Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan

Senin, Februari 18, 2019

Apakah Benar Keberhargaan Diri Dihitung dari Bersanding dengan Seseorang?



Credit: Pinterest
Wait! Sebelum banyak yang berpikir tidak-tidak, saya mau bilang saya sedang baik-baik saja. Sungguh. Hanya sedang agak peyok karena tumpukan editan dan deadline tulisan. Tapi itu bukan masalah. Bukankah hal paling menyenangkan itu adalah passion yang dibayar.

Nah belum lama ini saya iseng blogwalking ke sebuah ‘rumah’ orang. Awalnya sih dapat link itu dari rekomendasi orang. Begitu sudah dibaca, saya ketagihan. Orait! Tidak hanya NAPZA saja yang bikin kecanduan. Membaca juga. Dari rumah tersebut saya dapat setidaknya lima ide tulisan dari salah satu kamarnya. Salah satunya tentang ini.

Apakah benar keberhargaan diri dihitung dari bersanding dengan seseorang?

Dulu, saya pernah berpikir akan ‘mengawali’  hidup setelah terikat dengan seseorang. Alasannya simple, ketika belum terikat, seorang perempuan masih belum ‘jelas’. Mau hidup dimana, mau merencanakan seperti apa, bahkan mau bekerja dimana, semua bisa acakadut kembali ketika menggenap. See? Betapa rapuhnya saya? Hahaha! Kalau selama ini saya terlihat kuat dan punya rencana hidup yang jelas, berarti pencitraan saya sukses. *apa lo? Jiakakaka! :-p

Hingga suatu ketika ada seorang teman yang bilang begini, “Bagiku perempuan tetap punya jalan sendiri. Dia tetap berhak atas hidupnya. Sama seperti laki-laki. Sama sajalah.” Lalu saya semacam kegetok. Nah, laki-laki saja mikirnya begitu, kenapa saya jadi perempuan letoy amat ya. Lagi pula, mana ada sih laki-laki cerdas nan menarik akan tertarik dengan perempuan yang bahkan tidak tahu mau ngapain. Jiahah. Orait!

Sebenarnya tidak hanya saya saja yang berpikir seperti itu, perempuan-perempuan di sekitar saya ada beberapa (kalau tidak boleh dibilang banyak), yang berpikir serupa dengan saya. Nanti deh serius dengan hidup kalau sudah menggenap. Sekarang menikmati hidup dulu. Bukan berarti tidak bekerja dan berkarya sama sekali. Namun lebih ke mencari kegiatan yang tidak cukup menghasilkan uang, tapi tetap kaya pengalaman. Kerja-kerja freelance sambil keliling Indonesia misalnya. Ya kami sadar betul, kami belum pol-polan dengan potensi diri. Tapi…nanti kalian takut kalau kami menunjukkan seberapa keren kami. Jangankan menunjukkan sertifikat-sertifikat penghargaan, baru nunjukkin ijazah master aja, sudah pada keder kan? Wkakakaka. Bagian ini rasanya pengen bikin tulisan khusus deh. Hehe!

Nah, kembali ke judul, apa benar keberhargaan diri seorang perempuan dihitung dari bersanding dengan seseorang?
Pertama coba kita ulas dari sisi jomblo, lebih tepatnya perempuan jomblo. Banyak dari mereka kami  yang salah menilai diri sendiri. Merasa tersalip, tertinggal, kecer. Ibarat lomba lari, kami bahkan baru mulai pemanasan, sedang yang lain sudah lari duluan. Belum lama ini ada yang curhat ke saya tentang ini. Padahal, padahal nih, dia ya enggak buruk-buruk amat. Tidak juga kalau dibilang tertinggal. Disaat teman-temannya sudah menimang bayi, dia juga sudah menimang ijazah master. Saat teman-temannya entah menaruh dimana ilmu-ilmu kuliahnya, dia masih tekun membaca jurnal-jurnal yang bagi sebagian orang bikin sakit kepala. Lalu? Dimana letak kalahnya?

Kedua, apa iya kalau belum bersanding dengan kakang prabu, artinya tidak berharga? Haha! Ya ampun bisakah kita berpikir lebih selow duhai perempuan. Saat belum saling menemukan, itu artinya kita masih diberi waktu untuk melakukan apapun yang Allah bolehkan. Jalan-jalan keliling Indonesia misalnya. Ikut konferensi-konferensi untuk bahas nasib umat manusia. Atau merumuskan rencana canggih untuk mencegah meluasnya dampak pemanasan global di dunia. Siapa coba sekarang yang mau bilang kalau aktivis lingkungan nasional atau internasional enggak berharga? Ketinggian? Bhaiq, belajar masak deh paling enggak. Ciptain resep-resep terbaru. Posting di media sosial. Bikin chanel khusus belajar masak. Jadi amal, bahkan bisa jadi duit.

