Tampilkan postingan dengan label Absurd. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Absurd. Tampilkan semua postingan

Senin, Januari 22, 2018

Hai

Jadi kapan terakhir kali saya menulis di sini?


Lama sekali ya. Adakah yang rindu tulisan random saya? Atau malah sebenarnya saya tidak punya pembaca setia? Hahaha. Marilah sejenak berpura-pura, bahwa sebenarnya banyak sekali yang membaca. Woi...itu yang tertulis di halaman depan apa non? Kelihatan kali berapa orang yang sudah pernah mampir dimari.

Ah, bodo amat. Bisa kan kita sehari saja tidak perlu mendebatkan hal-hal yang tidak cukup bermutu.

Jadi kemana saya selama ini?

Saya kerja saudaraa. Ada begitu banyak deadline yang harus saya selesaikan setiap harinya. Ngeluh? Hmm No. Hanya terkadang pengen bebas hambatan untuk jalan-jalan. Wkakaka.

Then, selanjutnya, tunggu ya tulisan random-random saya.

Kamis, Februari 23, 2017

Bahkan Ini pun Harus Kita syukuri

Credit here
Masih ada yang menggerutu tentang pekerjaannya saat ini? Capek, teman kantor yang nggak oke, bos yang galak, atau kalau punya usaha, sepinya order, ditipu orang dan lain sebagainya.

Saya ingin mengajak melihat beberapa fenomena yang ada di sekitar. Fenomena yang harusnya membuat kita mensyukuri apapun yang bisa kita lakukan (yang bisa jadi tidak bisa orang lain lakukan). Setiap senin sore saya selalu melewati satu ruas jalan yang sama. Jalan gambir, kalau masih ada yang tidak tahu, arah ke utara dari fakultas teknik Universitas Negeri Yogyakarta. Setiap senin sore itu pula, Allah menampar saya. Ada seorang bapak yang sudah berumur. Sudah tua dan bungkuk, sedang menunggui jualannya berupa mainan tradisional. Mainan yang tidak semua anak suka, apalagi di era generasi gadget seperti ini.

Kedua, di sekitar ruas jalan yang sama, saya beberapa kali menemui bapak (kalau tidak boleh disebut kakek) sedang mendorong keranjangnya yang berisi penuh celengan dari tanah berbentuk kuda-kudaan, ayam-ayaman dan sejenisnya. Si bapak ini beberapa kali menjajakan jualannya di sekitaran kampus.

Ketiga, ada seorang bapak yang atas ijin Allah dibuat istimewa (tidak bisa melihat), pada hari-hari terentu dia akan menjajakan jualannya berupa keset, sulak (kemoceng), kain lap dan sejenisnya di sekitaran masjid kampus UGM.

Keempat, bagi yang domisili di Jogja coba sekali-sekali saat pagi hari, belanja di pasar demangan.  Setelah belanja sempatkan untuk lewat di dekat bak sampah (sebuah kotak besar dari semen) yang ada di  pojok depan pasar. Disana akan ditemui seorang bapak yang duduk di antara tumpukan sampah sambil memilah-milah sampah. Mana yang bisa dijual kembali dan mana yang tidak. Inilah kenapa buat para mbak-mbak dan ibu-ibu, kalau buang (maaf) pembalut tolong lebih hati-hati.

Kelima, ahh rasanya saya nyaris tidak sanggup menuliskannya, setiap sore (akhir-akhir ini tidak ada) ada sepasang suami istri (sudah berumur) menjajakan topi anyaman. Jangan pikirkan seperti topi anyaman yang untuk di pantai. Dan beberapa kali saya lihat, jualannya tidak kunjung berkurang banyak.

Pernah saya berpikir dan mungkin banyak orang lain yang berpikir serupa, kenapa sih bapak-bapak itu tidak berjualan yang mudah habis atau minimal yang ‘lebih modern’. Kan kalau mudah habis orang akan beli lagi, misalnya makanan. Lha kalau yang dijual celengan kuda-kudaan, atau mainan, kan nggak mungkin setiap hari beli. Nggak mungkin kan dalam satu hari celengannya penuh.

Namun, kemudian saya berpikir bagaimana kalau memang hanya itu keahlian yang mereka punya. Membuat celengan dari tanah, merangkai bilah-bilah bambu untuk membuat mainan, menganyam rotan untuk membuat topi dan lain-lain.

