. Ya kami sadar betul, kami belum pol-polan dengan potensi diri. Tapi…nanti kalian takut kalau kami menunjukkan seberapa keren kami. Jangankan menunjukkan sertifikat-sertifikat penghargaan, baru nunjukkin ijazah master aja, sudah pada keder kan? Wkakakaka. Bagian ini rasanya pengen bikin tulisan khusus deh. Hehe!

Nah, kembali ke judul, apa benar keberhargaan diri seorang perempuan dihitung dari bersanding dengan seseorang?
Pertama coba kita ulas dari sisi jomblo, lebih tepatnya perempuan jomblo. Banyak dari mereka kami  yang salah menilai diri sendiri. Merasa tersalip, tertinggal, kecer. Ibarat lomba lari, kami bahkan baru mulai pemanasan, sedang yang lain sudah lari duluan. Belum lama ini ada yang curhat ke saya tentang ini. Padahal, padahal nih, dia ya enggak buruk-buruk amat. Tidak juga kalau dibilang tertinggal. Disaat teman-temannya sudah menimang bayi, dia juga sudah menimang ijazah master. Saat teman-temannya entah menaruh dimana ilmu-ilmu kuliahnya, dia masih tekun membaca jurnal-jurnal yang bagi sebagian orang bikin sakit kepala. Lalu? Dimana letak kalahnya?

Kedua, apa iya kalau belum bersanding dengan kakang prabu, artinya tidak berharga? Haha! Ya ampun bisakah kita berpikir lebih selow duhai perempuan. Saat belum saling menemukan, itu artinya kita masih diberi waktu untuk melakukan apapun yang Allah bolehkan. Jalan-jalan keliling Indonesia misalnya. Ikut konferensi-konferensi untuk bahas nasib umat manusia. Atau merumuskan rencana canggih untuk mencegah meluasnya dampak pemanasan global di dunia. Siapa coba sekarang yang mau bilang kalau aktivis lingkungan nasional atau internasional enggak berharga? Ketinggian? Bhaiq, belajar masak deh paling enggak. Ciptain resep-resep terbaru. Posting di media sosial. Bikin chanel khusus belajar masak. Jadi amal, bahkan bisa jadi duit.

Ketiga, keempat, kelima, kenam dan seterusnya, cari sendiri. Biasain motivasi diri sendiri coba! Hehe! Artinya begini anak muda, usah sakit gigi dan kepala karena perkataan manusia. Apalagi mereka yang bahkan bantu beli beras dan bayar listrik pun enggak. Selama kita terus bergerak ke arah yang lebih baik, selama kita sadar betul bahwa apa-apa yang membuat kita berpikir menjauh dari kebaikan adalah goda syetan, hidupmu masih baik-baik saja. So? Teruslah berjalan.

Lagi pula gengs,  manusia itu kan diciptakan berpasang-pasangan ya. Kalau sampai sekarang kamu pusing tujuh keliling karena belum bertemu kakang prabu, yakinlah dia juga sekarang lagi enggak konsen berperang. Galau juga dia. Haha!

Ngomong gampang ya Je?      
Pfftt..baiklah. Gini deh, dalam hidup ini ada beberapa hal yang memang kita hanya bisa menunggu untuk mendapatkannya. Sambil berusaha tentu saja. Misalnya gini, ada orang yang lapar, maka solusinya adalah makan. Permasalahan selesai. Berbeda dengan misal kita sedang janjian dengan orang lain, maka kita hanya bisa menunggu. Sepenting apapun masalah yang akan diselesaikan, ya hanya bisa dibicarakan saat rekan kita datang kan. Kalau dia tidak kunjung datang, yang kita bisa lakukan hanyalah menunggu sambil sesekali mengirimkan pesan untuk bertanya dia sampai di mana. Nah mudahnya seperti itu. Jadi, untuk apa mengkhawatirkan apa-apa yang sudah Allah jamin? Kita salto pun kalau memang belum waktunya saling menemukan ya tidak akan bertemu.

Lagi pula, menggenap juga bukan jaminan seorang perempuan menjadi lebih berharga. Saya sering menemukan kasus-kasus kekerasan rumah tangga. Seorang laki-laki yang digadang-gadang bisa menyayangi, ternyata malah main hati. Kok kesannya laki-laki yang salah? Hmm bukan begitu, kan ini tulisan versi perempuan. Kasus laki-laki setia tapi perempuan yang nglaba juga enggak kalah banyaknya. Namun meski begitu, bukan berarti usaha menggenap itu lantas dilupakan ya.

