Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan

Senin, Juli 15, 2019

Review Produk Hair Mask Natur Aloe Vera


Jadi, kapan terakhir saya menulis di blog ini? Hehe!
Saya mau pengakuan dosa dulu, jadi sekitar 3 tahun ini saya tengah tersibukkan dengan kegiatan menjadi conten writer salah satu situs web di Yogyakarta. Sebenarnya kewajiban nulisnya tidak banyak, hanya saja saya sok sibuk. Jadi, usai menulis konten untuk web orang lain, tidak menyempatkan diri untuk mengisi rumah sendiri.

Sebagai pemanasan, kali ini saya mau menulis tentang pengalaman saya menggunakan hair mask dari Natur.  Lho kok tiba-tiba saya jadi posting hal-hal berbau perempuan begini? Ya sesekali boleh dong. Seperti namanya, hair mask adalah masker rambut. Bagi yang pernah menggunakan masker untuk wajah, hair mask ini prinsipnya juga sama, namun penggunaannya di rambut. Ingat ya, rambut. Bukan kulit kepala. Lho beda? Ya beda dong. Nanti kita bahas.

Bagi yang sudah kenal dekat dengan saya, atau minimal pernah bekegiatan bareng, pasti tahu kalau bukan tipe saya banget untuk menggunakan aneka ramuan untuk diri.  Alasannya ribet. Alasan lain karena belum cukup yakin dengan produk-produk di pasaran. Apakah benar-benar aman? Apakah benar-benar alami? Sampai akhirnya tanggal 6 Juli 2019 lalu, saya diajak seorang rekan untuk mengenal produk-produk perawatan rambut yang dikeluarkan oleh Natur.


Teman-teman pasti sudah tahu dong brand Natur. Dulu, saya mengenal brand sebagai produsen sampo bau jamu. Hehe! Ya enggak salah kan.Natur sendiri mengakui bahwa awalnya, produk mereka memenag memiliki kelemahan dalam hal bau. Hal ini kemudian menjadi PR besar yang digarap serius. Hasilnya, saat ini produk-produk perawatan rambut oleh Natur, wangi. Tidak kalah dengan produk-produk perawatan rambut lain.

Terkait perawatan rambut, siapa diantara teman-teman yang masih berpedoman bahwa merawat rambut itu cukup keramas saja? Toss dulu kita. Dulu saya pun beranggapan demikian. Tapi sepertinya semenjak mendengarkan penjelasan dari Natur kemarin, saya menjadi lebih tercerahkan. Hehe. Sama halnya seperti wajah kita yang butuh aneka uborampe, begitu pula rambut kita. Apalagi yang pakai jilbab, rambut lebih sering tertutup dibandingkan terbuka. Jadi, mau tidak mau perawatan rambut kudu jadi satu prioritas tersendiri.

Bicara tentang uborampe perawatan rambut, tentu kita lebih suka pilih yang alami dong. Apalagi konon katanya rambut itu mahkotanya perempuan, jangan sampai deh salah pilih produk perawatan rambut yang asal-asalan. Buat yang sama seperti saya, yang selalu pilih yang alami, karena alami lebih baik, Nature Hair Care memberikan rangkaian perawatan rambut. Mulai dari sampo, tonic, dan tentu saja hair mask atau masker rambut.  

Emang produk-produk Natur Hair Care sudah teruji memberikan hasil terbaik. Hmm kalau untuk saya yang sudah mencoba produk-produk Natur Hair Care, rasanya puas. Selain baunya segar baik itu sampo, tonic, maupun hair mask-nya, hair mask Natur juga memberikan efek yang lembut bagi rambut. Dan enggak cuma itu. Bagi para hijaber, pasti salah satu masalah yang sering dihadapi adalah rambut rontok kan? Hair mask Natur khususnya yang varian hair nutritive treatment with aloe vera extract ini juga membantu menutrisi helai rambut, menjaga kesuburan rambut, sehingga rambut tumbuh lebat halus.
Beneran nih? Kalau untuk saya yang baru pertama kali mencoba hair mask Natur sih, khasiat ini terbukti. Meski belum sampai efek jangka panjang, namun efek jangka pendek  melembutkan rambut, sudah cukup terasa. Misalnya nih, biasanya kalau habis keramas lalu sisiran itu kan semacam penebangan pohon alias banyak yang rontok gitu kan. Apalagi kalau sebelum keramas, rambut dalam kondisi kusut. Nah, setelah pakai hair mask Natur, kusut dan rontok setelah keramas ini cukup banyak berkurang. Baunya wangi pula. Wanginya saya suka.

Tertarik untuk mencoba? Saran saya, biar tambah mantap, sebelum menggunakan hair mask, gunakan pula produk shampoo Natur. Usai keramas, ketika rambut masih basah, langsung usapkan hair mask Natur dari pangkal sampai ujung rambut. Karena ini adalah hair mask, jadi tidak perlu sampai ke kulit kepala ya, cukup di rambut saja. Selanjutnya diamkan selama 1-2 menit, lalu bilas. Praktis kan? Untuk hasil lebih maksimal, gunakan pula Natur hair tonic untuk akar rambut lebih kuat.

Masih belum yakin nih, mau lihat-lihat infonya dulu. Hmm boleh, langsung saja follow IG Natur di @backtonatur atau bisa juga kepoin fanpage FB Natur di back to natur. Nanti akanada banyak informasi terkait produk-produk hair care dari Natur. 

