Jadi kapan terakhir kali saya menulis di sini?
Lama sekali ya. Adakah yang rindu tulisan random saya? Atau malah sebenarnya saya tidak punya pembaca setia? Hahaha. Marilah sejenak berpura-pura, bahwa sebenarnya banyak sekali yang membaca. Woi...itu yang tertulis di halaman depan apa non? Kelihatan kali berapa orang yang sudah pernah mampir dimari.
Ah, bodo amat. Bisa kan kita sehari saja tidak perlu mendebatkan hal-hal yang tidak cukup bermutu.
Jadi kemana saya selama ini?
Saya kerja saudaraa. Ada begitu banyak deadline yang harus saya selesaikan setiap harinya. Ngeluh? Hmm No. Hanya terkadang pengen bebas hambatan untuk jalan-jalan. Wkakaka.
Then, selanjutnya, tunggu ya tulisan random-random saya.
Tampilkan postingan dengan label Absurd. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Absurd. Tampilkan semua postingan
Kamis, Februari 23, 2017

Bahkan Ini pun Harus Kita syukuri
![]() |
| Credit here |
Masih ada yang menggerutu tentang pekerjaannya saat ini?
Capek, teman kantor yang nggak oke, bos yang galak, atau kalau punya usaha,
sepinya order, ditipu orang dan lain sebagainya.
Saya ingin mengajak melihat beberapa fenomena yang ada di
sekitar. Fenomena yang harusnya membuat kita mensyukuri apapun yang bisa kita
lakukan (yang bisa jadi tidak bisa orang lain lakukan). Setiap senin sore saya
selalu melewati satu ruas jalan yang sama. Jalan gambir, kalau masih ada yang tidak
tahu, arah ke utara dari fakultas teknik Universitas Negeri Yogyakarta. Setiap
senin sore itu pula, Allah menampar saya. Ada seorang bapak yang sudah berumur.
Sudah tua dan bungkuk, sedang menunggui jualannya berupa mainan tradisional.
Mainan yang tidak semua anak suka, apalagi di era generasi gadget seperti ini.
Kedua, di sekitar ruas jalan yang sama, saya beberapa kali
menemui bapak (kalau tidak boleh disebut kakek) sedang mendorong keranjangnya
yang berisi penuh celengan dari tanah berbentuk kuda-kudaan, ayam-ayaman dan
sejenisnya. Si bapak ini beberapa kali menjajakan jualannya di sekitaran kampus.
Ketiga, ada seorang bapak yang atas ijin Allah dibuat
istimewa (tidak bisa melihat), pada hari-hari terentu dia akan menjajakan
jualannya berupa keset, sulak (kemoceng), kain lap dan sejenisnya di sekitaran
masjid kampus UGM.
Keempat, bagi yang domisili di Jogja coba sekali-sekali saat
pagi hari, belanja di pasar demangan.
Setelah belanja sempatkan untuk lewat di dekat bak sampah (sebuah kotak
besar dari semen) yang ada di pojok
depan pasar. Disana akan ditemui seorang bapak yang duduk di antara tumpukan
sampah sambil memilah-milah sampah. Mana yang bisa dijual kembali dan mana yang
tidak. Inilah kenapa buat para mbak-mbak dan ibu-ibu, kalau buang (maaf)
pembalut tolong lebih hati-hati.
Kelima, ahh rasanya saya nyaris tidak sanggup menuliskannya,
setiap sore (akhir-akhir ini tidak ada) ada sepasang suami istri (sudah
berumur) menjajakan topi anyaman. Jangan pikirkan seperti topi anyaman yang
untuk di pantai. Dan beberapa kali saya lihat, jualannya tidak kunjung
berkurang banyak.
Pernah saya berpikir dan mungkin banyak orang lain yang
berpikir serupa, kenapa sih
bapak-bapak itu tidak berjualan yang mudah habis atau minimal yang ‘lebih
modern’. Kan kalau mudah habis orang akan beli lagi, misalnya makanan. Lha
kalau yang dijual celengan kuda-kudaan, atau mainan, kan nggak mungkin setiap
hari beli. Nggak mungkin kan dalam satu hari celengannya penuh.
Namun, kemudian saya berpikir bagaimana kalau memang hanya
itu keahlian yang mereka punya. Membuat celengan dari tanah, merangkai
bilah-bilah bambu untuk membuat mainan, menganyam rotan untuk membuat topi dan
lain-lain.
