Senin, Maret 19, 2012

Keperawanan hati




Sebuah teguran untuk diri sendiri
Gambar pinjam google


Seorang teman pernah bercerita tentang sebuah kisah yang pernah dialami oleh seorang saudaranya. Saat itu saudaranya sedang bersiap untuk melakukan akad nikah. Tenda sudah terpasang, makanan sudah dipesan. Penhulu sudah dihubungi. Hanya tinggal hari-H pernikahan. Tinggal akad nikah. Rencana Allah memang selalu indah. Rencana yang sudah direncanakan hanya tinggal rencana. Mempelai putri membatalkan pernikahan karena memilih pergi dengan laki-laki lain.

Pernah juga Sije datang kesebuah acara walimahan seorang sahabat. Kebetulan kami (Sije dan mempelai putri) dulunya merupakan kawan akrab. Kami sering pergi bersama, atau makan bersama. Waktu itu Sije dan teman-teman datang bersama beberapa rombongan dari kampus. Niatnya sih mengejar akad nikah (mana bisa akad nikah dikejar? J). Cuaca ternyata tidak berpihak, hujan deras mengguyur. Kami (terutama yang putri), terpaksa berhenti untuk menunggu hujan reda. Jauhnya tempat yang kami tuju, ditambah dengan hujan deras mengguyur membuat kami tidak sempat melihat prosesi akad nikah. Sampai disana, Sije sempat bertemu dengan beberapa teman-teman kampus. Ada yang istimewa, ada beberapa orang yang disinyalir dulu pernah ada “something” duduk dibarisan terdepan.  Kebetulan Sije dapat jatah membagi undangan, dan kebetulan ada beberapa orang yang mendapat undangan pribadi. Hal itu membuat Sije menyimpulkan, ada apa ini? Sije aja yang dulunya teman wira-wiri kagak dapat undangan pribadi (jadi lu iri je, bilang aja iri. Pakai cari alibi segala JJ). Orang-orang yang duduk dibarisan terdepan adalah mereka-mereka yang mendapat undangan pribadi itu.

Bisa dikatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang dulunya pernah punya rasa dengan si mempelai putri. Wajah mereka menyiratkan sesuatu. Sesuatu yang Sije sendiri tak bisa mengartikannya. Apa yang mereka pikirkan? Saat melihat orang yang dulu pernah mereka “kejar”, kini duduk bersanding dengan orang lain? Sakitkah? Marahkah? Nyesek? Atau biasa aja?.

Hem, keperawanan hati. Itu menjadi sesuatu yang rasa-rasanya sulit sekali untuk dijaga. Sekali saja sudah terjerat dengan yang namanya VMJ, cinta, atau apalah itu namanya. Sekali sudah terisi akan susah mengosongkannya. Kata seorang teman saya di FLP, Islam itu memang benar ya, tentang menjaga pandangan, tentang menjaga hati, semuanya di atur dengan jelas.

Kita lihat contoh diatas, saat yang namanya hati sudah tidak bisa di rem, maka yang namanya keperawanan adalah menjadi taruhan. Suka dengan seseorang dan tak bisa mengendalikannya pada rel yang jelas, maka hati menjadi korbannya.

Keperawanan hati, susah namun akan terasa manisnya kalau kita benar-benar bisa menjaga keperawanan yang satu itu. Siapa bilang yang namanya kata perawan itu hanya untuk perempuan? Keperawanan, bisa juga dan memang diletakkan atas laki-laki dan perempuan. Bila kata keperawanan disandingkan dalam konteks hati, maka keperawanan itu akan berlaku untuk semua gender.


Apakah Islam melarang kita untuk menyukai lawan jenis?

Tentu saja tidak. Islam menghargai yang namanya rasa. Itu fitrah dan itu diperbolehkan. Seorang Fatimah  putrid rosul, pernah mempunyai rasa dengan seorang Ali. Rasa malu yang begitu kuat  dalam bingkai kecintaan terhadap Robb-nya membuat Fatimah mampu menjaga hati untuk tetap suci (kata perawan kita ganti dengan kata suci). Rasa itu tetap menjadi fitrah manusia, yang namanya manusia pasti akan menyukai lawan jenisnya (kecuali yang menyalahi kodrat). Hanya saja caranya perlu diatur.

Kita ngakunya gak pacaran. Wuih..keren banget gak pacaran, tapi HTS-an (yaelah, sama aja sami mawon). Kita bilangnya menjaga hati, wah..mantap banget dah pokoke. Setelah diselidiki, ternyata menjaga hati untuk seseorang. GUBRRAAKK!!!!  Cabe deh….

Hal ini tentu saja perlu diluruskan. Selama ini kita menjaga hati mati-matian, tapi ternyata untuk seseorang yang sudah dipersiapkan Allah untuk kita. Sampai pada konteks ini, sejauh mana kita tunaikan hak Allah atas hati kita. Bahkan hanya sekedar hati saja, kita serahkan kepada manusia. Hal in bukan hanya berlaku bagi mereka yang masih jauh dari dunia pernikahan, tapi bagi mereka juga yang sedang dalam proses menuju pernikahan. Hanya gara-gara pinangannya sudah diterima, maka sudah sepenuhnya menyerahkan hati untuk si calon. Padahal menikahnya masih satu pekan lagi misalnya. Kita tentu selalu tahu bahwa  Allah selalu punya rencana terbaik. Dalam waktu satu pekan itu tentu saja bisa terjadi berbagai macam hal. Misalnya salah satu diantara keduanya dibalikkan hatinya oleh Allah dengan menunjukkan aib dari yang lain. Hingga akhirnya merubah keinginan untuk berlanjut menikah. Hal yang lain misalnya, salah satu dari keduanya meninggal. Itu bisa saja terjadi, dan itu pernah terjadi dengan salah seorang teman Sije.

Menjaga keperawanan hati memang menjadi tantangan sendiri. Bisa jadi kita selama ini salah niat. Menjaga hati karena ingin mendapatkan yang terjaga. Hem…sama Allah aja itung-itungan. Allah tahu yang terbaik untuk kita. Maka, yang perlu kita lakukan adalah melakukan yang terbaik karena-NYA.



Sije Preman Sholihah
(Siti nurjannah) 

    Choose :
  • OR
  • To comment
2 komentar:
Write Comment