Ketiga, keempat, kelima, kenam dan seterusnya, cari sendiri. Biasain motivasi diri sendiri coba! Hehe! Artinya begini anak muda, usah sakit gigi dan kepala karena perkataan manusia. Apalagi mereka yang bahkan bantu beli beras dan bayar listrik pun enggak. Selama kita terus bergerak ke arah yang lebih baik, selama kita sadar betul bahwa apa-apa yang membuat kita berpikir menjauh dari kebaikan adalah goda syetan, hidupmu masih baik-baik saja. So? Teruslah berjalan.

Lagi pula gengs,  manusia itu kan diciptakan berpasang-pasangan ya. Kalau sampai sekarang kamu pusing tujuh keliling karena belum bertemu kakang prabu, yakinlah dia juga sekarang lagi enggak konsen berperang. Galau juga dia. Haha!

Ngomong gampang ya Je?      
Pfftt..baiklah. Gini deh, dalam hidup ini ada beberapa hal yang memang kita hanya bisa menunggu untuk mendapatkannya. Sambil berusaha tentu saja. Misalnya gini, ada orang yang lapar, maka solusinya adalah makan. Permasalahan selesai. Berbeda dengan misal kita sedang janjian dengan orang lain, maka kita hanya bisa menunggu. Sepenting apapun masalah yang akan diselesaikan, ya hanya bisa dibicarakan saat rekan kita datang kan. Kalau dia tidak kunjung datang, yang kita bisa lakukan hanyalah menunggu sambil sesekali mengirimkan pesan untuk bertanya dia sampai di mana. Nah mudahnya seperti itu. Jadi, untuk apa mengkhawatirkan apa-apa yang sudah Allah jamin? Kita salto pun kalau memang belum waktunya saling menemukan ya tidak akan bertemu.

Lagi pula, menggenap juga bukan jaminan seorang perempuan menjadi lebih berharga. Saya sering menemukan kasus-kasus kekerasan rumah tangga. Seorang laki-laki yang digadang-gadang bisa menyayangi, ternyata malah main hati. Kok kesannya laki-laki yang salah? Hmm bukan begitu, kan ini tulisan versi perempuan. Kasus laki-laki setia tapi perempuan yang nglaba juga enggak kalah banyaknya. Namun meski begitu, bukan berarti usaha menggenap itu lantas dilupakan ya.

Iya tahu, itu adalah ibadah seumur hidup, tapi bukan berarti ketika Allah belum mengijinkan lalu kita terus melupakan hal lain yang nantinya juga akan dimintai pertanggungjawaban. Lagi pula, kalau memang benar semua yang ada di dunia ini adalah titipan, mengapa kita begitu iri ketika belum dititipi?
Jadi? Ayo kembali mengukir berprestasi!
Sije
Bulaksumur, 18 Februari 2019

Hmmm…Cari yang seperti Apa?



Credit: Pinterest
Sebagai perempuan yang masih berstatus single happy, saya beberapa kali ‘survey’ kepada teman-teman perempuan  saya, tentang menggenap. Pertanyaan random gitu. Mulai dari bagaimana perempuan (istri) yang ideal, hingga kriteria suami seperti apa yang mereka idamkan. Kadang kalau oke, saya contoh juga. Lumayan kan jadi referensi. Haha! Enggak ding! Bercanda.

Sebenarnya saya ingin bertanya juga versi kebalikannya. Dari sisi laki-laki bagaimana sih. Tapi semakin ke sini saya justru semakin tidak berani. Khawatir dikira lempar kode. Siapalah saya, mana berani lempar kode segala. 

Nah bicara tentang kriteria. Ehem. Dilarang baper dan mikir tidak-tidak ya gaes. Sungguh saya sedang baik-baik saja. Kalau pun agak error, saya sebenarnya hanya sedang pusing mikir ide tulisan apalagi buat memenuhi kuota 60 tulisan setiap bulan. Biar gajianya bisa buat jalan-jalan. Kembali ke kriteria, kadang saya kalau usilnya kambuh (hem sering kambuhnya sih), ketika ada orang bertanya, “Kapan nikah?”, tanpa ragu saya akan bilang, “Sini bawain calon. Kalau oke, besok juga boleh.” Jiakaka. Tapi mereka juga enggak kalah usil sih. “Hem.. nyariin buat kamu tuh susah,”. Dih, minta dilempar sanggul mereka tuh, nanya kriteria aja nggak pernah, tapi bilang susah. 