Ada satu hal yang harus segera kita syukuri, kemampuan untuk bertahan hidup. Kemampuan yang atas ijin Allah menempel pada diri kita. Bisa menulis, mengajar, ilmu kedokteran, ilmu tentang bumi (perminyakan, geologi, geografi dll), kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik, kemampuan marketing yang mudah diterima dan lain sebagainya. Bisa dibayangkan kalau tetiba Allah membalik semuanya? Ilmu-ilmu yang kita miliki berpindah tubuh ke orang lain misalnya.
Itulah kenapa ada hak orang lain dari harta kita.

Zink!! Ini kenap tetiba saya jadi begitu serius begini ya, Oh no, kotak tertawa, mana kotak tertawa.

Sije

Senin, Februari 20, 2017

Foto Dulu, Foto Lagi, dan Foto Terus

Credit here
Teknologi memang seperti pisau bermata dua. Satu sisi bisa menjadi manfaat, namun disisi lain juga bisa menjadi bumerang yang mampu menghancukan penggunannya. Salah satu teknologi yang saat ini banyak digunakan oleh masyarakat adalah handphone a.k.a Hp.

Sekarang ini hampir semua lapisan masyarakat mempunyai handphone. Mulai dari masyarakat pedesaan hingga perkotaan. Tidak tanggung-tanggung, bukan hanya untuk telfon dan sms namun juga dilengkapi fitur kamera. Teknologi komunikasi memang berkembang cukup pesat, yang awalnya hanya handphone biasa, kini sudah muncul yang namanya smartphone. Fitur yang ditawarkan beragam, mulai dari kamera dengan hasil gambar yang jelas, hingga aplikasi media sosial yang bisa langsung diakses kapan saja.

Kemudahan yang diberikan oleh smartphone ini kini membawa tuah. Banyak remaja kita yang sekarang dijangkiti virus foto selfie. Dimana saja dan kapan saja foto selfie tidak pernah terlupa. Saat menunggu antrian, selesai sholat tarawih, waktu pergi ke tempat wisata, disemua tempat yang dilalui dan disinggahinya. Moto yang digunakan, foto dulu, foto lagi, dan foto terus.

Fenomena ini tidak hanya berhenti sampai foto saja, setelah foto selfie, hal reflek yang banyak kita lakukan adalah mengunggahnya di sosial media. Berburu like dan komentar. Ada rasa jumawa bila banyak yang like atau memberikan komentar. Niat awal yang hanya sekedar mengunggah foto kini menjadi niat ingin mendapat banyak pujian dan like.

Fenomena ini mau tidak mau harus mendapat porsi tersendiri untuk ditangani. Sebab, virus ini katanya banyak menjangkiti para muslimah yang konon fitrahnya bermahkotakan rasa malu. Syetan dengan halusnya memberikan bujuk rayu agar senang foto, senang pamer, dan akhirnya mengharap pujian dari orang lain.

Pada beberapa kelompok ada yang sebenarnya tidak ada niatan untuk pamer foto, namun tidak menyadari bahwa foto yang diunggahnya ke sosial media tanpa manfaat yang mendesak justru membuat mudhorot bagi orang lain. Banyak muslimah yang bersungut-sungut tak suka ketika ada laki-laki yang menggodanya. Namun diwaktu yang sama masih sering kali mengunggah foto selfie cantiknya. Bersembunyi di belakang kalimat, “ah…salah sendiri tidak bisa jaga mata”. Kepada kita yang masih seperti ini, ada sebuah nasehat.

Kita tidak pernah tahu kondisi iman saudara kita. Maka tugas kitalah untuk saling menjaga iman saudaranya yang lain. Salah satunya adalah dengan tidak melakukan hal-hal yang justru membuat iman mereka turun. Bagaimana kalau ternyata foto-foto kita lah yang selama ini membuat rontok iman mereka?

Lalu apakah muslimah tidak boleh berfoto?
Ulama masih berbeda pendapat tentang ini. Namun kalau pun berpegangan dengan pendapat ulama yang memperbolehkan foto, alangkah baiknya foto-foto itu disimpan sendiri, untuk konsumsi pribadi. Tak perlulah diunggah ke sosial media. Bukankah setiap apa yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban nantinya. Pun diunggah, seperlunya saja. Sebutuhnya. Tentu saja kebutuhan eksis seorang public figure berbeda dengan ibu rumah tangga biasa.

Satu yang jauh lebih penting dari semuanya adalah, apa jawaban kita atas foto-foto yang beredar di dunia maya?


Sije

Hari Gini Tanya Kapan Nikah? Kuno!