Iya tahu, itu adalah ibadah seumur hidup, tapi bukan berarti ketika Allah belum mengijinkan lalu kita terus melupakan hal lain yang nantinya juga akan dimintai pertanggungjawaban. Lagi pula, kalau memang benar semua yang ada di dunia ini adalah titipan, mengapa kita begitu iri ketika belum dititipi?
Jadi? Ayo kembali mengukir berprestasi!
Sije
Bulaksumur, 18 Februari 2019

Menjadi Orang Lain



Credit: Pinterest
Pernah terpikir untuk menjadi orang lain? Sebagai perempuan yang rasanya tidak cukup perempuan, saya sering kali terpikir hal tersebut. Merasa diri tidak cukup layak disebut perempuan. Tidak sholihah. Jauh dari lembut. Cantik? Hmm dikitlah ya. Hehe. Pinter masak? Ya paling enggak cukup aman dan enggak bikin orang keracunan. Masih alhamdulillah saya terlahir dengan warna kulit yang ya lumayan cerahlah. Masih agak menolong untuk menjadi cantik versi orang Indonesia.

Lahir dan besar di suatu daerah yang cukup jauh dari kota membuat saya lebih banyak akrab dengan ‘alam’. Saya menghabiskan masa kecil di sawah bersama lumpur, naik pohon –dari pohon jambu hingga lamtoro yang tumbuh doyong ke sungai, ciblon dari pagi sampai sore, berburu ikan, menyuluh burung puyuh malam-malam, sampai tidur di atas punggung sapi hingga sekian jam. Lebih ekstrim dari itu, saya pernah manjat pohon buah (lupa nama buahnya apa) di kuburan. Ah iya, pernah juga manjat tower sutet (dulu pernah bercita-cita bisa sampai atas haha). Dan semua menjadi aneh ketika masuk kuliah, saya menemui kenyataan bahwa sebagian besar perempuan itu, dandan! Hell! Wuopo iki!?

Bukan berarti saya tidak bisa dandan. Saya pernah pakai lipstik kok. Ya paling enggak 4 kali selama hidup. Pertama saat SD (atau TK ya?) karena diminta baca Pancasila di panggung perayaan kemerdekaan. Kedua waktu  SMP saat nyanyi di perpisahan. Ketiga dan keempat saat wisuda sarjana dan master. Pernah juga luluran dan maskeran. Ya meski setiap beli masker di tukang jamu Pasar Bringharjo, paling hanya dipakai sekali atau dua kali, lalu kadaluarsa karena tersimpan di lemari. Haha! Hmm lotion? Pelembab? Bedak? Punya. Masih cukup perempuan kan? *maksa.

Tapi apa iya menjadi perempuan itu begitu? Apa iya perempuan itu di definisikan sebagai makhluk yang lemah lembut, pintar dandan, jago masak, tidak kepleset kalau pakai heels, manutan, nrimonan, enggak kebanyakan protes, dan segudang karakter lain. Apakah sefana itu?

Belum lagi stereotype gender yang terus membingkai perempuan dalam kodrat-kodrat yang bisa jadi itu hanya adat. Perempuan itu nriman, konco wingking, tidak elok kalau keluar rumah. Alih-alih menuntut ilmu tinggi hingga luar negeri, mengisi training dihadapan lawan jenis saja banyak sekali yang mengecam.

Lalu apa kabar saya yang sejak kelas XI SMA sudah memimpin pasukan pramuka? Yang kalau menyiapkan pasukkan harus teriak sampai manusia satu lapangan dengar semua. Eh sejak SD malah. Juga berkali-kali mengisi acara dimana pesertanya campur antara perempuan dan laki-laki. Jadi saya tidak cukup perempuan nih? Sudah pakai rok kemana-mana lho ini. Jilbab juga segede taplak gini. Pakai kaos kaki, dan insyaAllah menutupi aurat sesuai dengan aturan yang sudah disepakati.