Bicara tentang kriteria, saya menemukan banyak (atau boleh disebut beberapa) perempuan yang justru bingung ketika ditanya. Paling mentok jawabannya adalah sholih dan tidak merokok. Padahal kata ‘sholih’ sendiri kan bisa dijabarkan dalam berbagai definisi. Saya mungkin justru takut dengan mereka yang lurus banget, mengharamkan musik, anti bioskop, ngomongnya pakai ana-antum. Tapi bagi sebagian lain, justru yang begitu itu yang gebetable. Atau bisa jadi ada yang takut dengan mereka yang tampilannya macam enggak mandi tiga hari, ngomong seenaknya (masih dalam koridor sopan santun), juara usil tingkat kabupaten, rada urakan tapi kalau tahajud nangisan, suka nonkrong di warung kopi, tapi masih cinta sama ibu dan NKRI. Sedangkan, bagi manusia semacam saya, bentuk-bentuk begini ini lucu sekali.

Nah kan, bisa berbagai macam arti kan. Maka disinilah perlunya menuliskan detail sholih itu seperti apa. Hal ini berlaku pula untuk sebaliknya (sholihah itu seperti apa). Bahkan ketika sudah sangat detail sekali pun, banyak juga ‘mak comblang’ yang salah paham. Tentang ini kapan-kapan deh saya tulis terpisah.

Lalu? Ada tips apa Je?
Begini, ketika ingin pergi ke sebuah tempat, dan di terminal ada dua bus, satu ekonomi dan satu eksekutif AC, mau pilih yang mana? Kondisinya sedang punya uang berlebih nih. Bisa beli tiket keduanya? Pilih yang eksekutif AC karena nyaman? Atau pilih yang ekonomi karena enggak tahan dengan dinginnya AC?

Kalau saya, pilih yang tujuannya sesuai dengan tempat yang akan saya kunjungi. Kalau memang diantara dua bus tadi tujuannya berbeda dengan saya, ya saya tidak ikut naik. Tunggu bus selanjutnya. Get the poin? Jadi disinilah pentingnya mengenali diri. Mau ngapain aja sih selama hidup ini. Sekedar ikuti air mengalir? Ngikut arus weh enggak perlu mikir pusing? Padahal hanya ikan mati lho yang ikut aliran air.

Saya beberapa kali menemukan teman-teman hebat saya tidak menjadi apa-apa setelah menikah. Entah mengapa, tapi bisa jadi karena dia salah memilih bus tadi. Namun bisa jadi karena sebab lain. Sayangnya, menikah tidak sesimple naik bus yang ketika kita sadar bahwa kita salah tujuan, maka kita bisa turun di tengah jalan. Lebih rumit. Apabila ingin mengembalikan ke tujuan yang kita inginkan, kita harus bisa menjadi supir bus. Mengendalikan arah laju, yang tentunya butuh kemampuan khusus. Jauh lebih penting lagi adalah, mampu mengarahkan penumpang yang ada di belakang kita untuk mau mengamini dan mengikuti tujuan kita. Lalu sebagai perempuan yang hidup di Negara yang kental akan patriarkinya, menjadi supir bus tentu bukan pilihan mudah untuk diambil. Ada yang harus ditaati bukan?  

Jadi harus bagaimana Je?
Sudah kenalan dengan dirimu sendiri? Mau kemana? Mau dikenal sebagai orang seperti apa? Mau bermanfaat seluas apa? Lalu dengan segala yang sudah tertulis itu, kira-kira orang seperti apa yang bisa membantumu? Minimal ketika dia tidak bisa mendukung banyak, dia tidak melarang. Ini penting untuk perempuan. Sebab setelah terikat, maka ada kepatuhan kepada manusia yang hanya boleh dilanggar ketika dia sudah tidak takut dengan Tuhannya.
Sije
Arumdalu, 16 Februari 2019

Senin, Februari 20, 2017

Hari Gini Tanya Kapan Nikah? Kuno!