Credit here
Kita hidup di negeri yang penuh bully. Mau salah atau benar, tidak ada yang luput dari ‘dunia perbullyan’. Satu hal yang sering dijadikan tema bully adalah nikah, dan ini erat kaitannya dengan jomblo. Dua hal ini menjadi trending topik paling atas dalam ‘dunia perbullyan’. Kaum jomblo seolah menjadi sasaran empuk untuk ‘dibabakbelurkan’. Kadang tidak hanya mereka yang memang sengaja ‘sorangan wae’ kena getahnya. Mereka yang menjaga untuk tidak pacaran atau sedang dalam rangka memperbaiki diri juga sering kena bully.

Bagi yang tidak tahan, biasanya menarik diri dari lingkungan. Bosan ditanya kapan nikah. Mencari komunitas yang bernasib sama. Menjauh dari keluarga besar, karena tidak kuat menahan kuping yang memerah akibat ‘cibiran’ yang kadang serasa tidak sengaja namun membiasa.

Siapa pula yang tahan bila setiap hari ditanya hal yang sama. Padahal jelas tahu kalau sedang berusaha mewujudkannya. Parahnya lagi tidak jarang diikuti dengan cerita untuk menakut-nakuti, mulai dari perawan tua, hingga mati tanpa sempat mendua. Sebal? Sama!  

Bullyan ‘kapan nikah’ sekarang ini membudaya. Bukan hanya di pertemuan keluarga, reuni TK pun juga banyak yang bertanya. Padahal bila mau sedikit saja peka, apakah bullyan semacam itu merupakan sebuah prestasi? Mungkinkah itu memberikan solusi? Atau justru malah sebaliknya, semakin memperkeruh suasana dan merenggangkan persaudaraan antar sesama.
Bila kita mau berkaca pada Alquran dan hadits Nabi, pasti bullyan semacam ini tidak akan ada.
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al Hujuraat 10)

Hadis riwayat Nukman bin Basyir RA, ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam. (HR.Muslim)

Hadis riwayat Abu Musa RA dia berkata:
Rasulullah SAW bersabda: Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan di mana bagiannya saling menguatkan bagian yang lain. (HR. Muslim)

Allah sudah memberikan perintah sejak dahulu bahwa sesama muslim adalah saudara yang harus saling kasih mengasihi. Sepenanggungan. Bila satu tersakiti, maka yang lain pun merasa tersakiti. Lalu bila hampir setiap hari kita membully saudara kita tanpa memberi solusi, apakah bisa kita disebut orang-orang yang beriman?

Bukankah lebih menyenangkkan bila pertanyaan, “Kapan nikah?” diganti dengan, “Mau yang seperti apa? Sini saya bantu cari.” Bukan membully tapi memberi solusi.


Hari gini masih tanya kapan nikah? Kuno!

Perempuan, Laki-laki dan Foto

Credit here
Tulisan ini, catatan ke-101 di facebook saya. Mau berteman, silakan berkunjung dimari.

Semakin hari, saya semakin menikmati dunia perempuan. Banyak hal yang menarik, meskipun banyak hal yang kontroversial. Apalagi tradisi kita di Indonesia kebanyakan menggunakan 'Patriarki'. Seolah Perempuan itu tidak ada ruang untuk aktualisasi diri. Hal ini membuat saya semakin penasaran. Benarkah? Mungkin karena saya lahir di keluarga tanpa anak laki-laki. Jadi saya tidak melihat perbedaan bagaimana bersikap kepada anak laki-laki dan kepada anak perempuan. 

Berbicara tentang laki-laki dan perempuan, saya jadi teringat sesuatu. Beberapa waktu lalu ada seseorang bertamu ke rumah (kontrakan) saya. Teman dulu di organisasi saat kuliah. Beliau menyampaikan sebuah titipan dari seseorang. Lalu mulailah kita ngobrol ngalur ngidul, saling bertukar kabar teman-teman lama. Hingga akhirnya kita sampai pada bahasan interaksi antara laki-laki dan perempuan. Saya masih ingat, saat itu saya menanyakan nama seseorang, 

"Kenal sama si X nggak?"

"Iya kenal, kenapa? Nggak beres ya. Iya itu sudah banyak yang menasehati kok. Sudah ditanting juga. Tapi dianya nggak berani". 

Lalu teman saya bertanya, 

"Kenal sama ini?" Dia menyebutkan nama seseorang. Perempuan. 

"Oh, nggak. Kenapa?"

"Nggak apa-apa" Jawabnya. 