Ada satu hal yang harus segera kita syukuri, kemampuan untuk
bertahan hidup. Kemampuan yang atas ijin Allah menempel pada diri kita. Bisa
menulis, mengajar, ilmu kedokteran, ilmu tentang bumi (perminyakan, geologi,
geografi dll), kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik, kemampuan marketing
yang mudah diterima dan lain sebagainya. Bisa dibayangkan kalau tetiba Allah
membalik semuanya? Ilmu-ilmu yang kita miliki berpindah tubuh ke orang lain
misalnya.
Itulah kenapa ada hak orang lain dari harta kita.
Zink!! Ini kenap tetiba saya jadi begitu serius begini ya,
Oh no, kotak tertawa, mana kotak tertawa.
Sije
Senin, Februari 20, 2017

Foto Dulu, Foto Lagi, dan Foto Terus
![]() |
| Credit here |
Teknologi memang seperti pisau bermata dua. Satu
sisi bisa menjadi manfaat, namun disisi lain juga bisa menjadi bumerang yang
mampu menghancukan penggunannya. Salah satu teknologi yang saat ini banyak
digunakan oleh masyarakat adalah handphone a.k.a Hp.
Sekarang ini hampir semua lapisan masyarakat
mempunyai handphone. Mulai dari masyarakat pedesaan hingga perkotaan. Tidak
tanggung-tanggung, bukan hanya untuk telfon dan sms namun juga dilengkapi fitur
kamera. Teknologi komunikasi memang berkembang cukup pesat, yang awalnya hanya
handphone biasa, kini sudah muncul yang namanya smartphone. Fitur yang
ditawarkan beragam, mulai dari kamera dengan hasil gambar yang jelas, hingga
aplikasi media sosial yang bisa langsung diakses kapan saja.
Kemudahan yang diberikan oleh smartphone ini kini
membawa tuah. Banyak remaja kita yang sekarang dijangkiti virus foto selfie.
Dimana saja dan kapan saja foto selfie tidak pernah terlupa. Saat menunggu
antrian, selesai sholat tarawih, waktu pergi ke tempat wisata, disemua tempat
yang dilalui dan disinggahinya. Moto yang digunakan, foto dulu, foto lagi, dan
foto terus.
Fenomena ini tidak hanya berhenti sampai foto saja,
setelah foto selfie, hal reflek yang banyak kita lakukan adalah mengunggahnya
di sosial media. Berburu like dan komentar. Ada rasa jumawa bila banyak yang
like atau memberikan komentar. Niat awal yang hanya sekedar mengunggah foto
kini menjadi niat ingin mendapat banyak pujian dan like.
Fenomena ini mau tidak mau harus mendapat porsi
tersendiri untuk ditangani. Sebab, virus ini katanya banyak menjangkiti para
muslimah yang konon fitrahnya bermahkotakan rasa malu. Syetan dengan halusnya
memberikan bujuk rayu agar senang foto, senang pamer, dan akhirnya mengharap
pujian dari orang lain.
Pada beberapa kelompok ada yang sebenarnya tidak ada
niatan untuk pamer foto, namun tidak menyadari bahwa foto yang diunggahnya ke
sosial media tanpa manfaat yang mendesak justru membuat mudhorot bagi orang
lain. Banyak muslimah yang bersungut-sungut tak suka ketika ada laki-laki yang
menggodanya. Namun diwaktu yang sama masih sering kali mengunggah foto selfie
cantiknya. Bersembunyi di belakang kalimat, “ah…salah sendiri tidak bisa jaga
mata”. Kepada kita yang masih seperti ini, ada sebuah nasehat.
Kita tidak
pernah tahu kondisi iman saudara kita.
Maka tugas kitalah untuk saling menjaga iman saudaranya yang lain. Salah
satunya adalah dengan tidak melakukan hal-hal yang justru membuat iman mereka
turun. Bagaimana kalau ternyata foto-foto kita lah yang selama ini membuat
rontok iman mereka?
Lalu apakah muslimah tidak boleh berfoto?
Ulama masih berbeda pendapat tentang ini. Namun
kalau pun berpegangan dengan pendapat ulama yang memperbolehkan foto, alangkah
baiknya foto-foto itu disimpan sendiri, untuk konsumsi pribadi. Tak perlulah
diunggah ke sosial media. Bukankah setiap apa yang kita lakukan akan dimintai
pertanggungjawaban nantinya. Pun diunggah, seperlunya saja. Sebutuhnya. Tentu
saja kebutuhan eksis seorang public figure
berbeda dengan ibu rumah tangga biasa.
Satu yang jauh lebih penting dari semuanya adalah, apa
jawaban kita atas foto-foto yang beredar di dunia maya?