Padahal, kalau lihat sirah shahabiyah, ambil deh Khadijah. Beliau itu juragan, bawahannya banyak yang laki-laki. Siapa yang berani bilang kalau Khadijah kurang perempuan? Atau Aisyah, yang pernah juga berbagi kisah hidup Rosulullah kepada para sahabat Nabi, usai Nabi Muhammad SAW wafat. Oke, memang tidak semua shabiyah seperti Khadijah RA atau Aisyah RA, tapi bukan berarti perempuan juga semuanya harus seperti Fatimah RA, atau Maryam kan?

Artinya, tidak bisakah kita mengembalikan batas definisi antara laki-laki dan perempuan itu kepada paugeran aslinya. Bahwa perempuan itu bukan lagi tentang dapur, sumur, dan kasur. Tentang dapur sendiri, banyak sekali riwayat yang menjelaskan bahwa sebenarnya tugas menyiapkan segala rupa makanan itu adalah tugas laki-laki. No, ini bukan tentang laki-laki melayani perempuan, tapi lebih kepada laki-lakilah yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban atas apa-apa yang masuk ke mulut keluarganya.

Tidak bisakah juga kita melihat perempuan sebagai pribadi yang utuh. Sebagai manusia, yang tidak dinilai dari fisiknya, tapi dari apa yang ada di otaknya. Sama seperti laki-laki yang juga tersinggung kalau dinilai dari tebalnya dompet, perempuan juga risih kalau dinilai dari mulusnya wajah. Minimal, nilai dia dari berapa banyak hafalan, atau berapa banyak sertifikat penghargaan.

Agar apa? Agar tidak ada lagi yang membuat batasan bahwa perempuan sejati adalah yang begitu dan begini. Agar kita sebagai manusia bisa dinilai sebagai manusia seutuhnya. Bukan tentang polesan dunia yang nilainya tak seberapa. Tapi sebanyak apa manfaat untuk sesama dan bekal untuk kehidupan yang kedua.

Sije

Bulaksumur,18 Februari 2019

Senin, Februari 20, 2017

Foto Dulu, Foto Lagi, dan Foto Terus

Credit here
Teknologi memang seperti pisau bermata dua. Satu sisi bisa menjadi manfaat, namun disisi lain juga bisa menjadi bumerang yang mampu menghancukan penggunannya. Salah satu teknologi yang saat ini banyak digunakan oleh masyarakat adalah handphone a.k.a Hp.

Sekarang ini hampir semua lapisan masyarakat mempunyai handphone. Mulai dari masyarakat pedesaan hingga perkotaan. Tidak tanggung-tanggung, bukan hanya untuk telfon dan sms namun juga dilengkapi fitur kamera. Teknologi komunikasi memang berkembang cukup pesat, yang awalnya hanya handphone biasa, kini sudah muncul yang namanya smartphone. Fitur yang ditawarkan beragam, mulai dari kamera dengan hasil gambar yang jelas, hingga aplikasi media sosial yang bisa langsung diakses kapan saja.

Kemudahan yang diberikan oleh smartphone ini kini membawa tuah. Banyak remaja kita yang sekarang dijangkiti virus foto selfie. Dimana saja dan kapan saja foto selfie tidak pernah terlupa. Saat menunggu antrian, selesai sholat tarawih, waktu pergi ke tempat wisata, disemua tempat yang dilalui dan disinggahinya. Moto yang digunakan, foto dulu, foto lagi, dan foto terus.

Fenomena ini tidak hanya berhenti sampai foto saja, setelah foto selfie, hal reflek yang banyak kita lakukan adalah mengunggahnya di sosial media. Berburu like dan komentar. Ada rasa jumawa bila banyak yang like atau memberikan komentar. Niat awal yang hanya sekedar mengunggah foto kini menjadi niat ingin mendapat banyak pujian dan like.

Fenomena ini mau tidak mau harus mendapat porsi tersendiri untuk ditangani. Sebab, virus ini katanya banyak menjangkiti para muslimah yang konon fitrahnya bermahkotakan rasa malu. Syetan dengan halusnya memberikan bujuk rayu agar senang foto, senang pamer, dan akhirnya mengharap pujian dari orang lain.