Minggu, Desember 04, 2016

Tetap Aman Berkendara dengan Rok dan Motor Yamaha


Selamat datang di blognya perempuan  yang semoga panjang umurnya dan selalu ceria. Kali ini kita bakal ngobrol tentang safety riding. Sering kali saya mendengar ‘keluh kesah’ teman-teman saya yang kebanyakan roker tentang berkendara. Banyak yang ogah belajar naik motor karena menganggap ribet dan enggak safety. Lebih-lebih kalau harus lewat jalan-jalan berbatu, berlumpur atau berkelok-kelok.  Susah jendral kalau roker harus bermanuver dijalanan. Katanya sih gitu. Padahal sebenarnya, safety riding itu sama sekali enggak ada hubungannya dengan rok. Selama kita paham prinsip-prinsip berkendara yang aman, everything's gonna be ok.
Tanggal 27 November 2016 lalu, saya berkesempatan mengikuti acara yang diadakan oleh Yamaha Riding Academy bersama Blogger dan Vlogger Yogyakarta. Acara intinya perkenalan safety riding theory serta safety riding practice. Dari awal enggak paham acaranya bakal ngapain. Agak worry sebenarnya. Tambah worry  lagi melihat undangan yang dikirimkan tertulis, ‘menggunakan celana panjang’. Saya yang memang dari sejak ABG enggak pernah punya celana, bingung. Satu-satunya celana ‘resmi’  yang saya punya hanyalah seragam bela diri jaman SMA. Itu sudah cingkrang beibeh, enggak mungkin dipakai. Akhirnya dengan sedikit ‘usil’, saya tetap berangkat menggunakan pakaian kebesaran, ROK.
Rok jeans belel yang sudah saya modifikasi (baca: sobek-sobek dan tambal sana sini), menemani saya satu hari ini. Sudah bisa ditebak, hanya saya yang dengan PD-nya berkostum nyeleneh. Untungnya baper saya sudah level zero.  Beda? Biasa aja! Kan yang penting aman. #nyengir
Acara dimulai dengan registrasi peserta sekitar pukul 08.00 WIB. Kurang lebih 35 Blogger dan Vlogger ikut meramaikan acara ini. Semua sudah siap dengan ‘senjata’ masing-masing. Para Vlogger sudah siap dengan action camera mereka, kami para blogger cukup berbekal kamera dan catatan tentu saja.
Sebelum cerita tentang acara inti, mari kita berkenalan dengan Yamaha Riding Academy (YRA). YRA didirikan  sebagai bentuk tanggungjawab Yamaha Indonesia untuk menyebarkan virus  safety mind, safety riding, dan riding skill. As you know, pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia sangat pesat. Sayangnya pertumbuhan ini tidak diimbangi dengan peningkatan kemampuan berkendara. Maka enggak heran kalau angka kecelakaan juga ikut meningkat. Parahnya, naiknya angka kecelakaan ini lebih dominan diakibatkan karena manusia. Wajar saja, sebab saat membeli motor, dealer motor baik resmi atau pun bukan, tidak akan menanyakan pengetahuan seputar safety riding dan riding skill. Ada uang ada barang. That’s enough. Maka enggak heran juga kalau banyak anak-anak kecil yang dengan PDnya kebut-kebutan di jalan raya. Berasa nyawanya ada lima kali ya. Pemahaman safety riding belum sampai pada masyarakat tingkat bawah. Bukan sekali ini YRA mengadakan acara serupa, paling enggak satu pekan sekali acara penyebaran virus semacam ini dilakukan.
Emak Blogger. Saya dimana? Masih mencari bapak ;p
Credit: Kakak Manda 
Sekitar pukul 09.00 WIB acara dimulai. Pertama-tama dipaparkan kondisi lalu lintas di Indonesia. Beberapa video tentang kecelakaan yang disebabkan human error  diputarkan. Sekitar 84% kecelakaan diakibatkan oleh kesalahan manusia. Banyak hal sebabnya, tidak menggunakan helm, berboncengan lebih dari satu orang, kebut-kebutan, tidak menggunakan pakaian yang mudah dilihat, acuh terhadap rambu lalu lintas yang ada, dan lain sebagainya.

Safety Riding, Apa dan Bagaimana?
Safety riding terdiri dari dua aspek, yaitu safety mind dan riding skill.  Jadi enggak hanya kemampuan (skill) saja yang dikedepankan, tapi juga keinginan untuk berlaku yang aman saat berkendara. Sehingga ada keinginan untuk tetap selamat dan menjaga keselamatan orang selama di jalan. Safety mind meliputi penggunaan safety gear, secara berkala mengecek kondisi kendaraan, seta perilaku berkendara yang baik.
Beberapa tips yang dapat dilakukan saat akan berkendara, antara lain: biasakan mengikat tali helm, menggunakan baju dengan warna cerah, pahami penggunaan lampu sein, tidak berboncengan lebih dari satu orang, dan lain-lain. Kenapa kita harus menggunakan baju yang cerah? Ini akan memudahkan pengendara di depan kita tahu akan keberadaan kita. Jadi kecelakaan dapat dihindari.
Setidaknya, ada tiga (trilogi) penyebab kecelakaan lalu lintas. Pertama, manusia. Ada banyak hal yang perlu diperhatikan dari poin ini. Mulai dari kedisiplinan dan etika berkendara, kondisi fisik dan emosi, serta skill pengendara. Kemampuan pengendara satu dengan yang lainnya berbeda. Termasuk batas kecepatan maksimum yang dapat dikendalikan. Ada pengendara yang dapat tetap fokus dengan kecepatan tinggi, ada yang hanya bisa berkendara dengan kecepatan sedang. Kondisi emosi juga berpengaruh, hindari berkendara dalam kondisi ngantuk atau tidur. Lebih baik berhenti untuk beristirahat. Lebih-lebih kalau lagi galau, duh mak!
Kedua, kondisi kendaraan. Biasakan untuk cek kondisi kendaraan sebelum mengendarai, terlebih bila belum pernah menggunakan kendaraan tersebut sebelumnya. Terutama buat para perempuan yang biasanya enggak paham hal-hal demikian. Rajin-rajinlah servis kendaraan, mas-mas bengkelnya baik-baik kok #eh. Pastikan lampu sein, rem depan belakang berfungsi dengan normal, klakson hidup dan lain sebagainya. Perawatan yang salah (jarang ganti oli, ban tidak standar, atau tidak pernah di service), akan membahayakan pengendara di jalan.
Ketiga, kondisi lingkungan. Penting nih bagi yang suka touring ke luar kota. Kondisi jalan yang tidak biasa (belum pernah dilewati) perlu diantisipasi. Cuaca serta karakter pengguna jalan lainnya juga perlu diperhatikan. Tentu saja berbeda antara pengendara di kota besar yang sering berkendara dalam kondisi ramai dengan penduduk desa yang hanya terbiasa menggunakan motor untuk pergi ke sawah.
Salah satu hal yang sering kita salah strategi adalah cara berkendara di jalan berlubang. Kebanyakan kita mengandalkan rem saat melewati jalan yang berlubang. Akibatnya, motor justru terkunci pas di lubang dan akhirnya motor oleng. Trik yang benar adalah, kurangi kecepatan (gunakan rem) sesaat sebelum melewati lubang, dan tambahkan gas tepat saat ban motor masuk ke dalam lubang. Trust me, it’s work!
Dari trilogi diatas, faktor yang sering menjadi sebab kecelakaan adalah manusia.  Lalu bagaimana posisi yang aman dan nyaman saat mengemudi? Pertama dan utama yang harus dipastikan adalah menggunakan safety gear. Helm SNI, sarung tangan, jaket, alas kaki dan yang lainnya. Selanjutnya, saat mengemudi, tangan kita harus rileks, dalam praktiknya membentuk seperti huruf O. Bukan lurus dan kaku. Badan tegap dan menghadap ke depan, seimbang kanan dan kiri. Pastikan pandangan mata bisa melihat fokus kedepan. Enggak perlu sambil sms-an. Ingat, nyium aspal itu gurih!