Sije

Hari Gini Tanya Kapan Nikah? Kuno!
![]() |
| Credit here |
Kita hidup di negeri yang penuh bully. Mau salah atau benar, tidak ada
yang luput dari ‘dunia perbullyan’. Satu hal yang sering dijadikan tema bully adalah nikah, dan ini erat
kaitannya dengan jomblo. Dua hal ini menjadi trending topik paling atas dalam ‘dunia
perbullyan’. Kaum jomblo seolah menjadi sasaran empuk untuk ‘dibabakbelurkan’. Kadang
tidak hanya mereka yang memang sengaja ‘sorangan wae’ kena getahnya. Mereka
yang menjaga untuk tidak pacaran atau sedang dalam rangka memperbaiki diri juga
sering kena bully.
Bagi yang tidak tahan, biasanya menarik
diri dari lingkungan. Bosan ditanya kapan nikah. Mencari komunitas yang
bernasib sama. Menjauh dari keluarga besar, karena tidak kuat menahan kuping
yang memerah akibat ‘cibiran’ yang kadang serasa tidak sengaja namun membiasa.
Siapa pula yang tahan bila setiap hari
ditanya hal yang sama. Padahal jelas tahu kalau sedang berusaha mewujudkannya. Parahnya
lagi tidak jarang diikuti dengan cerita untuk menakut-nakuti, mulai dari
perawan tua, hingga mati tanpa sempat mendua. Sebal? Sama!
Bullyan ‘kapan nikah’ sekarang ini membudaya.
Bukan hanya di pertemuan keluarga, reuni TK pun juga banyak yang bertanya.
Padahal bila mau sedikit saja peka, apakah bullyan semacam itu merupakan sebuah
prestasi? Mungkinkah itu memberikan solusi? Atau justru malah sebaliknya,
semakin memperkeruh suasana dan merenggangkan persaudaraan antar sesama.
Bila kita mau berkaca pada Alquran dan hadits
Nabi, pasti bullyan semacam ini tidak
akan ada.
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu
damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah
terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al Hujuraat 10)
Hadis riwayat Nukman
bin Basyir RA, ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Perumpamaan orang-orang mukmin
dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah
tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang
lain ikut merasakan sulit tidur dan demam. (HR.Muslim)
Hadis riwayat Abu Musa
RA dia berkata:
Rasulullah SAW bersabda: Seorang mukmin terhadap mukmin yang
lain adalah seperti sebuah bangunan di mana bagiannya saling menguatkan bagian
yang lain. (HR. Muslim)
Allah sudah memberikan perintah sejak
dahulu bahwa sesama muslim adalah saudara yang harus saling kasih mengasihi.
Sepenanggungan. Bila satu tersakiti, maka yang lain pun merasa tersakiti. Lalu
bila hampir setiap hari kita membully
saudara kita tanpa memberi solusi, apakah bisa kita disebut orang-orang yang
beriman?
Bukankah lebih menyenangkkan bila
pertanyaan, “Kapan nikah?” diganti dengan, “Mau yang seperti apa? Sini saya
bantu cari.” Bukan membully tapi
memberi solusi.
Hari gini masih tanya kapan nikah?
Kuno!

Perempuan, Laki-laki dan Foto
![]() |
| Credit here |
Tulisan ini, catatan ke-101 di
facebook saya. Mau berteman, silakan berkunjung dimari.
Semakin hari, saya semakin menikmati
dunia perempuan. Banyak hal yang menarik, meskipun banyak hal yang
kontroversial. Apalagi tradisi kita di Indonesia kebanyakan menggunakan
'Patriarki'. Seolah Perempuan itu tidak ada ruang untuk aktualisasi diri. Hal
ini membuat saya semakin penasaran. Benarkah? Mungkin karena saya lahir di
keluarga tanpa anak laki-laki. Jadi saya tidak melihat perbedaan bagaimana
bersikap kepada anak laki-laki dan kepada anak perempuan.
Berbicara tentang laki-laki dan
perempuan, saya jadi teringat sesuatu. Beberapa waktu lalu ada seseorang
bertamu ke rumah (kontrakan) saya. Teman dulu di organisasi saat kuliah. Beliau
menyampaikan sebuah titipan dari seseorang. Lalu mulailah kita ngobrol ngalur
ngidul, saling bertukar kabar teman-teman lama. Hingga akhirnya kita sampai pada
bahasan interaksi antara laki-laki dan perempuan. Saya masih ingat, saat itu
saya menanyakan nama seseorang,
"Kenal sama si X
nggak?"
