Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, Februari 18, 2019

Hmmm…Cari yang seperti Apa?



Credit: Pinterest
Sebagai perempuan yang masih berstatus single happy, saya beberapa kali ‘survey’ kepada teman-teman perempuan  saya, tentang menggenap. Pertanyaan random gitu. Mulai dari bagaimana perempuan (istri) yang ideal, hingga kriteria suami seperti apa yang mereka idamkan. Kadang kalau oke, saya contoh juga. Lumayan kan jadi referensi. Haha! Enggak ding! Bercanda.

Sebenarnya saya ingin bertanya juga versi kebalikannya. Dari sisi laki-laki bagaimana sih. Tapi semakin ke sini saya justru semakin tidak berani. Khawatir dikira lempar kode. Siapalah saya, mana berani lempar kode segala. 

Nah bicara tentang kriteria. Ehem. Dilarang baper dan mikir tidak-tidak ya gaes. Sungguh saya sedang baik-baik saja. Kalau pun agak error, saya sebenarnya hanya sedang pusing mikir ide tulisan apalagi buat memenuhi kuota 60 tulisan setiap bulan. Biar gajianya bisa buat jalan-jalan. Kembali ke kriteria, kadang saya kalau usilnya kambuh (hem sering kambuhnya sih), ketika ada orang bertanya, “Kapan nikah?”, tanpa ragu saya akan bilang, “Sini bawain calon. Kalau oke, besok juga boleh.” Jiakaka. Tapi mereka juga enggak kalah usil sih. “Hem.. nyariin buat kamu tuh susah,”. Dih, minta dilempar sanggul mereka tuh, nanya kriteria aja nggak pernah, tapi bilang susah. 

Bicara tentang kriteria, saya menemukan banyak (atau boleh disebut beberapa) perempuan yang justru bingung ketika ditanya. Paling mentok jawabannya adalah sholih dan tidak merokok. Padahal kata ‘sholih’ sendiri kan bisa dijabarkan dalam berbagai definisi. Saya mungkin justru takut dengan mereka yang lurus banget, mengharamkan musik, anti bioskop, ngomongnya pakai ana-antum. Tapi bagi sebagian lain, justru yang begitu itu yang gebetable. Atau bisa jadi ada yang takut dengan mereka yang tampilannya macam enggak mandi tiga hari, ngomong seenaknya (masih dalam koridor sopan santun), juara usil tingkat kabupaten, rada urakan tapi kalau tahajud nangisan, suka nonkrong di warung kopi, tapi masih cinta sama ibu dan NKRI. Sedangkan, bagi manusia semacam saya, bentuk-bentuk begini ini lucu sekali.

Nah kan, bisa berbagai macam arti kan. Maka disinilah perlunya menuliskan detail sholih itu seperti apa. Hal ini berlaku pula untuk sebaliknya (sholihah itu seperti apa). Bahkan ketika sudah sangat detail sekali pun, banyak juga ‘mak comblang’ yang salah paham. Tentang ini kapan-kapan deh saya tulis terpisah.

Lalu? Ada tips apa Je?
Begini, ketika ingin pergi ke sebuah tempat, dan di terminal ada dua bus, satu ekonomi dan satu eksekutif AC, mau pilih yang mana? Kondisinya sedang punya uang berlebih nih. Bisa beli tiket keduanya? Pilih yang eksekutif AC karena nyaman? Atau pilih yang ekonomi karena enggak tahan dengan dinginnya AC?

Kalau saya, pilih yang tujuannya sesuai dengan tempat yang akan saya kunjungi. Kalau memang diantara dua bus tadi tujuannya berbeda dengan saya, ya saya tidak ikut naik. Tunggu bus selanjutnya. Get the poin? Jadi disinilah pentingnya mengenali diri. Mau ngapain aja sih selama hidup ini. Sekedar ikuti air mengalir? Ngikut arus weh enggak perlu mikir pusing? Padahal hanya ikan mati lho yang ikut aliran air.