Waktunya Berkendara
Sekarang saatnya paktik mengemudi. Ada beberapa motor yang disediakan panitia, Nmax, Mio, Vega, Yamaha Xabre, R15, R25, dan lain-lain. Pliss jangan tanya bedanya R15 dan R25 ya, bagi saya, semua motor lakik itu sama. Susah naik, susah turun #nyengir.
Serius mendengarkan instruktur
Credit: Manda

Ada tiga lintasan yang disediakan pihak panitia untuk dicoba peserta:

·         Chidori
Masing-masing kita disuruh memilih motor mana yang akan digunakan. Bebas. Pilihan saya jatuh pada motor Vega, yang ada giginya. Lintasan Chidori terdiri dari beberapa belokkan tajam dan jarak pendek. So far, ini mudah.

·         Slalom
Tadi sudah milih motor yang biasa, kayaknya enggak asyik kalau pakai motor yang sama. Untungnya saya enggak pakai celana, jadi keinginan buat nyobain motor lakik bisa dibuang hehehe. Pilihan kedua jatuh pada motor Nmax. Aji mumpung. Mumpung bisa cobain motor mahal.
Pada sesi ini kita diminta untuk mengendarai motor dengan kecepatan sedang ditambah dengan kombinasi rem dan gas saat melewati kelokkan. Jadi, saat melewati kelokkan, tarik gas, setelah itu rem.

·         Fast Breaking
Dari slalom langsung dilanjutkan Fast Breaking. Motor dikendarai dengan kecepatan tinggi dengan jarak tempuh yang telah ditentukan kemudian dilakukan pengereman mendadak.

Selepas safety riding practice, diadakan Gymekhana Competition. Sayangnya enggak semua peserta mengikuti. Padahal hadiahnya lumayan lho, helm mahal. Sayang saya enggak juara. Mungkin panitia tahu, kalau saya yang dapat, hadianya bakal saya jual #otakduit.
The last, dari semua uraian diatas, enggak ada hubungannya rok dengan keamanan berkendara kan? Selama rok yang kita pakai enggak berlebihan (berumbai-rumbai macam simbahnya merak), safety gear kita gunakan dengan baik, safety mind dan riding skill kita teruji, mau jalan becek enggak ada ojek pun bisa kita melewati.

Terima kasih Yamaha Riding Academy atas undangannya. Sukses selalu ya. 

Rabu, Juli 30, 2014

Aku Benci Laki-Laki


Aku benci laki-laki. Bagiku tidak ada laki-laki yang baik. Tidak bapakku. Tidak kakak iparku. Tidak pula laki-laki yang ada disekitarku.

Bapakku laki-laki yang baik. Tapi hanya kepada orang lain. Keluarganya? Dianggapnya sebagai seonggok daging tak bernyawa. Tak perlu dihargai. Apapun, hanya boleh dia yang memutuskan.

Kakak iparku? Ah salah kakak perempuanku juga. Kenapa harus buru-buru jatuh cinta. Buru-buru? Mungkin tidak, 24 tahun bukan waktu yang buru-buru untuk menikah. Tapi dia salah langkah. Menganggap keluar dari rumah adalah cara paling ampuh untuk mengurangi kesengsaraan. Kami sama, benci kepada bapak.

Sedikit dirayu langsung jatuh hati. Merasa jadi putri yang didatangi pangeran. Tersipu. Merona. Bodohnya dia. Sekarang tanggung sendiri akibatnya. Ditinggal main perempuan. Sakit? Itu pilihanmu.

Laki-laki disekitarku pun layak dibenci. Menikahi gadis-gadis dibawah umur. Lalu dicerai saat rumah tangga seumur jagung. Alasannya, tidak bisa memberi nafkah. Lalu kemana janji-janji manis saat menikah. Mereka pikir nafkah batin saja cukup untuk menghidupi keluarga.

Lalu masihkah kau bertanya kenapa aku benci laki-laki?

^^
Hei, serius banget bacanya. Itu bukan kisah nyata. Ah, semoga tidak ya. Ini adalah penggalan novel yang sedang saya tulis. Berlatar belakang kondisi disekitar tempat tinggal saya yang ih waow. Sampai kadang saya berdecak ‘kagum’, ketika adik kelas dulu di SD, sudah menjadi janda 3 kali diumurnya yang baru masuk gerbang kepala dua. Adilkah? Lalu kenapa dia begitu menikmatinya? Seolah tak ada yang perlu dicemaskan.

Doakan saya istiqomah menulis ya J ^^ 

Minggu, November 18, 2012

Rumah Tahanan Baru untuk Para Koruptor



Korupsi di Indonesia memang sudah masuk dalam fase kritis. Banyak oknum pejabat yang terindikasi menggelapkan uang Negara. Belum lagi mereka yang belum teridentifikasi oleh KPK. Hal ini membuat tugas KPK selaku lembaga Komisi Pemberantasan Tindak Korupsi tidak mudah. Memutus rantai panjang korupsi di Indonesia, serta menghentikan perpanjangan rantai tersebut. Berbagai upaya dilakukan, dari pencerdasan masyarakat, hingga memberikan hukuman kepada para koruptor. Namun, hasilnya masih belum terlihat maksimal. Masih saja ada kasus korupsi baru yang muncul. Seolah spora korupsi tidak ada matinya.

Belum adanya suatu tindakan yang bisa menimbulkan efek jera, menjadi salah satu faktor utama mengapa korupsi di Indonesia masih menjamur. Hukuman yang selama ini dijatuhkan pun rasa-rasanya masih terlampau ringan. Denda dan kurungan. Itupun masih dikurangi masa tahanan dan remisi yang sering diberikan secara mudah di Indonesia. Padahal korupsi sudah mencoreng moral bangsa ini. Seharusnya hukuman yang dijatuhkan juga hukuman dalam bentul moral juga. Hukuman yang membuat orang berpikir ribuan kali sebelum korupsi.