Credit here
Kita hidup di negeri yang penuh bully. Mau salah atau benar, tidak ada yang luput dari ‘dunia perbullyan’. Satu hal yang sering dijadikan tema bully adalah nikah, dan ini erat kaitannya dengan jomblo. Dua hal ini menjadi trending topik paling atas dalam ‘dunia perbullyan’. Kaum jomblo seolah menjadi sasaran empuk untuk ‘dibabakbelurkan’. Kadang tidak hanya mereka yang memang sengaja ‘sorangan wae’ kena getahnya. Mereka yang menjaga untuk tidak pacaran atau sedang dalam rangka memperbaiki diri juga sering kena bully.

Bagi yang tidak tahan, biasanya menarik diri dari lingkungan. Bosan ditanya kapan nikah. Mencari komunitas yang bernasib sama. Menjauh dari keluarga besar, karena tidak kuat menahan kuping yang memerah akibat ‘cibiran’ yang kadang serasa tidak sengaja namun membiasa.

Siapa pula yang tahan bila setiap hari ditanya hal yang sama. Padahal jelas tahu kalau sedang berusaha mewujudkannya. Parahnya lagi tidak jarang diikuti dengan cerita untuk menakut-nakuti, mulai dari perawan tua, hingga mati tanpa sempat mendua. Sebal? Sama!  

Bullyan ‘kapan nikah’ sekarang ini membudaya. Bukan hanya di pertemuan keluarga, reuni TK pun juga banyak yang bertanya. Padahal bila mau sedikit saja peka, apakah bullyan semacam itu merupakan sebuah prestasi? Mungkinkah itu memberikan solusi? Atau justru malah sebaliknya, semakin memperkeruh suasana dan merenggangkan persaudaraan antar sesama.
Bila kita mau berkaca pada Alquran dan hadits Nabi, pasti bullyan semacam ini tidak akan ada.
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al Hujuraat 10)

Hadis riwayat Nukman bin Basyir RA, ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam. (HR.Muslim)

Hadis riwayat Abu Musa RA dia berkata:
Rasulullah SAW bersabda: Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan di mana bagiannya saling menguatkan bagian yang lain. (HR. Muslim)

Allah sudah memberikan perintah sejak dahulu bahwa sesama muslim adalah saudara yang harus saling kasih mengasihi. Sepenanggungan. Bila satu tersakiti, maka yang lain pun merasa tersakiti. Lalu bila hampir setiap hari kita membully saudara kita tanpa memberi solusi, apakah bisa kita disebut orang-orang yang beriman?

Bukankah lebih menyenangkkan bila pertanyaan, “Kapan nikah?” diganti dengan, “Mau yang seperti apa? Sini saya bantu cari.” Bukan membully tapi memberi solusi.


Hari gini masih tanya kapan nikah? Kuno!

Kamis, Februari 09, 2017

Salah Fokus

Credit here
Beberapa waktu yang lalu sempat kelimpungan menghadapi sahabat sekaligus saudara yang tak kunjung move on dari masalahnya. Sepele namun baginya langit serasa runtuh menimpa kelapanya. Melihat orang lain lebih beruntung darinya. Merasa hidupnya paling menderita. Itu semua hanya karena satu hal, PHP. Yap, dia merasa diberi harapan palsu oleh seseorang.

Beberapa bulan yang lalu dia berkenalan dengan seorang laki-laki. Baik budinya, santun perangainya. Kebetulan keduanya bekerja pada bidang yang sama. Jadi apapun yang mereka obrolkan selalu nyambung. Ibarat tutup bertemu dnegan botol. Sudah paslah.
Suatu ketika di laki-laki ini ijin untuk bertamu kerumah. Hanya sekedar bertamu tanpa maksud apapun. Tapi bagi si perempuan ini seperti sebuah sinyal menuju hubungan yang lebih baik. Saudara saya itu memberikan ijin.

Datanglah si laki-laki ke rumahnya. Mereka ngobrol kesana kemari. Asik sekali. Besok-besoknya, hampir setiap hari si laki-laki menghubunginya via sms atau WhatsApp, obrolan mereka pun terus berlanjut. Kedekatan terus terbangun antara keduanya. Namun tidak ada kejelasan. Ya hanya sekedar dekat namun tidak jelas mau apa. Saudara saya itu terlanjur menaruh harapan, padahal si laki-laki entah bisa diharapkan atau tidak.

