Senin, Oktober 30, 2017

Menghangatkan Diri dengan Semangkuk Kembang Tahu Bu Sukardi

Waah sudah lama ya saya enggak posting tulisan di blog. Yep, kebanyakan deadline untuk web orang lain, justru blog sendiri terbengkalai. Pfftt. Ada sih beberapa tulisan yang sedang disiapkan, tapi yaitu, seringnya enggak selesai. Keingetan kerjaan yang harus diselesaikan. Begitu kerjaan beres, otak udah ngebul, enggak mau diajak mikir tulisan lagi. Kemarin-kemarin sibuk ngegarap tugas akhir juga sih. Tapi sekarang udah enggak. Wis beres. Sudah lulus. Kasih selamat dongs! Hihihi.   

Nah, buat pemanasan, bolehlah ya sesekali saya nulis tentang makanan. Ini ceritanya sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Duit dapet, blog juga hidup lagi. Kebetulan tadi pagi pengen ‘meliput’ tentang kuliner khas nan hits di Jogja. Awalnya mau cari bubur ayam. Tapi mengingat bubur itu high carbohidrat yang berpotensi membuat gendats, akhirnya pilihan jatuh ke Kembang Tahu Kranggan. Sudah lama sih pengen nyobain kuliner semriwing ini, tapi kok ya dari kemarin cari-cari enggak ketemu lapaknya Bu Sukardi.

Akhirnya pagi ini modal search di dumay, ketemulah lapak Kembang Tahu Bu Sukardi. Sebenarnya gampang nyarinya. Enggak tahu kenapa kok kemarin muter-muter disekitar situ kok enggak sadar. Begitu sampai di lokasi, saya langsung parkir motor pinjaman orang tua di pinggir jalan.  Kembang Tahu Bu Sukardi ini memang tergolong food street,  jadi jangan berharap tersedia tempat parkir disini.

Kebetulan lagi sepi, biasanya ngantri bo’! Langsung deh cuss pesen. Dasarnya saya lagi flu, kuping jadi mendadak bolot gitu. Ada kali ya tiga kali saya bilang “Apa Bu?” ke Bu Sukardi. Padahal Si Ibu cuma nanya, “Dimakan disini? Berapa porsi?”Ealaah Je Sije.

Enggak sampai 10 menit, semangkuk Kembang Tahu hangat langsung tersaji. Baunya semriwing. Enggak pakai babibu, setelah foto-foto untuk keperluan kerjaan, langsung saya sendok dan wiiii enakk ternyata. Kenapa enggak dari dulu saya rajin jalan-jalannya. Coba kalau dari dulu, makanan semacam ini pasti sudah jadi langganan.

Rasanya uenak. Suer! Kembang tahu yang luembut, berpadu dengan kuah jahe (dan rempah lainnya kayaknya) yang hangat, langsung bikin hidung plong. Recommended banget buat yang kurang kasih sayang dan kehangatan #eh. Daan karena memang saya lapar, enggak sampai 15 menit, mangkuk itu sudah bersih. Hihihi, saya penganut makanan itu hanya ada enak dan enak banget. Jadi kalau beli makanan wajib menghabiskan.

Gimana? Mau coba juga? Enggak usah khawatir kantong jebol. Satu porsi kembang tahu disini di bandrol harga 6000 rupiah saja. Murah kan.

Lokasinya dimana? Kamu tahu Tugu Jogja? Nah kita dari timur nih ya, ambil kanan (utara). Terus di belokkan pertama, ambil kiri. Luruuusss saja sampai ketemu perempatan. Lalu di perempatan, ambil kanan. Luruuss lagi sampai ketemu perempatan. Nah Bu Sukardi membuka lapak pas di samping kiri perempatan. Kelihatan kok. Cuma ada satu itu penjual kembang tahu di lokasi ini.


Kalau kesana, ajak saya ya. 