Suatu saat ketika saya doberikan kesempatan untuk menjadi ketua KPK. Ada satu hal yang ingin saya lakukan sebagai langkah efektif untuk memberikan efek jera bagi para koruptor. Serta membuat orang berfikir dua kali untuk korupsi. Tidak perlu rumit. Simple saja, yaitu pemindahan rumah tahanan KPK ke pusat kota Jakarta. Rumah tahanan ini terbuka untuk semua masyarakat Indonesia. Serta mengundang sekolah, perguruan tinggi, juga lembaga pemerintahan untuk study tour ke rumah tahanan ini. Selain memberikan sanksi moral, pendidikan anti korupsi kepada masyarakat juga lebih efektif. 

Senin, November 12, 2012

Pembelajaran dari Seember Pasir



“Nomor satu!”
Saya langsung lari tunggang langang masuk kelas.

Huaaa..mencongak lagi?
Begitulah kira-kira ekspresi saya waktu itu. Saat saya masih kelas 4 SD. Hampir setiap pagi musti mngerutkan kening, pura-pura mikir, padahal sebenarnya bingung mau nulis apa. Lupa apa jawabannya.

Kami memanggilnya Pak Parjan. Nama lengkap beliau Soeparjan, dengan ejaan lama. Huruf ‘u’ masih ditulis dengan ‘oe’. Beliau adalah kepala sekolah si SD tempat saya belajar. Oranng tidak terlalu tinggi, bahkan boleh dibilang agak pendek. Perwakan gemuk dengan perut buncit, dan satu lagi botak. Bagi yang pertama kali melihat, kesan pertama yang terlintas adalah GALAK. Tapi, menurut saya yang sudah lama mengenal beliau, beliau emang galak. Sekali galak tetap galak, hehehehe Selain galak, beliau juga ngeyelan. Kebetulan beliau sering main kerumah. Biasalah ngobrol ngalor ngidul sama babe. Kadang beliau berdua (babe dan Pak Parjan), kayak dua orang yang sedang berantem.

“Lha kalau aku sholatnya caranya gini gimana mbah?” Pak Parjan memanggil bapak saya dengan sebutan mbah.
“Ya, nggak boleh!
“Kenapa nggak boleh?” Begitulah, setiap beliau berdua ketemu, pasti ada saja yang diributkan. Eits, out of topic! Oke, let`s back to the topic.

Setiap pagi hari sebelum bel berbunyi saya ketir-ketir (khawatir), karena apa? Kepala sekolah kami punya kebiasaan untuk mencongak matematika pagi-pagi. Tanpa pemberitahuan pula. Nyebelin kan? Saat kita lagi asyik-asyiknya maen petak umpet, tiba-tiba si bapak dengan PDnya, jalan cepat dengan kekuatan penuh masuk ke ruangan kelas empat. Bisa ditebak kalimat pertama yang beliau ucapakan.

“Nomor satu”
Sontak kita yang masih berkeliaran maen langsung berlari rebutan masuk kelas. Belum sempurna kami meletakkan pantat di kursi, muncul kalimat selanjutnya,
“4X8”
Wuaaa…mencongak matematika lagi! Belum selesai mengeluarkan alat tulis dari tas, sudah muncul pertanyaan kedua,
“8X9”

Hiks, kali ini sumpah saya pengen mewek, nangis. Gimana nggak nagis coba, mana ada anak kelas empat hafal perkalian dari 1X1 hingga 10X10. Parahnya hal ini harus saya hadapi minimal 4 kali dalam seminggu. Coba bayangkan, betapa menderitanya saya waktu itu? #lebay.

Selain kita seringnya lupa jawabannya, lebih tepatnya belum tahu jawabannya. Ketinggalan menjawab menambah sempurna lubang-lubang dijawaban kami. Tak heran kalau kami sering dapat nilai 4, karena yang berhasil dijawab cuma 8 nomor dan setengah dari jawabannya salah. Sebenarnya nggak masalah sih, berapapun nilai yang nantinya kita dapatkan. Tidak ada pengaruhnya ini sama nilai ulangan harian. Nilainya memang tidak masuk ke penilaian raport, tapi si bapak kepala sekolah yang super kreatif ini punya cara tersendiri yang unik dan ajaib untuk memakasa kita belajar perkalian dan pembagian matematika, yaitu kalau sampai nilainya dibawah lima, besoknya kami diwajibkan membawa pasir sungai  satu ember.

Cara ini manjur dan mujarab saudara, kita yang dasarnya nggak pinter-pinter amat, jadi rajin ngapalin perkalian dan pembagian matematika. Sebabnya satu, kita tidak mau jadi kuli bangunan setiap hari. Bisa dibayangkan kalau dari hari senin sampai kamis, dapat nilai dibawah lima, bisa-bisa saat naik kelas lima, kami semua sudah kekar berotot. Bisa-bisa sekolah kami jadi sekolah pertama penghasil atlet angkat ember pasir se-Indonesia. Tak bisa dibayangkan, tiba-tiba ada cabang olahraga baru, lomba angkat ember berisi pasir. OMG! Oh No! Big no no!

Semenjak saat itu hampir setiap hari pada pegang catatan kecil sambil mengucapkan matra ajaib macam-macam.
“Lima kali dua sama dengan sepuluh”
“Delapan kali sembilan sama dengan tujuh puluh dua”
“Sembilan kali sembilan sama dengan delapan puluh satu”

Begitulah, si bapak membelajarkan kami. Meskipun setiap hari kami harus senam jantung, belum lagi ancaman seember pasir, tapi akhirnya kami terbiasa. Mencongak matematika menjadi kegiatan rutin yang tidak lagi menakutkan, karena lama-lama kami hafal (walau ada yang masih dengan terpaksa).  Satu lagi cara unik untuk membelajarkan Indonesia. Pembiasaan!