"Iya kenal, kenapa? Nggak
beres ya. Iya itu sudah banyak yang menasehati kok. Sudah ditanting juga. Tapi
dianya nggak berani".
Lalu teman saya bertanya,
"Kenal sama ini?" Dia
menyebutkan nama seseorang. Perempuan.
"Oh, nggak. Kenapa?"
"Nggak apa-apa"
Jawabnya.
Bukan saya kalau nggak penasaran
dengan apa yang saya dengar setengah. Saya search FB dengan nama yang
disebutkan teman saya itu. Kebetulan banyak mutual friend. Jadi tidak sulit
mencarinya. Sekilas tidak ada yang aneh. Biasa saja. Mbaknya cantik. Ya namanya
juga perempuan, pasti cantik kan. Lalu saya mulai mengepo foto
profile-nya.
WAOW!
Saya menemukan beberapa eh banyak
fotonya. Berjilbab syar'i. Tertutup rapat. Hmm meskipun dengan wajah close up. Saya
sendiri sebagai perempuan risih. Fotonya sangat close up dan dengan berbagai
macam gaya. Saya bukan ahli tafsir memang. Jadi saya juga kurang tahu apa hukum
pastinya yang kayak gitu. Foto syar'i tapi close up. Ah, kalau ada salah satu
pembaca yang tahu, silahkan komen. :)
Lebih-lebih ada begitu banyak
komentator mengerubungi foto-foto itu. Sebagian besar laki-laki. Ikhwan, ah
mungkin masih bakwan kali ya. Bakal ikhwan, atau mungkin itong, ikhwan
sepotong. Pokonya berjenis kelamin laki-laki.
Komennya beragam, mulai dari:
"Subhanallah"
"Cantiknya"
"Kenalan donk"
"Kalau punya istri seperti
ini...."
"Wajah bidadari"
Sampai,
"Mbak, boleh minta
fotonya?"
Lalu kalau sudah begini, siapa
yang harus evaluasi diri? Hanya perempuan kah? Kan perempuan yang
mancing-mancing. Kalau nggak dipancing, laki-laki juga nggak tergoda buat
lihat. Apalagi itu di upload di FB. Terbuka untuk umum kan berarti.
Atau harus laki-laki saja yang
mengevaluasi diri?
Dasar laki-laki. Matanya
jelalatan kemana-mana. Kalau lihat cewek cantik, apalagi akhwat, pengennya
dideketin. PDKT lewat facebook. Komen-komen nggak jelas. Semua status
di-like.
Lalu ditutuplah dengan dengan
sebuah kalimat.
Perempuan dimana-mana sama saja.
Tukang menggoda!!
dan
Laki-laki dimana-mana sama saja.
Mata keranjang!!
Jadinya salah semua nih?
Kalau katanya Pak
Jalal di Para Pencari Tuhan sih,
laki-laki menahan, perempuan menjaga.
Sije

Jangan Bully Jomblo
![]() |
| Credit here |
Oke, bosen baca-baca berita
pilkada mulu, sekali-kali bikin tulisan kayak gini. Akhir-akhir ini saya sering
menemukan gerakan bully Jomblo. Baik itu di iklan TV, Instagram, FB, dll. Jadi
merasa terusik aja. Buka apa-apa. Hanya saja, apa yang mereka lakukan tidak
berimbang. Bukan mengajak ke arah yang lebih baik, tapi sebaliknya.
Satu sisi banyak masyarakat yang
menganggap kalau jomblo itu aib. Okelah, siapa sih yang mau hidup sendiri?
Rosul aja berkeluarga. Tapi apa iya selamanya jomblo itu aib? Mari kita bahas.
Gerakan bully jomblo ini secara tidak sadar tersebar begitu cepat.
Sasarannya siapa? Yap, remaja! Bukan mereka yang sudah siap tidak
menjomblo. Kalimat yang terakhir tidak akan saya bahas.
Remaja kita mamen yang
terpapar bully-an ini. Akibatnya banyak remaja kita yang merasa jomblo itu aib.
Saya pernah bertemu remaja umur 15 tahun yang galau tingkat dewa gegara merasa
dia nggak laku. Segitunya banget gitu. Payahnya lagi, saat saya berkesempatan
ngobrol dengan siswa di sebuah sekolah ternama di Yogya dan saya menceritakan
hal ini, mereka bilang, “ya wajar kan mbak kalau dia merasa nggak laku.” Duh,
pengen pingsan.
Kenapa gerakan Bully jomblo ini harus disudahi?