Saya beberapa kali menemukan teman-teman hebat saya tidak menjadi apa-apa setelah menikah. Entah mengapa, tapi bisa jadi karena dia salah memilih bus tadi. Namun bisa jadi karena sebab lain. Sayangnya, menikah tidak sesimple naik bus yang ketika kita sadar bahwa kita salah tujuan, maka kita bisa turun di tengah jalan. Lebih rumit. Apabila ingin mengembalikan ke tujuan yang kita inginkan, kita harus bisa menjadi supir bus. Mengendalikan arah laju, yang tentunya butuh kemampuan khusus. Jauh lebih penting lagi adalah, mampu mengarahkan penumpang yang ada di belakang kita untuk mau mengamini dan mengikuti tujuan kita. Lalu sebagai perempuan yang hidup di Negara yang kental akan patriarkinya, menjadi supir bus tentu bukan pilihan mudah untuk diambil. Ada yang harus ditaati bukan?  

Jadi harus bagaimana Je?
Sudah kenalan dengan dirimu sendiri? Mau kemana? Mau dikenal sebagai orang seperti apa? Mau bermanfaat seluas apa? Lalu dengan segala yang sudah tertulis itu, kira-kira orang seperti apa yang bisa membantumu? Minimal ketika dia tidak bisa mendukung banyak, dia tidak melarang. Ini penting untuk perempuan. Sebab setelah terikat, maka ada kepatuhan kepada manusia yang hanya boleh dilanggar ketika dia sudah tidak takut dengan Tuhannya.
Sije
Arumdalu, 16 Februari 2019

Menjadi Orang Lain



Credit: Pinterest
Pernah terpikir untuk menjadi orang lain? Sebagai perempuan yang rasanya tidak cukup perempuan, saya sering kali terpikir hal tersebut. Merasa diri tidak cukup layak disebut perempuan. Tidak sholihah. Jauh dari lembut. Cantik? Hmm dikitlah ya. Hehe. Pinter masak? Ya paling enggak cukup aman dan enggak bikin orang keracunan. Masih alhamdulillah saya terlahir dengan warna kulit yang ya lumayan cerahlah. Masih agak menolong untuk menjadi cantik versi orang Indonesia.

Lahir dan besar di suatu daerah yang cukup jauh dari kota membuat saya lebih banyak akrab dengan ‘alam’. Saya menghabiskan masa kecil di sawah bersama lumpur, naik pohon –dari pohon jambu hingga lamtoro yang tumbuh doyong ke sungai, ciblon dari pagi sampai sore, berburu ikan, menyuluh burung puyuh malam-malam, sampai tidur di atas punggung sapi hingga sekian jam. Lebih ekstrim dari itu, saya pernah manjat pohon buah (lupa nama buahnya apa) di kuburan. Ah iya, pernah juga manjat tower sutet (dulu pernah bercita-cita bisa sampai atas haha). Dan semua menjadi aneh ketika masuk kuliah, saya menemui kenyataan bahwa sebagian besar perempuan itu, dandan! Hell! Wuopo iki!?

Bukan berarti saya tidak bisa dandan. Saya pernah pakai lipstik kok. Ya paling enggak 4 kali selama hidup. Pertama saat SD (atau TK ya?) karena diminta baca Pancasila di panggung perayaan kemerdekaan. Kedua waktu  SMP saat nyanyi di perpisahan. Ketiga dan keempat saat wisuda sarjana dan master. Pernah juga luluran dan maskeran. Ya meski setiap beli masker di tukang jamu Pasar Bringharjo, paling hanya dipakai sekali atau dua kali, lalu kadaluarsa karena tersimpan di lemari. Haha! Hmm lotion? Pelembab? Bedak? Punya. Masih cukup perempuan kan? *maksa.

Tapi apa iya menjadi perempuan itu begitu? Apa iya perempuan itu di definisikan sebagai makhluk yang lemah lembut, pintar dandan, jago masak, tidak kepleset kalau pakai heels, manutan, nrimonan, enggak kebanyakan protes, dan segudang karakter lain. Apakah sefana itu?

Belum lagi stereotype gender yang terus membingkai perempuan dalam kodrat-kodrat yang bisa jadi itu hanya adat. Perempuan itu nriman, konco wingking, tidak elok kalau keluar rumah. Alih-alih menuntut ilmu tinggi hingga luar negeri, mengisi training dihadapan lawan jenis saja banyak sekali yang mengecam.