Bukan saya kalau nggak penasaran dengan apa yang saya dengar setengah. Saya search FB dengan nama yang disebutkan teman saya itu. Kebetulan banyak mutual friend. Jadi tidak sulit mencarinya. Sekilas tidak ada yang aneh. Biasa saja. Mbaknya cantik. Ya namanya juga perempuan, pasti cantik kan. Lalu saya mulai mengepo foto profile-nya. 

WAOW! 

Saya menemukan beberapa eh banyak fotonya. Berjilbab syar'i. Tertutup rapat. Hmm meskipun dengan wajah close up. Saya sendiri sebagai perempuan risih. Fotonya sangat close up dan dengan berbagai macam gaya. Saya bukan ahli tafsir memang. Jadi saya juga kurang tahu apa hukum pastinya yang kayak gitu. Foto syar'i tapi close up. Ah, kalau ada salah satu pembaca yang tahu, silahkan komen. :) 


Lebih-lebih ada begitu banyak komentator mengerubungi foto-foto itu. Sebagian besar laki-laki. Ikhwan, ah mungkin masih bakwan kali ya. Bakal ikhwan, atau mungkin itong, ikhwan sepotong. Pokonya berjenis kelamin laki-laki. 

Komennya beragam, mulai dari:

"Subhanallah"

"Cantiknya"

"Kenalan donk"

"Kalau punya istri seperti ini...."

"Wajah bidadari" 

Sampai,

"Mbak, boleh minta fotonya?" 

Lalu kalau sudah begini, siapa yang harus evaluasi diri? Hanya perempuan kah? Kan perempuan yang mancing-mancing. Kalau nggak dipancing, laki-laki juga nggak tergoda buat lihat. Apalagi itu di upload di FB. Terbuka untuk umum kan berarti. 

Atau harus laki-laki saja yang mengevaluasi diri?

Dasar laki-laki. Matanya jelalatan kemana-mana. Kalau lihat cewek cantik, apalagi akhwat, pengennya dideketin. PDKT lewat facebook. Komen-komen nggak jelas. Semua status di-like. 

Lalu ditutuplah dengan dengan sebuah kalimat. 

Perempuan dimana-mana sama saja. Tukang menggoda!!

dan 

Laki-laki dimana-mana sama saja. Mata keranjang!! 

Jadinya salah semua nih? 


Kalau katanya Pak Jalal di Para Pencari Tuhan sih, laki-laki menahan, perempuan menjaga. 

Sije

Jangan Bully Jomblo

Credit here

Oke, bosen baca-baca berita pilkada mulu, sekali-kali bikin tulisan kayak gini. Akhir-akhir ini saya sering menemukan gerakan bully Jomblo. Baik itu di iklan TV, Instagram, FB, dll. Jadi merasa terusik aja. Buka apa-apa. Hanya saja, apa yang mereka lakukan tidak berimbang. Bukan mengajak ke arah yang lebih baik, tapi sebaliknya.

Satu sisi banyak masyarakat yang menganggap kalau jomblo itu aib. Okelah, siapa sih yang mau hidup sendiri? Rosul aja berkeluarga. Tapi apa iya selamanya jomblo itu aib? Mari kita bahas. Gerakan bully jomblo ini secara tidak sadar tersebar begitu cepat.  Sasarannya siapa? Yap, remaja! Bukan mereka yang sudah siap tidak menjomblo. Kalimat yang terakhir tidak akan saya bahas.

 Remaja kita mamen yang terpapar bully-an ini. Akibatnya banyak remaja kita yang merasa jomblo itu aib. Saya pernah bertemu remaja umur 15 tahun yang galau tingkat dewa gegara merasa dia nggak laku. Segitunya banget gitu. Payahnya lagi, saat saya berkesempatan ngobrol dengan siswa di sebuah sekolah ternama di Yogya dan saya menceritakan hal ini, mereka bilang, “ya wajar kan mbak kalau dia merasa nggak laku.” Duh, pengen pingsan.

Kenapa gerakan Bully jomblo ini harus disudahi? 

Fenomena yang kemudian hadir di remaja kita adalah Bully jomblo yang tidak punya pacar. See? Kemana arahnya? Susah payah kita mengajarkan pendidikan karakter (duh opo iki), hasilnya zonk hanya gegara gerakan tidak mutu ini. Remaja kita digiring kepada pemahaman, bahwa tidak punya pacar itu aib. Kalau malem minggu dirumah saja itu mengenaskan. Bukan hanya sekedar jomblo itu aib.