Fenomena yang kemudian hadir di
remaja kita adalah Bully jomblo yang tidak punya pacar. See? Kemana arahnya?
Susah payah kita mengajarkan pendidikan karakter (duh opo iki), hasilnya zonk
hanya gegara gerakan tidak mutu ini. Remaja kita digiring kepada pemahaman,
bahwa tidak punya pacar itu aib. Kalau malem minggu dirumah saja itu mengenaskan.
Bukan hanya sekedar jomblo itu aib.
Lalu dimana keinginan untuk
berprestasi itu diletakkan? Ketika semua media sosial menuju kearah yang sama?
Jadi ingat grup JV (justice
voice), terakhir sepanggung dengan mereka tahun 2013 silam. Save our masjid,
keep our heart and also selamatkan generasi ini.
-Catatan random untuk memantik
ide selanjutnya-
Sije
Kamis, Februari 09, 2017

Merubah atau Mengubah
![]() |
| Credit here |
Suatu hal umum ketika melihat keburukan,
setiap orang dengan hati yang baik dan bersih pasti ingin menjadikan keburukan
tersebut sesuatu yang baik. Apakah itu dengan menghilangkan penyebab
keburukannya atau dengan memoles keburukan itu hingga akhirnya perlahan
keburukan itu terhapuskan. Pada akhirnya tetap sama, menghilangkan keburukan
untuk mendapatkan yang baik.
Sudah menjadi hakekat manusia untuk
saling menasehati dalam kebaikan. Menasehati menjadi suatu hal yang reflek
dilakukan pada saat orang disekitar kita melakukan kesalahan baik itu disengaja
atau pun tidak. Sayangnya, banyak orang yang kurang terampil dalam seni
menasehati, hingga akhirnya bukan kebaikan yang didapatkan melainkan justru
perselisihan yang berkepanjangan.
Menasehati bukan hanya sekedar antara
orang tua kepada anak kecil, atau antar seumuran, terkadang nasehat menasehati
juga mau tidak mau harus dilakukan dari orang yang lebih muda kepada orang yang
usianya lebih tua. Misalnya dari anak kepada orang tuanya. Hal ini sering
menimbulkan salah presepsi apabila cara yang digunakan untuk menasehati kurang
pas.
Pada dasarnya menasehati itu baik, tapi
hal yang tidak boleh kita lupakan adalah kita paham atas konsekuensi
menasehati. Menasehati tidak boleh menyertakan nafsu, tak boleh merasa diri
yang lebih baik, tulus tanpa syarat, dan yang terpenting adalah sebagai orang
yang menasehati, kita paham serta sudah menjalankan apa yang kita nasehatkan.
Ini penting sebab pada dasarnya menasehati adalah ingin mengubah, bukan sebaliknya
merubah, menjadi rubah yang justru bisa merusak.
Sebab setiap nasehat yang disampaikan
kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Semakin banyak yang dinasehatkan,
semakin banyak pula beban yang nantinya akan dipertanggungjawabkan. Seperti dalam
firmanNya.
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan
sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu
mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”(QS. As-Shaff: 2-3)
Dalam Ayat yang lain
disebutkan:
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian,
sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al
kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”(QS. Al-Baqarah: 44)
Kurang pas menasehati juga dapat
membuat orang dinasehati bukan semakin baik namun justru semakin buruk, lebih
parah lagi malah tidak mau menerima nasehat lagi. Niat yang pada awalnya kita
ingin mengubah, justru karena kurang baiknya cara kita menyampaikan,malah kita
merubah. Menjadi rubah yang membawa keburukan.
Sebab itu, seringlah mencermati hati,
barangkali kita pernah termakan sendiri oleh nasehat yang kita berikan kepada
orang lain. Atau terkadang ada ketidaktulusan saat menyampaikan, masih butuh
syarat atas nasehat itu, lebih-lebih kalau ternyata kita merasa lebih baik dari
orang lain.
Menasehati itu sejatinya indah. Tapi
berhati-hatilah, agar tidak menjadi rubah.
Sije

Narsis Enggak Akan Eksis
![]() |
| Credit here |
Tema kali ini tentang virus narsis.
Virus yang saat ini melanda hampir sebagian besar ummat islam. Bukan cuma
mereka yang masih awam namun juga yang sudah dapat julukan akhwat dan ikhwan.
Hanya saja, tingkat dan cara narsisnya berbeda dengan yang lain.