Lalu apa kabar saya yang sejak kelas XI SMA sudah memimpin pasukan pramuka? Yang kalau menyiapkan pasukkan harus teriak sampai manusia satu lapangan dengar semua. Eh sejak SD malah. Juga berkali-kali mengisi acara dimana pesertanya campur antara perempuan dan laki-laki. Jadi saya tidak cukup perempuan nih? Sudah pakai rok kemana-mana lho ini. Jilbab juga segede taplak gini. Pakai kaos kaki, dan insyaAllah menutupi aurat sesuai dengan aturan yang sudah disepakati.

Padahal, kalau lihat sirah shahabiyah, ambil deh Khadijah. Beliau itu juragan, bawahannya banyak yang laki-laki. Siapa yang berani bilang kalau Khadijah kurang perempuan? Atau Aisyah, yang pernah juga berbagi kisah hidup Rosulullah kepada para sahabat Nabi, usai Nabi Muhammad SAW wafat. Oke, memang tidak semua shabiyah seperti Khadijah RA atau Aisyah RA, tapi bukan berarti perempuan juga semuanya harus seperti Fatimah RA, atau Maryam kan?

Artinya, tidak bisakah kita mengembalikan batas definisi antara laki-laki dan perempuan itu kepada paugeran aslinya. Bahwa perempuan itu bukan lagi tentang dapur, sumur, dan kasur. Tentang dapur sendiri, banyak sekali riwayat yang menjelaskan bahwa sebenarnya tugas menyiapkan segala rupa makanan itu adalah tugas laki-laki. No, ini bukan tentang laki-laki melayani perempuan, tapi lebih kepada laki-lakilah yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban atas apa-apa yang masuk ke mulut keluarganya.

Tidak bisakah juga kita melihat perempuan sebagai pribadi yang utuh. Sebagai manusia, yang tidak dinilai dari fisiknya, tapi dari apa yang ada di otaknya. Sama seperti laki-laki yang juga tersinggung kalau dinilai dari tebalnya dompet, perempuan juga risih kalau dinilai dari mulusnya wajah. Minimal, nilai dia dari berapa banyak hafalan, atau berapa banyak sertifikat penghargaan.

Agar apa? Agar tidak ada lagi yang membuat batasan bahwa perempuan sejati adalah yang begitu dan begini. Agar kita sebagai manusia bisa dinilai sebagai manusia seutuhnya. Bukan tentang polesan dunia yang nilainya tak seberapa. Tapi sebanyak apa manfaat untuk sesama dan bekal untuk kehidupan yang kedua.

Sije

Bulaksumur,18 Februari 2019

Sabtu, Juni 02, 2018

Menyoal Sudut Pandang



Puasa kok manja!
Emang kalau lihat postingan makanan puasamu batal?
Lho yang puasa itu hormati yang tidak puasa dong!
Lha kalau ada ramai-ramai di Bali, Nyepinya batal. Kalau kamu lihat warung makan buka dan ramai, apa puasamu batal?
Halah, jadi suami kok enggak tahu kewajibannya!
Jadi istri kok durhaka, kewajiban enggak dijalankan!
Lho kamu itu lho, hutang seratus ribu aja kok dipermasalahkan. Mbok diikhlasin. Aku kan teman dekatmu.

Pernah mendengar kalimat-kalimat tersebut? Atau minimal senada dengan hal itu? Menjelang atau saat bulan puasa seperti ini kalimat itu sering terdengar. Umat islam yang protes dengan fenomena warung buka sepanjang hari, bukan mendapat simpati, namun dapat sindiran dari mana-mana, bahkan dari umat muslim sendiri.

Itu tentang puasa. Suatu ketika saya pernah protes tentang kebijakan sebuah lembaga tempat saya berkarya. Disana kami diwajibkan untuk memberi bimbingan belajar kepada anak-anak. Dalam satu pekan harus masuk 3 kali. Artinya kalau waktu dalam sepekan itu benar pas 4 pekan, kami akan mengajar sebanyak 12 kali. Namun kalender masehi di Indonesia tidak selalu begitu, akhirnya tidak jarang dalam satu bulan kami harus mengajar lebih dari 12 kali. Sering 14 atau 15 kali.

Tidak ada masalah sebenarnya. Namun menjadi lucu kalau kemudian disampaikan kebijakan searah tentang honor kelebihan mengajar ini, “Ya diikhlaskan saja”. Hmm…ada yang minta disumbang begitu? Wait, ada yang salah nih kayaknya. Bagaimana kalau ada yang berkarya disana memang diniatkan untuk bekerja dan mengumpulkan uang. Bukankah uang sepuluh ribu atau dua puluh ribu begitu berarti baginya? Pun kalau akhirnya mengikhlaskan dan menyumbang, itu bukankah dia sebagai relawan yang harusnya menyampaikan? Mengapa dibalik begini sudut pandangnya?