 Lalu dimana keinginan untuk berprestasi itu diletakkan? Ketika semua media sosial menuju kearah yang sama?
  
Jadi ingat grup JV (justice voice), terakhir sepanggung dengan mereka tahun 2013 silam. Save our masjid, keep our heart and also selamatkan generasi ini. 

-Catatan random untuk memantik ide selanjutnya- 

Sije


Kamis, Februari 09, 2017

Merubah atau Mengubah

Credit here
Suatu hal umum ketika melihat keburukan, setiap orang dengan hati yang baik dan bersih pasti ingin menjadikan keburukan tersebut sesuatu yang baik. Apakah itu dengan menghilangkan penyebab keburukannya atau dengan memoles keburukan itu hingga akhirnya perlahan keburukan itu terhapuskan. Pada akhirnya tetap sama, menghilangkan keburukan untuk mendapatkan yang baik.

Sudah menjadi hakekat manusia untuk saling menasehati dalam kebaikan. Menasehati menjadi suatu hal yang reflek dilakukan pada saat orang disekitar kita melakukan kesalahan baik itu disengaja atau pun tidak. Sayangnya, banyak orang yang kurang terampil dalam seni menasehati, hingga akhirnya bukan kebaikan yang didapatkan melainkan justru perselisihan yang berkepanjangan.

Menasehati bukan hanya sekedar antara orang tua kepada anak kecil, atau antar seumuran, terkadang nasehat menasehati juga mau tidak mau harus dilakukan dari orang yang lebih muda kepada orang yang usianya lebih tua. Misalnya dari anak kepada orang tuanya. Hal ini sering menimbulkan salah presepsi apabila cara yang digunakan untuk menasehati kurang pas.

Pada dasarnya menasehati itu baik, tapi hal yang tidak boleh kita lupakan adalah kita paham atas konsekuensi menasehati. Menasehati tidak boleh menyertakan nafsu, tak boleh merasa diri yang lebih baik, tulus tanpa syarat, dan yang terpenting adalah sebagai orang yang menasehati, kita paham serta sudah menjalankan apa yang kita nasehatkan. Ini penting sebab pada dasarnya menasehati adalah ingin mengubah, bukan sebaliknya merubah, menjadi rubah yang justru bisa merusak.

Sebab setiap nasehat yang disampaikan kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Semakin banyak yang dinasehatkan, semakin banyak pula beban yang nantinya akan dipertanggungjawabkan. Seperti dalam firmanNya.

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”(QS. As-Shaff: 2-3)

Dalam Ayat yang lain disebutkan:
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”(QS. Al-Baqarah: 44)

Kurang pas menasehati juga dapat membuat orang dinasehati bukan semakin baik namun justru semakin buruk, lebih parah lagi malah tidak mau menerima nasehat lagi. Niat yang pada awalnya kita ingin mengubah, justru karena kurang baiknya cara kita menyampaikan,malah kita merubah. Menjadi rubah yang membawa keburukan.

Sebab itu, seringlah mencermati hati, barangkali kita pernah termakan sendiri oleh nasehat yang kita berikan kepada orang lain. Atau terkadang ada ketidaktulusan saat menyampaikan, masih butuh syarat atas nasehat itu, lebih-lebih kalau ternyata kita merasa lebih baik dari orang lain.

Menasehati itu sejatinya indah. Tapi berhati-hatilah, agar tidak menjadi rubah.

Sije

Narsis Enggak Akan Eksis

Credit here

Tema kali ini tentang virus narsis. Virus yang saat ini melanda hampir sebagian besar ummat islam. Bukan cuma mereka yang masih awam namun juga yang sudah dapat julukan akhwat dan ikhwan. Hanya saja, tingkat dan cara narsisnya berbeda dengan yang lain.

Narsis sebenarnya bukan sekedar pamer foto-foto selfie. Namun pada saat kita ‘publikasi’ kegiatan sehari-hari, itu sudah cukup membuat kita disebut narsis. Mirisnya banyak ummat islam yang tidak peka bahwa narsis bersaudara dekat dengan riya’. Sedangkan riya’ erat hubungannya dengan sum’ah (senang memperdengarjan amal perbuatan baik kepada orang lain dengan mengharap pujian).