Pada beberapa kelompok ada yang sebenarnya tidak ada niatan untuk pamer foto, namun tidak menyadari bahwa foto yang diunggahnya ke sosial media tanpa manfaat yang mendesak justru membuat mudhorot bagi orang lain. Banyak muslimah yang bersungut-sungut tak suka ketika ada laki-laki yang menggodanya. Namun diwaktu yang sama masih sering kali mengunggah foto selfie cantiknya. Bersembunyi di belakang kalimat, “ah…salah sendiri tidak bisa jaga mata”. Kepada kita yang masih seperti ini, ada sebuah nasehat.

Kita tidak pernah tahu kondisi iman saudara kita. Maka tugas kitalah untuk saling menjaga iman saudaranya yang lain. Salah satunya adalah dengan tidak melakukan hal-hal yang justru membuat iman mereka turun. Bagaimana kalau ternyata foto-foto kita lah yang selama ini membuat rontok iman mereka?

Lalu apakah muslimah tidak boleh berfoto?
Ulama masih berbeda pendapat tentang ini. Namun kalau pun berpegangan dengan pendapat ulama yang memperbolehkan foto, alangkah baiknya foto-foto itu disimpan sendiri, untuk konsumsi pribadi. Tak perlulah diunggah ke sosial media. Bukankah setiap apa yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban nantinya. Pun diunggah, seperlunya saja. Sebutuhnya. Tentu saja kebutuhan eksis seorang public figure berbeda dengan ibu rumah tangga biasa.

Satu yang jauh lebih penting dari semuanya adalah, apa jawaban kita atas foto-foto yang beredar di dunia maya?


Sije

Perempuan, Laki-laki dan Foto

Credit here
Tulisan ini, catatan ke-101 di facebook saya. Mau berteman, silakan berkunjung dimari.

Semakin hari, saya semakin menikmati dunia perempuan. Banyak hal yang menarik, meskipun banyak hal yang kontroversial. Apalagi tradisi kita di Indonesia kebanyakan menggunakan 'Patriarki'. Seolah Perempuan itu tidak ada ruang untuk aktualisasi diri. Hal ini membuat saya semakin penasaran. Benarkah? Mungkin karena saya lahir di keluarga tanpa anak laki-laki. Jadi saya tidak melihat perbedaan bagaimana bersikap kepada anak laki-laki dan kepada anak perempuan. 

Berbicara tentang laki-laki dan perempuan, saya jadi teringat sesuatu. Beberapa waktu lalu ada seseorang bertamu ke rumah (kontrakan) saya. Teman dulu di organisasi saat kuliah. Beliau menyampaikan sebuah titipan dari seseorang. Lalu mulailah kita ngobrol ngalur ngidul, saling bertukar kabar teman-teman lama. Hingga akhirnya kita sampai pada bahasan interaksi antara laki-laki dan perempuan. Saya masih ingat, saat itu saya menanyakan nama seseorang, 

"Kenal sama si X nggak?"

"Iya kenal, kenapa? Nggak beres ya. Iya itu sudah banyak yang menasehati kok. Sudah ditanting juga. Tapi dianya nggak berani". 

Lalu teman saya bertanya, 

"Kenal sama ini?" Dia menyebutkan nama seseorang. Perempuan. 

"Oh, nggak. Kenapa?"

"Nggak apa-apa" Jawabnya. 

Bukan saya kalau nggak penasaran dengan apa yang saya dengar setengah. Saya search FB dengan nama yang disebutkan teman saya itu. Kebetulan banyak mutual friend. Jadi tidak sulit mencarinya. Sekilas tidak ada yang aneh. Biasa saja. Mbaknya cantik. Ya namanya juga perempuan, pasti cantik kan. Lalu saya mulai mengepo foto profile-nya. 

WAOW! 

Saya menemukan beberapa eh banyak fotonya. Berjilbab syar'i. Tertutup rapat. Hmm meskipun dengan wajah close up. Saya sendiri sebagai perempuan risih. Fotonya sangat close up dan dengan berbagai macam gaya. Saya bukan ahli tafsir memang. Jadi saya juga kurang tahu apa hukum pastinya yang kayak gitu. Foto syar'i tapi close up. Ah, kalau ada salah satu pembaca yang tahu, silahkan komen. :) 


Lebih-lebih ada begitu banyak komentator mengerubungi foto-foto itu. Sebagian besar laki-laki. Ikhwan, ah mungkin masih bakwan kali ya. Bakal ikhwan, atau mungkin itong, ikhwan sepotong. Pokonya berjenis kelamin laki-laki. 