Saya menyadari tentang memilih sudut pandang dengan bijak ini ketika saya membaca sebuah buku tentang pernikahan. Salah satu yang saya ingat adalah, seringnya para istri itu mengingat kewajiban suaminya, dan terus menghitung haknya. Sedangkan suami juga melakukan hal sama, mengingat-ingat kewajiban istrinya dan terus menagih haknya. Mengapa tidak mengingat kewajiban sendiri dan hak orang lain?

Ah iya ya, mengapa bukan kita mengingat kewajiban yang harus kita lakukan saja dan menulis hak orang lain yang belum kita sampaikan.  Kalau semua begitu, bukankah akhirnya hak orang lain tersampaikan, dan kewajiban kita terselesaikan. Kalau dalam hal berkeluarga, suami menjalankan kewajibannya hingga akhirnya membuat hak istri tersampaikan. Sedang si istri menjalankan kewajibannya, yang bisa dikatakan kewajibannya adalah hak sang suami. Bukankah itu menyenangkan. Tanpa harus saling mengungkit kewajiban orang lain.

Itu dalam hal berkeluarga, lalu bagaimana kalau dikaitkan dengan konteks beragama? Sama. Kewajiban kita bukankah menghormati agama lain yang sedang beribadah. Jadi masing-masing pemeluk agama berpikir untuk bagaimana menghormati pemeluk agama lain. Sudut pandangnya ditempatkan dengan baik. Misalnya ada gereja di suatu daerah yang berdampingan dengan rumah warga muslim yang sedang punya hajatan. Padahal waktu itu di gereja sedang ada misa natal atau kegiatan yang lainnya. Dari sudut pandang seorang muslim, seharusnya adalah bagaimana caranya hajatan dilakukan tanpa mengganggu prosesi ibadah yang sedang berlangsung. Misalnya dengan melakukan keramaian usai acara misa selesai digelar. Bisa juga dengan tidak menggunakan pengeras suara, sehingga tidak mengganggu prosesi ibadah yang sedang berlangsung. 

Begitu juga ketika sedang berpuasa. Sudut pandang seorang muslim adalah memahami bahwa selain umat islam yang sedang berpuasa, ada umat lain yang butuh makan minum, artinya selama wajar, tidak masalah ada yang makan atau minum. Lalu bagaimana dengan sudut pandang pemeluk agama lain yang tidak berpuasa, atau bagi perempuan yang sedang berhalangan? Ya menempatkan diri sesuai kondisi. Makan ditempat yang memang tidak banyak umat islam berlalu lalang misalnya.

Bukankah itu menyenangkan? Kita saling mengingat kewajiban. Bukan hak –meski sesekali boleh juga. Bagi yang muslim dan sedang berpuasa tidak ngotot untuk dihargai, sedang yang tidak berpuasa atau yang non muslim juga tahu kondisi. Ini berlaku juga ketika agama lain sedang melakukan ibadah, misalnya Natal atau Nyepi. Kira-kira, kapan ya Indonesia bisa begini (lagi)? Sama seperti dunia fotografi, untuk mendapatkan hasil yang cantik, bukahkah kita harus bisa memilah sudut dengan baik?

Senin, Februari 20, 2017

Foto Dulu, Foto Lagi, dan Foto Terus

Credit here
Teknologi memang seperti pisau bermata dua. Satu sisi bisa menjadi manfaat, namun disisi lain juga bisa menjadi bumerang yang mampu menghancukan penggunannya. Salah satu teknologi yang saat ini banyak digunakan oleh masyarakat adalah handphone a.k.a Hp.

Sekarang ini hampir semua lapisan masyarakat mempunyai handphone. Mulai dari masyarakat pedesaan hingga perkotaan. Tidak tanggung-tanggung, bukan hanya untuk telfon dan sms namun juga dilengkapi fitur kamera. Teknologi komunikasi memang berkembang cukup pesat, yang awalnya hanya handphone biasa, kini sudah muncul yang namanya smartphone. Fitur yang ditawarkan beragam, mulai dari kamera dengan hasil gambar yang jelas, hingga aplikasi media sosial yang bisa langsung diakses kapan saja.