Hingga tiba masa keduanya memasukki umur siap menikah. Sahabat saya itu merasa ada hubungan spesial antara keduanya. Ada sedikit harapan untuk benar-benar bersatu, bukan hanya sekedar berteman dan selesai. Mau bertanya, takut tidak sopan dan ahsan. Sedang Si laki-laki entah, tidak pernah memberikan kejelasan.

Sahabat saya ingin segera menikah. Namun diwaktu yang sama dia bingung, seperti apa kejelasan hubungan antara keduanya. Benih harapan itu telah menyubur dan berkembang. Beberapa orang menawarkan diri untuk mencarikan calon, namun tidak kunjung ada yang pas. Sahabat saya itu juga masih belum rela bila harus bersanding dengan orang lain.

Waktu berlalu hanya untuk menekuri hal-hal yang tidak jelas. Banyak yang menyarakan untuk memperjelas, namun pada kenyataannya tidak ada yang abu-abu. Si laki-laki tidak pernah sekalipun menjanjikan pelaminan kepadanya.

Hal yang bisa kita ambil dari kisah diatas adalah, salah fokus. Terlalu melihat apa yang belum menjadi rejekinya. Padahal di waktu yang sama ada banyak hal yang bisa dikerjakan. Ada begitu banyak masalah ummat yang harus diselesaikan. Lupa bahwa ada banyak hal yang sedang Allah persiapkan untuknya. Hingga tibalah waktu itu, saat dia meletakkan semuanya. Memasrahkan semuanya kepada Allah. Berpaling dari apa yang selama ini dia fokus kepadanya. Allah memberikan rejeki yang selama ini ditunggunya. Seorang laki-laki baik, yang tanpa pendekatan berlebihan, datang dengan niat baik. Semua itu hanya berjarak tidak sampai satu bulan semenjak dia kembalikan semuanya kepada Allah.

Sering kita seperti itu, terlalu fokus dengan satu hal namun melupakan hal-hal lain yang lebih bermanfaat. Tidak mau melepaskan satu hal, padahal sudah jelas itu tidak manfaat untuk kita. Hanya takut kehilangan dan tidak ada yang datang lagi. Kita terlalu fokus dnegan apa-apa yang akan kita lepaskan. Menganggap itu paling baik, lupa bahwa Allah yang lebih tahu yang terbaik untuk ummatnya. Padahal Allah sudah berjanji, bahwa melepaskan apa-apa dengan diniatkan untuk Allah, maka Allah akan menggantinya dengan ganti yang lebih baik.

Maka, sejak saat ini mari sama-sama berjanji untuk mendahulukan Allah atas niat-niat yang ada dalam hati.
Sije
Sebab Allah akan meminta semuanya darimu

Termasuk menjadi nomor satu

Sekolah Tiga Bulan

Credit here
Seorang ustadz dalam sebuah forum kajian tetiba melayangkan sebuah pertanyaan, “Umur berapa sekarang anak-anak mulai sekolah?”

Para peserta forum bergumam, ada yang menjawab 5 tahun sudah masuk SD. Peserta lain mengatakan 4 tahun sudah boleh masuk Taman Kanak-Kanak. Lebih ekstrim lagi ada peserta yang menjawab, 2 tahun sudah boleh ikut PAUD atau Taman Bermain.
Jawaban sang ustadz diluar perkiraan.

“Salah! Saat ini tidak hanya hitungan tahun yang digunakan namun juga hitungan bulan. Saya beberapa kali menemukan ibu muda yang bekerja menitipkan anaknya yang baru saja berumur 3 bulan ke Tempat Penitipan Anak (TPA).”

Sebagian peserta forum tertampar. Menunduk dalam-dalam. Beberapa seolah tersentak, menyadari hal yang selama ini tidak pernah dipikirkannya. Sambil manggut-manggut, raut wajah mereka seolah berkata, “Oh iya ya.”

Menyedihkan kalau kita melihat fenomena yang terjadi saat ini. Seperti lingkaran yang saling menghubungkan satu sama lain. Ketika ibu harus bekerja maka masa keemasan anak yang menjadi taruhannya. Ruwet seperti benang yang saling bersilangan.

Kesadaran kebanyakan perempuan saat ini belum terbentuk. Banyak perempuan yang saat belum menikah, tidak mempersiapkan diri menjadi ibu. Akhirnya siap menikah (baca: tidak siap menjadi jomblo), namun belum terpikir konsekwensi setelahnya. Hingga kemudian mimpi yang dibangun adalah, seteleh menikah ya tetap kerja full time. Terlebih lagi bila sang suami dirasa belum berpenghasilan yang berlebih. Mind set bahwa kebutuhan dua orang itu lebih besar dibandingkkan satu orang terus menghantui. Anak? Kan ada tempat penitipan.