Narsis sebenarnya bukan sekedar pamer
foto-foto selfie. Namun pada saat kita ‘publikasi’ kegiatan sehari-hari, itu
sudah cukup membuat kita disebut narsis. Mirisnya banyak ummat islam yang tidak
peka bahwa narsis bersaudara dekat dengan riya’. Sedangkan riya’ erat
hubungannya dengan sum’ah (senang memperdengarjan amal perbuatan baik kepada
orang lain dengan mengharap pujian).
Fenomena narsis yang menjangkiti ummat
ini harus segera diselesaikan. Sebab bila tidak, maka akan banyak amalan-amalan
ummat yang menguap hanya karena ketidakpekaan. Mengherankan memang, ketika ada
akhwat-akhwat yang gemar pasang status kegiatan sehari-hari seperti, ‘sedang
mendengarkan murotal syeikh A’ atau ‘hari ini lelah sekali. Tidak apa, yang
penting urusan ummat beres’. Contoh lain, sengaja update status di facebook pas
jam-jam tahajud, biar orang lain tahu kalau sudah bangun, dan lain sebagainya. Hanya satu pertanyaan
untuk mereka, penting ya?
Islam sudah sedari dulu mengatur
fenomena ini. Dalam sebuah ayat disebutkan
Allah Swt. berfirman
(yang artinya), “Dan (juga)
orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya’ kepada manusia,
dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian.
Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu
adalah teman yang seburuk-buruknya.” (QS
an-Nisaa’ [4]: 38)
Hati-hati, Allah sudah memberi
rambu-rambu yang jelas tentang riya’. Menurut Imam Al-Ghazali riya’ ada lima
bagian. Pertama,
riya’ dalam hal agama dengan penampilan jasmani, misalnya memperlihatakan tubuh
yang kurus dan badan yang pucat agar orang lain mengira itu akibat terlalu
sering puasa dan berjaga untuk ibadah. Padahal aslinya karena terlalu sering
begadang nonton bola.
Riya’ yang kedua riya’ dengan penampilan
sosok tubuh dan pakaian, seperti membiarkan bekas-bekas sujud di dahi, supaya
dikatakan rajin shalat dan ahli sujud, atau dengan memakai pakaian yang biasa
dipakai oleh orang-orang shalih agar ia dikatakan termasuk shalih.
Ketiga, Imam al-Ghazaly membagi bentuk
riya’ dalam hal perkataan. Misalnya, selalu berbicara masalah keagamaan supaya
dikatakan orang bahwa ia ahli agama atau pecinta agama. Kalau jaman sekarang
bisa disamakan dengan update status yang diniatkan untuk pemer kepahaman.
Keempat, Imam al-Ghazaly memasukkan
bentuk riya’ dalam hal perbuatan. Misalnya nih, sengaja memperbanyak shalat
sunat di hadapan orang lain supaya dikatakan shalih. Padahal apabila sedang
sendiri malas-malasan ibadah sunnah.
Riya’ yang terakhir menurut Imam Al-ghazali
terakhir dalam pembagian riya’ menurut Imam al-Ghazaly, yakni riya’ dalam hal
persahabatan. Misalnya sengaja berteman dengan orang alim tapi diniatkan agar
orang menganggap dirinya alim.
Masihkah juga ingin narsis? Masih ingat kisah tentang seseorang? Beliau
tidak punya satupun media sosial. Namun beliau sangat eksis. Semua orang segan,
bila ada yang menghina banyak yang siap membela. Apa yang dilakukannya
menyejarah, apa yang dikatakannya jadi sunnah. Ya, dialah Rasulullah. Tanpa narsis, beliau
tetap eksis sampai kapanpun.
Jadi masih ingin eksis dengan narsis?
Sije
Masih belajar untuk tidak narsis tapi tetap eksis

Saling Meminta Maaf
![]() |
| Credit here |
Tiga kata ajaib yang selama ini kita percaya mampu
membuat hubungan kita dengan sesama manusia menjadi lebih baik adalah maaf,
tolong, dan terimakasih. Tiga kata ini membuat kita sebagai manusia merasa
dihargai. Saat ada yang ‘menyuruh’ dengan didahului dengan kata ‘tolong’, rasa
kita sebagai orang yang disuruh pasti berbeda dengan saat disuruh tanpa kata
‘tolong’.
Begitu juga saat kita menolong seseorang, meskipun
kita tidak mengharapkan ucapan terima kasih, namun saat kawan kita berucap
terima kasih, ada rasa yang berbeda. Sesuatu yang manis dan itu tidak bisa
diucapkan bagaimana rasanya.