Spesial untuk Almarhum bapak Soeparjan
Terimakasih untuk semua pembelajarannya




Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba: Indonesia Berkibar "Guruku Pahlawanku"

My Teacher Forever



Saya memanggilnya Bu Yun. My teacher forever. Apa yang saya jalani sekarang, ada andil beliau didalamnya. Saya bisa kuliah S1 dan sebentar lagi melanjutkan ke jenjang S2, juga karena beliau. Apakah beliau membiayayi sekolah saya?  Tentu saja tidak, bukan hitungan biaya, tidak sekedar materi. Lebih dari itu semua.
__
Desa itu bernama desa Ngampon. Sebuah desa terpencil di sudut kota sate, Blora. Desa yang jauh dari hiruk pikuk dan gegap gempita kota. Sepanjang mata memandang, yang ada hanyalah hamparan sawah, tempat para penduduk sekitar desa menjemput rejeki. Sebagian besar penduduk desa itu adalah petani, selebihnya bekerja serabutan sebagai buruh di kota. sebagai buruh appaun dikerjakan, mencuci, mengepel, memasak, menyetrika dan lain sebagainya. Jangan tanya penghasilan, satu bulan digaji Rp 300.000,00 sudah dianggap lebih dari cukup oleh masyarakat desa ini.

Pendidikan ini bisa dibilang masih kurang. Lulus SMP sudah dianggap jempolan. Hampir sebagian besar penduduknya lulusan SR (Sekolah Rakyat). Wajar saja kesadaran untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi masih kurang. Kebanyakan anak laki-laki didesa ini lebih memilih untuk menjadi buruh serabutan untuk segera mendapatkan uang dari pada terus bersekolah. Tidak peduli jadi buruh tani, atau buruh bangunan  di kota lain, asalkan mendapatkan uang. Inilah desa kelahiran saya, tempat dimana saya pertama kali menghirup napas dunia.

Saya terlahir dari keluarga yang tidak jauh beda dari keluarga yang lainnya di desa ini. Bedanya, dari awal keluarga kami termasuk keluarga besar yang cukup dipandang di desa ini. Masalah tingkat pendidikan, orang tua saya tidak jauh berbeda dengan orang tua lain di desa kami. Alhamdulillah kedua orang tua saya pernah merantau ke luar Jawa. paling tidak secara pemikiran ada pembeda antara keluarga kami dan keluarga kebanyakan di desa ini.Tapi, apakah itu saja cukup? Apakah hanya karena sedikit perbedaan itu lantas mebuat orang tua saya mempunyai tekad yang sangat kuat untuk menyekolahkan saya melebihi tingkat pendidikan kebanyakan orang tua di desa saya? Tidak semudah itu!

Hanya ada satu sekolah dasar di desa ini. semua penduduk di desa ini meyekolahkan anaknya di sekolah itu. Meskipun begitu, tak jarang satu kelas hanya diisi 10 peserta didik. Bahkan saat saya kelas 6 SD, kelas saya hanya diisi 8 murid. Jadi semuanya pasti dapat rangking dikelas. Semuanya pasti masuk sepuluh besar, lebih tepatnya delapan besar.  Jumlah pengajar disini juga tak banyak. Enam guru wali kelas ditmabah dengan beberapa guru pelajaran khusus seperti olahraga dan agama islam. Ada satu guru yang menginspirasi saya sejak kelas satu SD. Saya memanggilnya Bu Yun. Tentu saja beliau tidak seperti Mario Teguh yang pandai memainkan kata untuk memberikan motivasi. Namun, apa yang beliau lakukan lebih dari cukup untuk dipanggil sebagai guru SD. Beliau adalah my teacher forever, guru saya selamanya.

Beliau mengajar saya saat saya duduk dibangku kelas 1 SD. Cara mengajarnya asyik, buktinya saya bisa jadi juara 1 di kelas JJ. Tapi, bukan ini yang membuat saya jadi agak dewasa sebelum waktunya. Waktu saya kelas satu SD, Bu Yun sedang hamil besar. Maka ditengah catur wulan Bu Yun cuti melahirkan. Wah, sedihnya saya. apalagi yang menggantikan ibunya galak, ooopsss. Sudah galak, pilih kasih pula. Kebetulan anak dari ibu guru pengganti adalah teman sekelas saya. kita saingan gitu ceritanya, pas catur wulan satu saya juara satu dan dia juara dua. Nah, kayaknya si ibu pengen lihat anaknya juara kelas. Bukan negative thingking, tapi emang kenyataannya gitu. Pas kita sedang ngerjain ujian catur wulan, tiba-tiba si ibu ngasih jawaban dikertas ke anaknya. Saya yang waktu itu masih kecil, dengan polosnya diam saja. Hasilnya, saya turun peringkat. Hiks, sedih rasanya.

Rupanya Bu Yun, agak curiga dengan turunnya peringkat saya di kelas. Besoknya Bu Yun menemui orang tua saya. Menanyakan bagaimana belajar saya dirumah dan lain sebagainya. Sejak saat itu Bu Yun memantau perkembangan saya, dan taraaa…cartur wulan selanjutnya saya nangkring lagi di peringkat pertama. Sejak saat itu Bu Yun memantau perkembangan saya hingga lulus SD.

Apakah hanya cukup sampai disana? Ternyata tidak, tanpa sepengetahuan saya, ternyata Bu Yun mengemati perkembangan sekolah saya lewat orang tua saya. lulus dari SD Ngampon saya  melanjutkan di SMP favorit di kota Blora, SMP 1 Blora. Tiga tahun berllau dengan cepat. Lulus SMP N 1 Blora, lanjut ke SMA 1 Blora. Ini juga SMA Favorit di kota kami, dan selama ini Bu Yun memantau perkembangan saya. Hingga akhirnya sudah waktunya saya melanjutkan ke perguruan tinggi.

Beliau masih seperti yang dulu,
“Nur, mau melanjutkan kemana?” Nur adalah panggilan kecil saya.
Saya hanya menjawab dengan senyuman.
“Pokoknya harus lanjut kuliah ya.” Begitu pesannya. Besoknya, giliran ibu saya yang dapat “wejangan” dari beliau.
“Bu, Nur itu pinter. Sayang kalau sekolahnya tidak lanjut.”
Besok, besok, dan besoknya lagi, Bu Yun rutin mengunjungi orang tua saya. intinya hanya satu. Saya harus kuliah!
Hari ini, semuanya sudah hampir selesai. Gelar S.Si tinggal selangkah lagi. Sekian tahun berselang, dan selama itu saya tidak pernah bertemu dengan beliau lagi. Tapi, apakah beliau lupa dengan saya? Apakah beliau berubah?
“Bu, Nur langsung S2 saja. Masalah biaya gampang. Kalau ada kemauan pasti ada jalan. Ibarat kata, kencangkan ikat pinggang sejenak.”

Beliau masih seperti yang dulu. Bu Yun, my teacher forever.



Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba: Indonesia Berkibar "Guruku Pahlawanku"


Sabtu, Juni 30, 2012

Suara Ibu



Sekali lagi untuk hari ini. Kemarahan yang meluap. Kekecewaan yang meluber dari wadahnya. Tangis, bukan hanya tangis air mata, tapi juga tangis darah. Darah yang mengental, hingga tak setetespun keluar dari sudut mata. Ada benda tak berwujud di jantung ini, benda yang begitu keras dan berat. Menekan kuat hingga sanggup membunuh, perlahan namun pasti. Lebih dari sekedar tikaman pisau berkarat. Sederhana, namun berharga. Ini hanya tentang kejujuran yang sudah tak laku lagi untuk dijual, meskipun dengan harga 50 rupiah, atau bahkan gratis.

Berkali-kali mata ini harus terbuka untuk melihat berbagai macam ulah manusia negeri ini. Manusia? Masih layakkah mereka disebut manusia. Makhluk yang diciptakan untuk menjadi pemimpin dunia ini. Masih pantaskah mereka menyandang gelar sebagai makhluk yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk yang lain.

Haruskah mulut ini menyebut mereka manusia? Saat tak ada satupun dari apa yang dilakukannya mencerminkan tindakan makhluk berakal dan berhati nurani. Akal dan hati nurani, bukankah itu yang membedakan anatara manusia dan binatang. Bagaimana kalau keduanya sama-sama tak memiliki akal dan nurani? Bukankah itu artinya mereka sama, hanya berbeda rupa.

Hari ini, aku harus melihat sesuatu yang tak pantas aku lihat. Bukan karena aku masih dibawah umur, aku sudah cukup tua untuk dianggap berumur.  Pagi ini aku kembali menyadari banyak orang disekitarku yang berpura-pura. Berpura-pura tidak punya uang, namun ternyata punya gudang harta. Bukan hanya mereka yang selalu mengadahkan tangan di perempatan jalan. Berpura-pura sakit, menggendong anaknya yang masih dibawah umur. Bukan hanya mereka yang masuk ke kampus-kampus membawa kantong-kantong bekas bungkus permen. Tidak sekedar mereka yang datang dengan mobil dan turun dengan baju compang-camping lengkap dengan gelas plastik bekas air minum merk tertentu, bagaikan artis sedang bermain peran. Namun, juga mereka yang berdasi, naik mobil mengkilap, lengkap dengan jas warna hitam.

Mereka yang mendadak menjadi begitu alim saat tiang gantungan mulai dipancangkan. Mereka yang mendadak kaya untuk membeli selembar kain untuk menutup rambut  dan tubuh mereka saat vonis dijatuhkan. Apakah mereka bisa disebut manusia?  Layakkah? 

Aku mengenal banyak makhluk, banyak sekali, bukan hanya satu dua, lebih. Hanya saja baru sekali ini aku melihat makhluk seperti mereka. Makhluk langka yang sangat tidak layak untuk dilestarikan. Bahkan seumur hidupku, aku belum pernah menemukan makhluk seperti mereka, di hutan belantara sekalipun. Mereka dengan beraninya (atau tanpa malu?) mempermainkan agama. Menggelapkan uang untuk ibadah. Menyimpan uang untuk pembelian alat ibadah dalam rekening masing-masing. Ingin rasanya aku ambil uang itu, membagikannya ke rakyak kelaparan dibantaran kali. Seperti apa yang dikerjakan si Robin Hood. Mengambil uang dari si kaya dan membagikannya kepada si miskin. Tapi, aku tak mampu. Aku hanya bisa geram melihat tingkah laku mereka, yang terlihat bijaksana saat dihadapan kamera dan para wartawan. Namun, ternyata hanya omong kosong belaka.

Aku marah, sangat marah. Bukan sekali dua kali aku memperingatkan mereka atas apa yang mereka lakukan. Melalui para mahasiswa yang aku pikir saat ini hanya mereka yang masih punya nurani, walau hanya saat mereka jadi mahasiswa. Bersama mereka para buruh yang merasa hak-nya tidak tersampaikan ketangan mereka. Bersama para ibu rumah tangga yang ‘terpaksa’ menjadi penambah devisa negara dengan mengais rejeki di negeri orang. Mereka yang mencari makan bersama buliran air mata penghinaan, yang terpaksa menelan kemarahan saat mereka dipanggil ‘Indon’. Hingga saat ini, hingga detik ini, aku masih selalu bersama mereka. Mengukur panjangnya jalan perjuangan ini. Menegakkan kembali apa yang memang seharusnya ditegakkan.  Mencoba meletakkan kembali nurani di hati manusia, bukan di tong sampah.

Namun, aku ingin kalian semua tahu. Aku tak selalu berada dalam barisan aksi. Aku tahu di pihak mana aku harus perpihak, tidak kepada semua orang. Tidak setiap saat aku ada dalam barisan panjang demonstran untuk memenuhi jalan.  Aku tidak bersama mereka yang memperjuangkan kebebasan yang tak terbatas. Kebebasan tak terbatas itu hanya akan menghancurkan moral bangsa ini secara perlahan. Aku tidak pernah menaruh simpati kepada mereka yang aksi hanya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan saja. Hanya bermain kepentingan. Aku tidak akan pernah berpihak kepada mereka yang hanya mencari ‘enaknya bagaimana’. Aku hanya akan berpihak kepada mereka yang memperjuangkan ‘seperti apa baiknya’. Bagiku, baik tidak selalu enak, dan enak belum tentu baik.

Aku ingin berkata jujur. Maaf kalau ini terlalu menyakitkan untuk kalian dengarkan. Aku tahu dengan baik apa yang terjadi kepada bangsa ini. Bahkan aku tahu saat semua itu belum terjadi. Tsunami yang melanda Aceh, gempa bumi yang pernah menghancurkan kota Yogyakarta, meletusnya merapi, bom Bali, dan berbagai kejadian yang pernah melanda bangsa ini. Aku sudah coba mengatakannya kepada kalian semua sebelum itu semua terjadi, dengan bahasaku tentunya. Namun, debu itu telah menutup hati kalian. Kalian lebih percaya dengan paranormal, orang pintar, atau seperti apapun itu kalian menyebutnya. Aku lebih suka menyebut mereka dukun. Aku terkadang heran, bukankah kalian sudah belajar banyak hal dari sejarah, kenapa masih saja ada yang percaya dengan hal-hal seperti itu. Bukankah sudah berkali-kali mereka gagal dan selalu gagal.  Kenapa tidak ada satupun yang mencoba untuk percaya kepadaku, kepada ibumu, ibu pertiwi.