Fenomena narsis yang menjangkiti ummat ini harus segera diselesaikan. Sebab bila tidak, maka akan banyak amalan-amalan ummat yang menguap hanya karena ketidakpekaan. Mengherankan memang, ketika ada akhwat-akhwat yang gemar pasang status kegiatan sehari-hari seperti, ‘sedang mendengarkan murotal syeikh A’ atau ‘hari ini lelah sekali. Tidak apa, yang penting urusan ummat beres’. Contoh lain, sengaja update status di facebook pas jam-jam tahajud, biar orang lain tahu kalau sudah bangun,  dan lain sebagainya. Hanya satu pertanyaan untuk mereka, penting ya?

Islam sudah sedari dulu mengatur fenomena ini. Dalam sebuah ayat disebutkan
Allah Swt. berfirman (yang artinya), “Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya’ kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.” (QS an-Nisaa’ [4]: 38)

Hati-hati, Allah sudah memberi rambu-rambu yang jelas tentang riya’. Menurut Imam Al-Ghazali riya’ ada lima bagian. Pertama, riya’ dalam hal agama dengan penampilan jasmani, misalnya memperlihatakan tubuh yang kurus dan badan yang pucat agar orang lain mengira itu akibat terlalu sering puasa dan berjaga untuk ibadah. Padahal aslinya karena terlalu sering begadang nonton bola.

Riya’ yang kedua riya’ dengan penampilan sosok tubuh dan pakaian, seperti membiarkan bekas-bekas sujud di dahi, supaya dikatakan rajin shalat dan ahli sujud, atau dengan memakai pakaian yang biasa dipakai oleh orang-orang shalih agar ia dikatakan termasuk shalih.

Ketiga, Imam al-Ghazaly membagi bentuk riya’ dalam hal perkataan. Misalnya, selalu berbicara masalah keagamaan supaya dikatakan orang bahwa ia ahli agama atau pecinta agama. Kalau jaman sekarang bisa disamakan dengan update status yang diniatkan untuk pemer kepahaman.

Keempat, Imam al-Ghazaly memasukkan bentuk riya’ dalam hal perbuatan. Misalnya nih, sengaja memperbanyak shalat sunat di hadapan orang lain supaya dikatakan shalih. Padahal apabila sedang sendiri malas-malasan ibadah sunnah.
Riya’ yang terakhir menurut Imam Al-ghazali terakhir dalam pembagian riya’ menurut Imam al-Ghazaly, yakni riya’ dalam hal persahabatan. Misalnya sengaja berteman dengan orang alim tapi diniatkan agar orang menganggap dirinya alim.

Masihkah juga ingin narsis?  Masih ingat kisah tentang seseorang? Beliau tidak punya satupun media sosial. Namun beliau sangat eksis. Semua orang segan, bila ada yang menghina banyak yang siap membela. Apa yang dilakukannya menyejarah, apa yang dikatakannya jadi sunnah.  Ya, dialah Rasulullah. Tanpa narsis, beliau tetap eksis sampai kapanpun.

Jadi masih ingin eksis dengan narsis?

Sije

Masih belajar untuk tidak narsis tapi tetap eksis

Saling Meminta Maaf

Credit here
Tiga kata ajaib yang selama ini kita percaya mampu membuat hubungan kita dengan sesama manusia menjadi lebih baik adalah maaf, tolong, dan terimakasih. Tiga kata ini membuat kita sebagai manusia merasa dihargai. Saat ada yang ‘menyuruh’ dengan didahului dengan kata ‘tolong’, rasa kita sebagai orang yang disuruh pasti berbeda dengan saat disuruh tanpa kata ‘tolong’.

Begitu juga saat kita menolong seseorang, meskipun kita tidak mengharapkan ucapan terima kasih, namun saat kawan kita berucap terima kasih, ada rasa yang berbeda. Sesuatu yang manis dan itu tidak bisa diucapkan bagaimana rasanya.

Juga dengan maaf, selama ini kita sering diajarkan untuk saling memaafkan. Saat ada saudara kita melakukan kesalahan kepada kita, tanpa diminta, kita sudah dibiasakan untuk memberi maaf. Saling memaafkan, begitu katanya.

Namun, ada satu yang sering kita lupa. Satu hal yang menjadi pasangan dari saling memaafkan, yaitu saling meminta maaf. Saat orang lain tersakiti, tanpa kita menunggu orang lain berpikir untuk memaafkan, kita yang terlebih dahulu meminta maaf.

Saling meminta maaf ini erat hubungannya dengan kepekaan sosial kita. Bagaimana kita bisa cerdas mengelola emosi orang lain. Juga kecerdasan kita untuk melihat kedalam diri kita, apa yang salah dari sikap dan sifat kita. Tidak melulu mencari pembenaran atau menyalahkan orang lain.