Kemudahan yang diberikan oleh smartphone ini kini membawa tuah. Banyak remaja kita yang sekarang dijangkiti virus foto selfie. Dimana saja dan kapan saja foto selfie tidak pernah terlupa. Saat menunggu antrian, selesai sholat tarawih, waktu pergi ke tempat wisata, disemua tempat yang dilalui dan disinggahinya. Moto yang digunakan, foto dulu, foto lagi, dan foto terus.

Fenomena ini tidak hanya berhenti sampai foto saja, setelah foto selfie, hal reflek yang banyak kita lakukan adalah mengunggahnya di sosial media. Berburu like dan komentar. Ada rasa jumawa bila banyak yang like atau memberikan komentar. Niat awal yang hanya sekedar mengunggah foto kini menjadi niat ingin mendapat banyak pujian dan like.

Fenomena ini mau tidak mau harus mendapat porsi tersendiri untuk ditangani. Sebab, virus ini katanya banyak menjangkiti para muslimah yang konon fitrahnya bermahkotakan rasa malu. Syetan dengan halusnya memberikan bujuk rayu agar senang foto, senang pamer, dan akhirnya mengharap pujian dari orang lain.

Pada beberapa kelompok ada yang sebenarnya tidak ada niatan untuk pamer foto, namun tidak menyadari bahwa foto yang diunggahnya ke sosial media tanpa manfaat yang mendesak justru membuat mudhorot bagi orang lain. Banyak muslimah yang bersungut-sungut tak suka ketika ada laki-laki yang menggodanya. Namun diwaktu yang sama masih sering kali mengunggah foto selfie cantiknya. Bersembunyi di belakang kalimat, “ah…salah sendiri tidak bisa jaga mata”. Kepada kita yang masih seperti ini, ada sebuah nasehat.

Kita tidak pernah tahu kondisi iman saudara kita. Maka tugas kitalah untuk saling menjaga iman saudaranya yang lain. Salah satunya adalah dengan tidak melakukan hal-hal yang justru membuat iman mereka turun. Bagaimana kalau ternyata foto-foto kita lah yang selama ini membuat rontok iman mereka?

Lalu apakah muslimah tidak boleh berfoto?
Ulama masih berbeda pendapat tentang ini. Namun kalau pun berpegangan dengan pendapat ulama yang memperbolehkan foto, alangkah baiknya foto-foto itu disimpan sendiri, untuk konsumsi pribadi. Tak perlulah diunggah ke sosial media. Bukankah setiap apa yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban nantinya. Pun diunggah, seperlunya saja. Sebutuhnya. Tentu saja kebutuhan eksis seorang public figure berbeda dengan ibu rumah tangga biasa.

Satu yang jauh lebih penting dari semuanya adalah, apa jawaban kita atas foto-foto yang beredar di dunia maya?


Sije

Kamis, Februari 16, 2017

Benar Dulu Baru Bernilai Manfaat

credit here

Pernah dengar kalimat sejenis atau serupa ini?
“Ah nggak apa berbohong, kan untuk kebaikan”

Beberapa diantara kita sering menggunakan kalimat itu untuk ‘ayem-ayem’ diri sendiri setelah melakukan kesalahan. Berharap rasa tidak tenang hilang dengan sendirinya. Namun benarkah sikap seperti itu?

Setidaknya ada tiga jenis sifat di dunia ini, baik, buruk, dan netral. Baik dan buruk tentu saja mudah dibedakan. Namun hal yang netral kadang menjadi abu-abu dalam penglihatan kita. Sesuatu yang bersifat netral, bisa menjadi berubah sifat tergantung cara penggunaannya. Apabila ia digunakan untuk kebaikan maka dia akan menjadi baik, begitu pula bila digunakan untuk keburukan, maka dia akan bersifat buruk.