Juga dengan maaf, selama ini kita sering diajarkan
untuk saling memaafkan. Saat ada saudara kita melakukan kesalahan kepada kita,
tanpa diminta, kita sudah dibiasakan untuk memberi maaf. Saling memaafkan,
begitu katanya.
Namun, ada satu yang sering kita lupa. Satu hal yang
menjadi pasangan dari saling memaafkan, yaitu saling meminta maaf. Saat orang
lain tersakiti, tanpa kita menunggu orang lain berpikir untuk memaafkan, kita
yang terlebih dahulu meminta maaf.
Saling meminta maaf ini erat hubungannya dengan
kepekaan sosial kita. Bagaimana kita bisa cerdas mengelola emosi orang lain.
Juga kecerdasan kita untuk melihat kedalam diri kita, apa yang salah dari sikap
dan sifat kita. Tidak melulu mencari pembenaran atau menyalahkan orang lain.
Kebiasaan saling meminta maaf ini tidak kalah
penting dengan saling memaafkan. Bukankah menyenangkan ketika kita bertemu
pribadi yang sebelum kita meminta dia sudah memberi maaf. Atau sebelum kita
berpikir untuk memberi maaf, dia sudah ‘tahu diri’ lalu berlomba untuk minta
maaf. Bukankah menarik kalau pribadi itu adalah pribadi kita.
Sije
Maafkan
saya ya
Kaos Kaki Kampus
| Credit here |
Banyak yang bilang kampus adalah kawah candradimuka. Apapun yang masuk ke dalamnya
akan menjadi berkilau dan bersinar setelah keluar darinya. Tidak heran kalau
banyak kader-kader dakwah yang tercetak di kampus. Mereka yang pada saat SMA,
tidak mengenal dakwah bisa menjadi pembela dakwah yang luar biasa.
Bagi yang
putra, banyak yang awalnya lebih suka pakai celana jeans ketat, setelah
mengenal kampus menjadi lebih rapi. Menyimpan rapat celana jeans ketat dan
belel. Berganti dengan celan kain yang menggantung.
Hal ini
berlaku juga untuk para muslimah. Saat masih awal-awal dikampus biasanya masih
belum syar’I penampilannya. Namun begitu terjun di organisasi kampus apalagi
rohis, secara cepat langsung berubah dan berbenah. Mulai memanjangkan jilbab,
melonggarkan baju, dan tentu saja tidak lupa menggunakan kaos kaki.
Semua
terasa tenang terjaga saat masih di lingkungan kampus. Saat usil sudah
mengusik, ada saja saudara yang mengingatkan. Saat jilbab mulai tipis, ada saja
saudara yang menyegarkan ingatan. Saat kaos kaki mulai pendek, selalu ada
saudara yang ‘cerewet ceramah’ tentang cara-cara menjaga aurat yang benar. Tapi
bagaimana kalau sudah lepas dari kampus? Sudah lulus dan akhirnya mengabdi di
masyarakat, keluar dari kawah candradimuka.
Banyak yang
masih bertahan dengan apa yang didapatkannya di kampus. Mengaplikasikan ilmu
tanpa tapi. Namun seringnya, banyak ditemukan para mantan aktivis kampus ini
kehilangan ciri khasnya. Salah satunya adalah kaos kaki.
Tidak
sedikit muslimah yang saat di kampus begitu menjaga aurat, begitu keluar dari
kampus merasa ‘berhak’ untuk memberikan kelonggaran pada dirinya sendiri. Alasannya klise, masyarakat belum bisa
menerima dirinya yang seperti itu. Akhirnya mulailah satu persatu berubah.
Mulai dengan menanggalkan kaos kaki, saat keluar rumah. Lalu mulai merasa risih
sendiri dengan jilbab besar yang selama ini dikenakan. Merasa tidak mengapa
bila sedikit saja dikecilkan. Alasan ‘yang penting masih syar’i’ seolah menjadi
pendorong paling kuat untuk mengubah diri.
Hingga
akhrinya kaos kaki hanya tinggal kenangan. Hanya sekedar menjadi kaos kaki
kampus yang pernah dipakai saat berapa di kawah candradimuka.
Bagaiaman
cara mengantisipasinya?
Ada banyak
hal yang bisa kita lakukan, tergantung seperti apa pribadi kita. Kalau memang
sudah cukup kuat sendiri untuk menjaga diri mungkin ini bukan sebuah masalah.
Masalahnya adalah apabila kita termasuk salah satu jenis orang yang hanya mampu
bertahan saat ada yang melihat dan mengawasi. Bila kita termasuk jenis yangkedua,
cara mengatasinya adalah dengan tetap berdekatan dengan komunitas yang baik dan
bisa menjaga. Misalnya komunitas pengajian atau remaja masjid di kampung.