Kebiasaan saling meminta maaf ini tidak kalah penting dengan saling memaafkan. Bukankah menyenangkan ketika kita bertemu pribadi yang sebelum kita meminta dia sudah memberi maaf. Atau sebelum kita berpikir untuk memberi maaf, dia sudah ‘tahu diri’ lalu berlomba untuk minta maaf. Bukankah menarik kalau pribadi itu adalah pribadi kita.
Sije
Maafkan saya ya

Kaos Kaki Kampus

Credit here
Banyak yang bilang kampus adalah kawah candradimuka. Apapun yang masuk ke dalamnya akan menjadi berkilau dan bersinar setelah keluar darinya. Tidak heran kalau banyak kader-kader dakwah yang tercetak di kampus. Mereka yang pada saat SMA, tidak mengenal dakwah bisa menjadi pembela dakwah yang luar biasa.

Bagi yang putra, banyak yang awalnya lebih suka pakai celana jeans ketat, setelah mengenal kampus menjadi lebih rapi. Menyimpan rapat celana jeans ketat dan belel. Berganti dengan celan kain yang menggantung.

Hal ini berlaku juga untuk para muslimah. Saat masih awal-awal dikampus biasanya masih belum syar’I penampilannya. Namun begitu terjun di organisasi kampus apalagi rohis, secara cepat langsung berubah dan berbenah. Mulai memanjangkan jilbab, melonggarkan baju, dan tentu saja tidak lupa menggunakan kaos kaki.

Semua terasa tenang terjaga saat masih di lingkungan kampus. Saat usil sudah mengusik, ada saja saudara yang mengingatkan. Saat jilbab mulai tipis, ada saja saudara yang menyegarkan ingatan. Saat kaos kaki mulai pendek, selalu ada saudara yang ‘cerewet ceramah’ tentang cara-cara menjaga aurat yang benar. Tapi bagaimana kalau sudah lepas dari kampus? Sudah lulus dan akhirnya mengabdi di masyarakat, keluar dari kawah candradimuka.

Banyak yang masih bertahan dengan apa yang didapatkannya di kampus. Mengaplikasikan ilmu tanpa tapi. Namun seringnya, banyak ditemukan para mantan aktivis kampus ini kehilangan ciri khasnya. Salah satunya adalah kaos kaki.

Tidak sedikit muslimah yang saat di kampus begitu menjaga aurat, begitu keluar dari kampus merasa ‘berhak’ untuk memberikan kelonggaran pada dirinya sendiri.  Alasannya klise, masyarakat belum bisa menerima dirinya yang seperti itu. Akhirnya mulailah satu persatu berubah. Mulai dengan menanggalkan kaos kaki, saat keluar rumah. Lalu mulai merasa risih sendiri dengan jilbab besar yang selama ini dikenakan. Merasa tidak mengapa bila sedikit saja dikecilkan. Alasan ‘yang penting masih syar’i’ seolah menjadi pendorong paling kuat untuk mengubah diri.

Hingga akhrinya kaos kaki hanya tinggal kenangan. Hanya sekedar menjadi kaos kaki kampus yang pernah dipakai saat berapa di kawah candradimuka.

Bagaiaman cara mengantisipasinya?
Ada banyak hal yang bisa kita lakukan, tergantung seperti apa pribadi kita. Kalau memang sudah cukup kuat sendiri untuk menjaga diri mungkin ini bukan sebuah masalah. Masalahnya adalah apabila kita termasuk salah satu jenis orang yang hanya mampu bertahan saat ada yang melihat dan mengawasi. Bila kita termasuk jenis yangkedua, cara mengatasinya adalah dengan tetap berdekatan dengan komunitas yang baik dan bisa menjaga. Misalnya komunitas pengajian atau remaja masjid di kampung.

Cara lain adalah dengan tetap mendatangi majelis-majelis ilmu yang ada. Sehingga ruhiyah kita tetap terkondisikan dengan baik. Semakin terjaga ruhiyah maka penjagaan terhadap diri juga akan mengikuti (ikut menjadi baik).

Sije

Senin, Oktober 26, 2015

Sebuah Rumah yang Dimimpikan





Credit here
Rumah. Bagi saya rumah itu…..

Bagaimana ya menuliskannya. Saya sering memimpikan punya rumah yang biasa saja. Nah, bingung kan.