Surga masih ditelapak kaki ibu

Tulisan ini dikutsertakan dalam lomba ‘Paling Indonesia’

Kamis, Juni 28, 2012

Menu ‘Cinta’ untuk Indonesia



Sumber: Google
Aku kadang berpikir, siapa yang sebenarnya mencintai Indonesia? Aku? Kamu? Mereka? Sebuah pertanyaan yang sukar untuk dijawab. Banyak yang mengatakan cinta itu butuh bukti, namun sejauh apa pecinta Indonesia itu menunjukkan rasa cintanya? Apakah hanya sekedar saat kebudayaan Indonesia diakui oleh negara lain? Saat timnas Indonesia bertanding melawan timnas negara lain? Jangan-jangan hanya saat ada bantuan dari pemerintah, kita mulai merasa bangga dan mulai membanggakan diri sebagai warga Indonesia? Pertanyaan demi pertanyaan itu tak sanggup aku jawab. Melihat Indonesia yang seperti ini, rasa-rasanya aku ingin muntah, jijik dengan semua ini.

Bagaimana aku tidak jijik, melihat manusia-manusia bermuka dua hidup damai sentosa di negara ini. Muka yang satu, wangi, kinclong, bersih dan rapi. Muka yang lain tak ubahnya seperti monster, rakus melebihi tikus. Aku semakin muak dan jijik saat aku tahu bukan hanya raja minyak tapi juga raja gombal  punya ijin hidup menumpang disini.  Mereka hidup dari menjual gombalan-gombalan ‘ra mutu’ kepada orang lain. Sayangnya, orang-orang itu percaya saja dengan gombalan-gombalan kuno yang setiap empat tahun sekali selalu mereka dengarkan. Aku jadi berpikir, apakah banyak dari mereka yang sudah pikun, hingga untuk mengingat gombalan-gombalan sejenis itu saja, mereka tak sanggup. Atau karena para raja gombal itu selalu berganti wajah setiap empat tahun sekali? Bisa jadi seperti itu.

Uniknya, di negeri ini banyak yang menerapkan budaya berjamaah. Bukan hanya pada waktu sholat di masjid saja, tapi hampir di semua kegiatan. Arisan, selingannya ngrumpi berjamaah. Belajar bersama, akhir-akhirnya juga ‘tidur’ berjamaah. Bahkan, korupsi pun, dilakukan berjamaah. Jadi, jangan heran kalau kita akan menemukan berbagai macam jenis jamaah disini. Bukan hanya jamaah pengajian, atau jamaah sholat di masjid, tapi juga jamaah koruptor. Ada jamaah sholat, tentu ada imam sholat, begitu pula dengan jamaah koruptor, bisa dipastikan ada imam koruptor, biang dari korupsi di negeri ini. Jangan heran, kita akan menemukan banyak karakter imam atau pemimpin di negeri ini, karena memang mereka menjadi wakil dari jamaah yang mereka pimpin.  

Beberapa waktu yang lalu, aku menemukan fakta yang aneh di negeri ini. Aneh bin ajaib tapi nyata terjadi. Beberapa pihak menuduh seorang penulis dengan tuduhan sebagai penulis porno. Hanya karena buku yang ditulisnya untuk remaja, salah distribusi dan masuk di perpustakaan sebuah sekolah dasar. Tanpa konfirmasi, tanpa wawancara kepada penulisnya, sebuah label penulis porno dilabelkan secara paksa oleh beberapa pihak. Namun, penulis yang menuliskan novel yang jelas-jelas merusak moral anak bangsa, dibiarkan ‘melenggang kankung’ bebas tanpa tuduhan apapun.

Satu lagi yang lucu di negeri ini. Lucu dan membuat kita tertawa miris. Kondomisasi. Setelah sukses menjadi negara nomor wahid pengakses situs porno (mediaindonesia.com 03/12) , kini program kondomisasi diluncurkan di negeri ini. Beberapa pihak mengatakan bahwa program ini hanya untuk daerah-daerah yang penduduknya banyak terjangkiti HIV AIDS. Padahal sudah jelas bahwa kondom tidak pernah bisa menjamin virus HIV itu tidak menyebar. Kita semua tahu bahwa persebaran HIV melalui hubungan suami istri hanya akan terjadi apabila seseorang itu berganti-ganti pasangan, bukankah dari ini semua sudah jelas. Saat mata rantai prostitusi diputus, maka persebaran HIV akan menurun dengan sendirinya. Tanpa kita perlu bagi-bagi kondom dan lain sebagainya.

Namun, dibalik itu semua, Indonesia adalah negara cinta.  Negara yang penuh dengan kasih dan sayang. Mau bukti? Cobalah berkeliling Indonesia saat malam menjelang, terutama setelah jam sembilan malam, parade cinta akan dimulai. Tempat-tempat tertentu akan membagikan ‘cinta’ dengan berbagai macam kemasan dan berbagai macam ukuran. Berminat dengan cinta ingusan? Ada di pusat perbelanjaan di kota-kota Indonesia. Mau mencari ‘cinta’ yang dibungkus sutra bersulam berlian, ada di hotel berbintang. Mau ‘cinta’ yang berbalut beludru juga ada, atau ‘cinta’ yang tidak dibungkus? Semuanya ada di Indonesia, dari kolong jembatan hingga hotel berbintang. Tinggal pilih, ada uang ada barang. Bahasa mudahnya, berani bayar berapa? Dalam bahasa jawab, kita menyebutnya ‘wani piro?’ Tinggal pilih, menu ‘cinta’ mana yang sesuai dengan tebalnya dompet. Beberapa malah bisa ditawar dengan harga murah, atau bahkan gratis.

Jauh dari itu semua, aku pernah menangis. Saat aku bercermin di kaca kereta api yang sudah mulai kusam. Melihat bayangan mereka yang semangatnya melebihi kekuatan dirinya sendiri. Seorang laki-laki tua, mendorong sepeda dengan sisa tenaga yang tidak seberapa. Berbagai macam bentuk celengan dari tanah memenuhi keranjang di bagian belakang sepedanya. Ada yang terasa sakit disini, di jantung negeri ini, rasanya seperti dihujam dengan sebilah pisau berkarat.