Cara lain
adalah dengan tetap mendatangi majelis-majelis ilmu yang ada. Sehingga ruhiyah
kita tetap terkondisikan dengan baik. Semakin terjaga ruhiyah maka penjagaan
terhadap diri juga akan mengikuti (ikut menjadi baik).
Sije
Senin, Oktober 26, 2015

Sebuah Rumah yang Dimimpikan
![]() |
| Credit here |
Bagaimana ya menuliskannya. Saya sering memimpikan punya rumah yang biasa saja. Nah, bingung kan.
Kalau mendengar kata rumah, yang ada di kepala saya adalah sebuah rumah sederhana di sebuah desa, kayu, dipoles warna coklat, lengkap dengan halaman. Tidak perlu luas tapi bisa digunakan untuk menanam. Tidak perlu bangunan besar, namun cukup untuk menampung keluarga besar. Sebab saya ingin rumah saya meriah. Tidak asyik kalau hanya keluarga kecil.
Rumah yang nyaman, bukan karena mewahnya namun karena takwa para penghuninya. Dan yang pasti, dari rumah itu akan lahir para juara. Pemimpin bangsa. Ya karena saya menyadari tanggungjawab sebagai perempuan, saya ingin mewariskan cita-cita besar ini kepada generasi saya selanjutnya.
Ah bukankah menyenangkan punya rumah yang seperti itu?
Senorita
Seorang perempuan yang bercita-cita di rumah ‘saja’
Minggu, Oktober 04, 2015

Bersabarlah! Terus dan Terus
![]() |
| Credit here |
Sabar. Bukan diam menerima apapun perlakuan yang terjadi pada diri kita
Sabar. Bukan berarti tidak peduli apapun yang ada disekitar kita. Saudara, tetangga, teman sekelas, dan mereka yang pernah muncul dalam hidup kita.
Sabar. Tetap percaya pada Allah, dan tetap menjadi makhluk yang bisa dipercaya oleh Allah.
Tetap berjuang dan bertanggungjawab atas apa yang dimulai. Tentang list cita-cita yang harus segera dikurangi jumlahnya.
Bersabar itu, tetap fokus dengan apa yang telah direncanakan. Tidak mudah tergoda atas kilau dunia yang ada di sekitar kita.
Bersabar atas apapun skenario hidup yang telah Allah tuliskan dan segera kita jalani. Terus berprsangka baik atas apa yang akan terjadi.
Bersabar itu tak terbatas dan Engkau yakin Allah telah membuat skenario yang seindah-indahnya di ujung jalan sana.
Selamat berjuang. Sampai bertemu di ujung jalan. Semoga kita bertetangga di surga. InsyaAllah. Aamiin.

Apa menurutmu orang dewasa tidak boleh menangis?
![]() |
| Credit here |
Beberapa bulan lalu,
Saya ingat percakapan saya dengan seorang kawan. Lupa tepatnya membicarakan apa.
Hari ini aku menangis. Kekanak-kanakkan ya.
Bunyi pesan saya waktu itu.
Apa menurutmu orang dewasa tidak boleh menangis?
Jawabnya
Saya terdiam. Diam-diam saya mengagumi orang-orang yang dengan mudah membuat saya terdiam. Tanpa paksaan, namun dengan kata-kata yang entah bagaimana caranya bisa membius dengan kuat.
Tiap kita punya alasan untuk sedu sedan.
Sedu yang begitu nikmat saat dirasakan bersama khusuknya sholat. Dan hanya mereka yang dewasa yang pernah merasakannya.
Jadi, bolehkah orang dewasa menangis? Tentu. Menangislah.
Selasa, April 07, 2015

Dia yang Selalu Ada dan Dirindukan
![]() |
| Credit here |
Dia manusia biasa. Sangat bisa salah. Tidak jarang dia khilaf dan melakukan dosa. Benar-benar biasa. Bukan yang istimewa dan luar biasa. Dia manusia dengan segala kekurangan yang melekat dalam dirinya. Namun dia tidak pernah berhenti untuk berusaha menjadi lebih baik. Dan itulah yang membuat dia istimewa sebagai manusia dibalik segala apa yang dia tidak bisa.
Lalu siapa dia? Dia adalah seseorang yang selalu saya harapkan untuk lahir terlebih dulu. Yap, sedari dulu saya ingin sekali punya kakak laki-laki.
Keinginan yang aneh? Bisa jadi.
Langganan:
Postingan (Atom)