Bukan hanya yang netral, sesuatu yang baik apabila digunakan untuk tujuan yang buruk, maka sifatnya juga akan menjadi buruk. Kita ambil contoh memberikan hukuman yang ringan untuk para koruptor karena telah disuap sebelum memutuskan. Atau berbohong (katanya) untuk kebaikan.
Sedangkan keburukan, dia akan tetap menjadi buruk meskipun dia digunakan untuk kebaikan.  Misalnya, berbohong (katanya) untuk kebaikan. Atau mencuri namun hasil curiannya digunakan untuk sedekah. Semualia apapun hal yang dilakukan kemudian, nilainya tetap buruk apabila untuk menuju kesana didahului oleh keburukan. Mungkin bisa mencapai tujuan. Namun tidak ada berkahnya.

Maka dari itu, menjadi hal yang sangat penting bagi kita untuk mengetahui dengan jelas mana yang haq dan mana yang batil. Mana yang baik dan mana yang buruk. Sehingga kita benar-benar tahu apa yang kita kerjakan. Semua itu bertujuan agar amalan kita tidak sia-sia belaka. Ukuran baik dan buruk tidak diambil dari presepsi kita sebagai manusia. Namun dari Alquran dan Alhadits. Bukan cuma itu, saat menafsirkan nilai dari sumbernya pun harus dengan pemahaman yang benar. Tidak diikuti oleh nafsu dan presepsi.

Hal ini Allah jelaskan dalam firmanNya berikut ini:

Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya." (QS. Al-Kahfi, 18: 103-104).

 Pelajaran yang bisa kita ambil adalah. jangan bergantung pada presepsi manusia. Pastikan itu bernilai kebaikan sebelum melakukan suatu hal. Agar kita tidak termasuk orang-orang yang rugi.


Sije

Sudahkah Kita Beriman?

Tahun-tahun belakangan ini muncul beragam acara kurang benilai pendidikan di televisi kita. Mulai dari sinetron, infotaiment, reality show, yang semuanya ditayangkan setiap hari. Pagi infotaimen, siang sinetron, malanya reality show. Masyarakat dipaksa untuk menelan beragam acara televisi yang tidak ada unsur mendidiknya. Mirisnya, banyak dari acara-acara tersebut yang dibumbui dengan adegan atau perkataan yang bernilai celaan dan hinaan kepada pihak lain.

Sebut saja acara A di saluran B, hampir setiap malam reality show yang dicampur dengan musik ini ditayangkan. Penontonnya penuh hingga tumpah ruah di depan panggung acara. Mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, remaja dan tidak ketinggalan anak-anak mereka juga diajak turut serta.

Biasanya ada bintang tamu yang khusus dihadirkan dan berbeda pada setiap acara. Mulai dari awal mulainya acara hingga selesai, acara ini hanya diisi dengan gurauan, musik, dan tidak ketinggalan hinaan atau celaan kepada bintang tamu atau sesama pembaca acara. Mereka tidak peduli bahwa ada anak-anak yang juga ikut menonton di studio.

Akibatnya, sekarang ini budaya menghina atau dalam bahasa ‘gaulnya’ membully, sudah sangat kuat masuk ke dalam masyarakat. Ada yang kurang rasanya bila saat berkumpul dengan teman-teman tidak saling menghina.  Ada yang bilang ini adalah wujud kasih sayang antara sahabat. Begitukah antar sahabat saling berkasih sayang? Mungkin kita perlu mengkaji kembali hadis Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

"Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan orang yang keji (buruk akhlaqnya), dan bukan orang yang jorok omongannya." (HR. Tirmidzi, Ahmad, dll).

Credit here
Bagaimana mungkin saling mencela dan menghina meskipun itu ditujukan untuk bercanda bisa disebut sebagai bentuk kasih sayang? Allah melalui RasulNya jelas memberikan definisi seorang mukmin, yaitu mereka yang menjaga perkatannya. Bukan yang mudah mencela meskipun itu hanya bercanda.

Hal ini berbeda kasusnya apabila kita menunjukkan keburukan orang lain namun dengan tujuan yang haq. Menunjukkan keburukan tidak harus dilakukan dengan cara menghina atau mencela. Kita bisa melakukannya dengan cara-cara yang santun dan tidak menyakiti.
Islam mengijinkan beberapa keadaan yang membolehkan kita untuk menunjukkan keburukan orang lain, misalnya ketika ada seseorang bertanya perihal orang yang ingin menikahinya. Meskipun begitu, kita juga hanya berhak menyampaikan seperlunya saja, tidak boleh sampai menghina atau mencela.

Jadi, sudahkah kita beriman?

Semoga tulisan ini bermanfaat. Wallahu’alam. 

Sije