Suatu ketika, seorang ibu dengan bayi yang masih merah, berjalan sepanjang trotoar. Tujuannya adalah perempatan traffic ligh. Setiap dua menit sekali, saat lampu merah menyala, dia berkeliling. Meminta belas kasihan dari para pemilik mobil. Apakah para pejabat itu tidak pernah melewati jalan-jalan ini? Jalan-jalan yang menjadi saksi, potret wajah Indonesia yang sesungguhnya.

Indonesiaku tetap sebuah benda. Benda yang kita namakan Negara. Meskipun dia kaya dengan sumber daya alam yang luar biasa, dia tetap saja sebuah benda. Benda yang tidak bisa melakukan apapun untuk dirinya sendiri tanpa adanya manusia didalamnya. Sudah saatnya kita membuktikan cinta kita, minimal rasa terimakasih karena kita telah diijinkan untuk menumpang hidup di negeri ini. Ada berbagai ‘menu’ yang telah ditawarkan. Menu dengan berbagai macam cara untuk mencintai Indonesia. Mari kita pilih, ‘menu’ yang mana yang sesuai dengan selera kita. Masih ada harapan untuk Indonesia.

Karena cinta adalah kata kerja
Untukmu Indonesia

Siti Nurjannah
Aktivis LPME GRAPPYAK Yogyakarta


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba "Paling Indonesia"


Kamis, Desember 01, 2011

Ini Impianku, Bukan Mimpiku LOMBA ANNIDA-ONLINE “Saya Punya MIMPI SEJUTA DOLAR”


Beda antara impian dan mimpi adalah batas waktu (Anonim)


Seorang gadis kecil yang tidak berani apapun, yang tidak bisa apapun. Umur gadis kecil itu sekitar 7 tahun. Dia bukan anak orang berkecukupan yang ketika menginginkan suatu barang tinggal tunjuk sana tunjuk sini, kalau tidak dikabulkan oleh orang tuanya, langsung menggunakan jurus pamungkas “nangis”. Gadis kecil itu harus menabung sendiri untuk semua hal yang dia inginkan.

Jangankan untuk melakukan hal besar, untuk menyalakan korek api saja dia tak berani, namun ada satu yang selalu dia yakini. Suatu ketika aku pasti bisa. Pada waktu kelas 6 nanti, aku pasti sudah berani menyalakan korek api. Gadis kecil itu kini berani berkata “Ini impianku, bukan mimpiku”

Impian ibarat sebuah tujuan dalam bahasa skripsi, tujuan akhir yang ingin dicapai dalam sebuah penelitian yang akan dilakukan, dengan berbagai macam latar belakang, manfaat, kerangka berfikir, dan juga hipotesis penelitian yang membuat kita lebih yakin akan apa yang kita tuju atau apa yang kita impikan. Bahwa saya bisa memenangkan banyak lomba menulis, saya bisa bebas finansial, saya bisa keliling Indonesia, saya bisa menulis buku best seller, saya bisa menjadi ahli gizi dan saya bisa menjadi apapun yang saya mau ketika saya masih punya kemauan, masalah prosesnya seperti apa susahnya, masalah sebanyak apa pengorbanannya itu lain soal. Masalah kesimpulan atau hasil akhir itu lain soal, karena tugas manusia hanya berusaha, hasil akhir itu hanya masalah pantas tidaknya kita mendapatkan keberhasilan itu dengan semua ikhtiar kita dengan semua doa dan juga prasangka baik pada Allah, bukankah Allah mengikuti prasangka hambanya.

Bagi saya impian tidak sama dengan mimpi, impian adalah sesuatu yang sudah seharusnya kita perjuangkan, karena impian punya batas waktu, dan mimpi adalah sesuatu yang tak terbatas waktu.

Saya di tahun akhir sebuah masa di tahun 2012

Saya menyebut tahun 2012 sebagai tahun ilalang, karena ditahun ini banyak hal yang bisa saya buktikan tanpa harus banyak yang tahu proses menuju kesana. Seperti ilalang, dia tidak pernah mengeluh kepada siapapun meskipun banyak orang yang mengabaikannya. Saya percaya saya bisa, karena Allah sudah berjanji, bahwa Allah akan sesuai dengan prasangka hambanya.

Di bulan kedua di tahun ilalang ada buku kumpulan cerita pendek yang menginspirasi, percaya? Saya sedang tidak berbohong, 100% serius. Tentu saja semua harus percaya ini. Saya seorang cerpenis. Buku dengan tema “ilalang liar” itu akan terbit bulan Februari 2012. Buku itu adalah kumpulan kisah orang-orang yang mampu menginspirasi sekitar lingkungannya, namun sering kali terlupakan, karena ilalang selalu saja terlupakan.

Saya seorang perempuan. Kini perempuan dituntut untuk bisa berbuat lebih, terutama untuk dirinya sendiri dan lingkungannya. Tidak jamannya lagi wanita bergantung kepada yang lain, bukan waktunya lagi wanita menjadi sesosok yang harus dilindungi setiap saat, itulah kenapa di bulan ketiga tahun ilalang, saya sudah bebas finansial, paling tidak untuk hidup saya sendiri. Di bulan ketiga tahun ilalang, saya mempunyai 3 bisnis yang sukses, yaitu laundry dan juice bersama teman-teman tim di kampus, dua yang lain adalah bisnis sendiri yaitu “Bubble drink”, ini adalah minuman dengan campuran bubble di dalam minumannya. Ada yang mau coba?

Sarjana sains, Siti Nurjannah S.Si, gelar itu akan segera ikut kemanapun saya pergi. Bukan sekedar menjadi lulusan yang biasa namun menjadi sarjana yang lulus karena kemampuan sendiri, karena seorang ahli gizi harus percaya diri dengan ilmu yang dimiliki.

Terakhir namun bukan akhir di tahun ilalang adalah, sebuah novel best seller tulisan seseorang dengan nama pena ilalang liar beredar di pasaran. Jangan sampai ketinggalan! Baca dan temukan sesuatu di dalamnya, siapa tahu jadi tokoh utama didalamnya.

Impian bukanlah sesuatu yang mustahil, masa depan bukanlah sesuatu yang sulit untuk dicapai, karena cara terbaik untuk mengetahui masa depan kita adalah dengan merencanakannya. Saya punya mimpi sejuta dolar??? Yang benar adalah SAYA PUNYA MIMPI LEBIH DARI SEJUTA DOLAR karena ini impianku, bukan mimpiku.