Lebih menggiurkan lagi, saat ini banyak tempat penitipan anak yang memberikan fasilitas plus-plus. Pagi-pagi anak diantarkan dalam kondisi belum mandi, saat sore hari anak dijemput sudah berbau wangi, rambut licin, wajah putih berbedak. Sampai dirumah orang tua yang lelah hanya bisa menyempatkan sedikit waktu untuk bermain dengan anak. Setelah itu semuanya terlelap. Ini berulang seperti reka adegan setiap harinya.

Akhirnya banyak ayah dan ibu yang kehilangan perannya. Ibu yang seharusnya menjadi madrasah pertama, peletak nilai-nilai dasar ketauhidan (tanpa terlepas dari peran ayah), lupa bahwa anak bukan sekedar butuh makan untuk hidup. Namun nilai-nilai hidup itu sendiri. Memang beberapa tempat penitipan anak ada yang pengasuhnya paham agama dengan baik, beradab dan berperilaku sopan dan tidak menyimpang. Namun, bukankah lebih baik bila kesan baik itu didapatkan dari orang tua yang bertanggungjawab atas kehadirannya di dunia.

Lebih-lebih sangat jarang menemukan pengasuh laki-laki di TPA. Akhirnya kebanyakan bayi laki-laki lebih banyak bergaul dengan pengasuh perempuan. Hal ini kalau dibiarkan terlalu lama tentu saja berakibat kurang baik. Setiap anak terutama anak laki-laki perlu contoh bagaimana bersikap tegas dan bertanggungjawab dan ini biasanya didapatkan dari ayah. Lalu bagaimana jadinya kalau anak lebih sering berinteraksi dengan pengasuh perempuan.

Lalu bagaimana solusinya?
Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah, menanamkan jiwa entrepreneur pada diri perempuan. Sehingga mind set pekerjaan yang dipikirkan dan direncanakan adalah pekerjaan yang tidak mengganggu kewajiban menjadi ibu bagi anak-anaknya. Misalnya membuat kerajinan tangan, jualan on line, atau menulis. Pekerjaan-pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa harus keluar rumah dan meninggalkan anak.

Solusi yang lain ketika ibu memang benar-benar harus bekerja di luar rumah adalah mencari tempat kerja yang memungkinkan untuk sering mengunjungi anak di sela-sela jam kerja. Kalau pun terpaksanya harus menitipkan anak, paling tidak anak tidak dititipkan kepada orang lain, tapi dititipkan ke keluarga terdekat. Misalnya orang tua.  Namun ini bukan berarti menitipkan anak kepada orang tua di desa sedang kedua orang tua sibuk bekerja di kota ya. Bagaimana pun keinginan antara ibu dan nenek atas seorang anak itu berbeda. Kalau tidak dikomunikasikan dengan baik, bisa jadi petaka.

Sije

Masih mencari bekal untuk jadi ibu

Jumat, Oktober 28, 2016

Semua Akan Berlalu


Suatu saat nanti. Kalau Allah ijinkan aku dan keluargaku punya rumah sendiri. Sebuah rumah yang tak perlu mewah, penting penghuninya ramah dan meriah.  Di desa saja, biar bersih udaranya. Dari kayu, agar jauh dari kesan angkuh. Aku ingin menggantungkan sebuah tulisan ‘Semua akan Berlalu’  atau ‘Semua akan Baik-Baik saja’.

Supaya kami dan mereka yang datang ke rumah kami tetap waspada saat rahmat Allah melimpah. Tidak Jumawa. Bukankah semua akan berlalu. Ganteng atau cantik itu juga semua akan berlalu. Kaya atau biasa semua juga akan dimintai pertangungannya. Dari pada banyak memajang foto pernikahan atau foto keluarga yang sebenarnya tidak cukup ada gunanya. Bukankah setiap orang yang datang pasti tahu itu rumah kami. Sepertinya kata-kata ini lebih menarik.

Agar kami dan semua yang datang mengunjungi kami tetap tegar ketika patah dan nyaris mati. Bahwa semua akan berlalu dan akan baik-baik saja.

PS: Hal utama yang harus dipikirkan segera adalah, siapa yang akan diajak hidup bersama? :p

Sije

Arumdalu 26 Oktober 2016