Komennya beragam, mulai dari:

"Subhanallah"

"Cantiknya"

"Kenalan donk"

"Kalau punya istri seperti ini...."

"Wajah bidadari" 

Sampai,

"Mbak, boleh minta fotonya?" 

Lalu kalau sudah begini, siapa yang harus evaluasi diri? Hanya perempuan kah? Kan perempuan yang mancing-mancing. Kalau nggak dipancing, laki-laki juga nggak tergoda buat lihat. Apalagi itu di upload di FB. Terbuka untuk umum kan berarti. 

Atau harus laki-laki saja yang mengevaluasi diri?

Dasar laki-laki. Matanya jelalatan kemana-mana. Kalau lihat cewek cantik, apalagi akhwat, pengennya dideketin. PDKT lewat facebook. Komen-komen nggak jelas. Semua status di-like. 

Lalu ditutuplah dengan dengan sebuah kalimat. 

Perempuan dimana-mana sama saja. Tukang menggoda!!

dan 

Laki-laki dimana-mana sama saja. Mata keranjang!! 

Jadinya salah semua nih? 


Kalau katanya Pak Jalal di Para Pencari Tuhan sih, laki-laki menahan, perempuan menjaga. 

Sije

Kenapa Harus Hijab

Credit here
Mumpun lagi on tentang hijab day, jadi pengen nulis agak panjang tentang fenomena ini.  Hmm…sebelumnya mari kita samakan frame kita dulu, bahwa hijab day ini bukan berarti cuma  pakai hijab saat hari itu, namun setiap hari kudu pakai hijab terutama kalau ketemu yang bukan mahram (remember, mahram not muhrim).

Banyak yang bilang kayak gini,

“Ah mending jilbabin hatinya dulu. Baik-baikin sikap dan sifat, baru deh jilbabin kepala.”

Ah masa iya?

Bagi saya sebagai perempuan ketika mendengar kalimat itu, ini adalah manifestasi rasa malas (ups) dan tidak berani ambil resiko. Yap, apapun ada resikonya. Kenapa saya berani mengatakan seperti itu? Saya perempuan dan saya tahu rasanya. Ada yang tidak beres ketika lebih memilih untuk terbuka dari pada terjaga. Dimana pun dan siapapun ketika hati dalam kondisi baik, dan ruhiyah dalam kondisi terjaga (tilawah beres, sholat malam oke, sholat wajib on time dll) tidak akan merasa nyaman ketika dirinya dalam kondisi ‘terbuka’ dan menarik perhatian. Ini serius. Hal ini akan sangat berbeda saat hati sedang brekele dan ruhiyah awut-awutan (tilawah bolong-bolong, sholat tahajud lewat, sholat wajib molor dll), namanya pujian apalagi dari lawan jenis itu seperti ah begitulah.  Manis tapi bikin diabetes. :p

Kenapa harus hijab?

Banyak sebab dan hikmahnya. Pertama jelas karena ini wajib. Tapi ini bukan semata sebuah paksaan. Pokoknya wajib! Ada banyak hikmahnya kok. Beneran. Misalnya lebih mudah dikenali. Apanya yang dikenali? Identitasnya sebagai muslimah.

Pernah bingung menilai seseorang? Misal saat pertama kali berkenalan dengan seseorang. Perempuan tidak berhijab, tapi kalau telfon pakai kata assalamu’alaykum, atau kadang mengucapkan Alhamdulillah. Apalagi di jaman sekarang ini Assalamu’alaikum seolah menjadi salam yang universal, sama seperti Alhamdulillah, masya’ Allah, In Sya Allah dll. Tidak jarang teman-teman kita yang non muslim menggunakan kata-kata itu. Meskipun ini seharusnya tidak seharusnya mereka lakukan.  Nah sebagai seorang muslimah kita harus bisa membedakan mana yang sesama muslimah dan tidak, sebab aurat kita tidak boleh terbuka di depan perempuan non muslim.

Hikmah lain, agar tidak diganggu.  Masa sih? Nyatanya banyak tuh mbak-mbak pake jilbab yang digangguin.