Kalau mendengar kata rumah, yang ada di kepala saya adalah sebuah rumah sederhana di sebuah desa, kayu, dipoles warna coklat, lengkap dengan halaman. Tidak perlu luas tapi bisa digunakan untuk menanam. Tidak perlu bangunan besar, namun cukup untuk menampung keluarga besar. Sebab saya ingin rumah saya meriah. Tidak asyik kalau hanya keluarga kecil.

Rumah yang nyaman, bukan karena mewahnya namun karena takwa para penghuninya. Dan yang pasti, dari rumah itu akan lahir para juara. Pemimpin bangsa. Ya karena saya menyadari tanggungjawab sebagai perempuan, saya ingin mewariskan cita-cita besar ini kepada generasi saya selanjutnya.

Ah bukankah menyenangkan punya rumah yang seperti itu?


Senorita
Seorang perempuan  yang bercita-cita di rumah ‘saja’

Minggu, Oktober 04, 2015

Bersabarlah! Terus dan Terus

Credit here
Harus lebih banyak sabar yang dibangun untuk menyelesaikan semua ini.

Sabar. Bukan diam menerima apapun perlakuan yang terjadi pada diri kita


Sabar. Bukan berarti tidak peduli apapun yang ada disekitar kita. Saudara, tetangga, teman sekelas, dan mereka yang pernah muncul dalam hidup kita.

Sabar. Tetap percaya pada Allah, dan tetap menjadi makhluk yang bisa dipercaya oleh Allah.

Tetap berjuang dan bertanggungjawab atas apa yang dimulai. Tentang list cita-cita yang harus segera dikurangi jumlahnya.

Bersabar itu, tetap fokus dengan apa yang telah direncanakan. Tidak mudah tergoda atas kilau dunia yang ada di sekitar kita.

Bersabar atas apapun skenario hidup yang telah Allah tuliskan dan segera kita jalani. Terus berprsangka baik atas apa yang akan terjadi.

Bersabar itu tak terbatas dan Engkau yakin Allah telah membuat skenario yang seindah-indahnya di ujung jalan sana.

Selamat berjuang. Sampai bertemu di ujung jalan. Semoga kita bertetangga di surga. InsyaAllah. Aamiin. 

Apa menurutmu orang dewasa tidak boleh menangis?

Credit here
Malam ini tetiba ada yang tidak bisa dibendung. Mengalir begitu saja. Entah kenapa menjadi begitu perasa. Ini bukan kebiasaan saya yang lebih sering berteman dengan logika dan tanpa prasangka. Ini bukan kali pertama saya begini. Aneh? Tidak. Mungkin memang saya belum cukup mengenal sisi ‘perempuan’ saya.

Beberapa bulan lalu,

Saya ingat percakapan saya dengan seorang kawan. Lupa tepatnya membicarakan apa.

Hari ini aku menangis. Kekanak-kanakkan ya. 

Bunyi pesan saya waktu itu.

Apa menurutmu orang dewasa tidak boleh menangis?

Jawabnya

Saya terdiam. Diam-diam saya mengagumi orang-orang yang dengan mudah membuat saya terdiam. Tanpa paksaan, namun dengan kata-kata yang entah bagaimana caranya bisa membius dengan kuat.
Tiap kita punya alasan untuk sedu sedan.

Sedu yang begitu nikmat saat dirasakan bersama khusuknya sholat. Dan hanya mereka yang dewasa yang pernah merasakannya.

Jadi, bolehkah orang dewasa menangis? Tentu. Menangislah.

Selasa, April 07, 2015

Dia yang Selalu Ada dan Dirindukan

Credit here
Ada satu orang yang hingga sekarang ada dan selalu menadapat satu jatah rindu dan tempat tersendiri dalam hidup saya. Hingga sekarang saya belum pernah bertemu dengannya. Belum tahu namanya. Tidak tahu bentuk dan rupanya seperti apa. Namun itu tidak cukup bisa membuat rasa ingin bersua dengannya menguap hilang.

Dia manusia biasa. Sangat bisa salah. Tidak jarang dia khilaf dan melakukan dosa. Benar-benar biasa. Bukan yang istimewa dan luar biasa. Dia manusia dengan segala kekurangan yang melekat dalam dirinya. Namun dia tidak pernah berhenti untuk berusaha menjadi lebih baik. Dan itulah yang membuat dia istimewa sebagai manusia dibalik segala apa yang dia tidak bisa.
Lalu siapa dia? Dia adalah seseorang yang selalu saya harapkan untuk lahir terlebih dulu. Yap, sedari dulu saya ingin sekali punya kakak laki-laki.

Keinginan yang aneh? Bisa jadi.