Kalau memang masih ada mbak-mbak pakai jilbab yang masih digangguin, hal ini ada dua kemungkinan, pertama cowoknya yang minta dimasukkin botol (om jin kaleee :p), kedua mbaknya yang masih belum cukup terjaga. Belum cukup terjaga disini bisa jadi karena sengaja (ada lho) atau karena ketidak tahuan.

Hikmah yang lain? Banyak. Lebih asyik kalau dibahas di room khusus perempuan. Bukan di media sosial umum seperti ini.

Jadi jilbabin mana dulu nih?

Tidak ada yang lebih dulu. Pakai jilbab itu wajib, berbuat baik itu wajib. Jadi kalau pertanayaannya jilbabin mana dulu, keduanya, bersamaan. Kapan? Segera dan secepatnya.

Begini guys, setiap kita dilahirkan seperti koin (gepeng dong je? :p), Ada sisi cakep dan ada sisi brekelenya. Tiap kita pun tahu apa sisi brekele dari diri masing-masing. Artinya, selamanya kita tetap punya sisi itu. Kalau menunggu sisi cakep semua yang muncul, keburu mati. :D

Oke saya tidak akan mencontohkan orang lain, saya akan mencontohkan diri saya sendiri. Dulu, nggak ada tuh kepikiran bakal pakai jilbab, apalagi pakai rok. Duh ribet. Kagak bisa manjat pohon, nendang samsak, naik gunung,  apalagi kebut-kebutan. :p

Tapi skenario Allah itu, luar biasa kerennya. Hidayah itu turun dengan sangat halus (ya ada sisi malu-maluinnya juga sih-tidak akan saya tulis disini). Dan saat ini kalau saya harus melihat ulang sejarah hidup, saya berasa manusia paling alay.

Saat SMP, saya punya gank. Cewek semua. Tiap pagi hobinya nongkrong di deket parkiran sepeda. Duh berasa tukang parkir aja. Ngapain disana? Ngecengin ABG (pas itu saya kan juga masih ABG) :p.  Pokoknya nggak ada tuh bau-bau sholehahnya.

Masuk SMA semua berbalik arah. Dari semua anggota gank, saya menjadi orang paling nyeleneh.  Yang awalnya anti rok, mendadak pakai jilbab dan tentu saja pakai rok. Ajaibnya, di kelas saya cuma diri seorang ini yang pakai jilbab. Kehidupan berputar. Dulu yang awalnya alay suka ngecengin ABG, sekarang kapok. Soalnya dikecengin itu ternyata nggak asik. Ada orang orang yang ngelihatin tuh bikin risih.

Daann sejak saat tu saya mulai mengenal sisi brekele saya. Sampai sekarang masih banyak sisi brekelenya dari pada sisi cakepnya sih. :p. Cuma lebih bisa memilih apa yang boleh tampak dan mana yang hanya orang tertentu saja yang boleh tahu. Termasuk sisi brekele itu tadi.

Lalu hubungannya dengan jilbab?

Jilbab membuat pemakainya menyadari akan kewajibannya. Kalau apa yang saya alami adalah merasa harus jadi yang lebih baik saat sudah mengenakan jilbab. Artinya keduanya saling berikatan dan saling menunjang. Misal, nggak mungkin lagi donk manjat pohon di depan umum :p. Contoh lain tentang dorongan untuk belajar menyanyi, yap meskipun dulu pernah punya tim nasyid, tapi hal yang kemudian semakin saya sadari adalah suara ini bukan untuk konsumsi publik.  Cukup para cicak di kamar pingsan saat mendengarnya :D.

Bisa dibayangkan kalau hidayah itu tidak datang? Mungkin saat ini saya sudah jadi DJ dan hobi nongkrong lewat tengah malam. Atau malah lebih brekele dari itu.

Terakhir, yuk pakai jilbab dan hijab. Keduanya tidak membatasi kok. Suer. Kamu masih bisa melakukan apapun (selama itu baik). Naik gunung, nendang samsak (bela diri), manjat pohon, masak, menulis, mengajar, all. Hanya saja, pahami dimana tempatnya dan seperti apa kondisinya. Kalau saya bisa, berarti kamu pun bisa.


Senorita
Sudah 46 hari terlewati, apa saja yang sudah terjadi?
Arumdalu 15 februari 2015
09.43