Kamis, Februari 23, 2017

Urip Iku Urup

Credit here
Hidup itu menyala. Waktu yang hanya terjadi satu kali ini, semoga tak hanya jadi remah-remah bubuk kopi. Yang hanya  dinikmati lalu ditinggal pergi, namun menjadi lebih berarti. Bahasa langitnya, bermanfaat untuk bumi.

Caranya? Banyak. Bagi saya pribadi, empat cara dibawah ini cukup ampuh untuk membuat saya nguripi urip, membumi saat angan-angan melangit. Kembali menjadi manusia ketika jumawa sudah meraja.

Traveling
Bagi Traveling Enthusiast macam saya, selalu gatel kalau ada orang bilang, “Ngapain traveling, ngabisin duit aja”. Kalau lagi cuek, saya jawab, “Nah, duit banyak ngapin ditabung doang” Haha. Tapi kalau lagi sabar, saya biasanya menjelaskan panjang dan lebar.

Traveling itu sebenarnya bukan melulu menghabiskan uang. Banyak pekerjaan-pekerjaan freelance yang bisa bikin kita jalan-jalan tiap bulan. Lah, situ mindset nya kerja itu di kantor sih. :p Ada banyak tawaran dari NGO yang biasanya ditempatkan di suatu tempat hingga sekian waktu. Tahu kan NGO itu apa? Gugling gih kalau enggak tahu #songong.  Enggak jarang juga ada tawaran penelitian ke masyarakat dengan lokasi seluruh Indonesia. Artinya, kita bisa bekerja sambil jalan-jalan. Selama disana dibayarin pula living cost-nya. Nilai plusnya, kita benar-benar traveling bukan sekedar piknik yang terjadwal waktu dan destinasinyanya. Bisa berkenalan langsung dengan masyarakat, melihat Indonesia lebih dekat. Biar kita enggak sombong-sombong amat.

Menulis Buku
Ini cita-cita saya yang hingga sekarang masih jadi rencana. Hehe. Bagi saya pribadi, menulis itu semacam healing. Menyembuhkan. Kata penulis terkenal, tulisan yang baik adalah tulisan yang dimulai dari kegelisahan. Melihat lingkungan sekitar yang tidak kunjung beres, bisa menjadi satu ide tulisan sendiri. Menjadi penulis membuat kita menjadi pribadi yang peka. Sebab ide hanya datang kepada mereka yang mencarinya.
Berbagi
Lahir keduniaa dan terjebak dalam keluarga atau kondisi fisik tertentu, bukan sebuah pilihan. Itu keputusan dari sang maha menentukan. Sekian waktu turut serta dalam kegiatan anak yatim, saya belajar banyak hal. Meskipun disana saya hanya jadi penggembira saja. Anak-anak itu ada yang tumbuh dari rahim ibu yang tak bersuami, atau bersuami yang tega pergi saat anaknya sedang tumbuh gigi. Bagi mereka yang seperti ini, dunia lebih tidak berpihak, banyak donatur yang memang sedari awal inginnya menyumbang untuk anak yatim yang ditinggal mati. Namun… Ah sudahlah.

Untukmu yang masih merasa hidup paling menderita. Sesekali marilah berkunjung dan berbagi untuk mereka. Setelah itu rasakan manfaatnya. Masalah patah hati atau sekedar diingkari janji tidak lebih dari sekedar ampas seduhan kopi.

Menjadi Relawan
Tidak semua orang tergerak menjadi relawan. Bahasa kasarnya ‘tidak ada uangnya’. Ya, menjadi relawan memang bukan sekedar mencari uang. Ibaratnya mewakafkan diri untuk masyarakat. Bukan lagi hitung-hitungan dunia, tapi bagaimana agar semua selamat dan berbahagia bersama. Sebab itu banyak relawan yang menawan #eaaa.

Cara lain? Banyak! Tiap orang punya warna masing-masing. Passion dan kecintaan yang berbeda. Ketika kau yakin, perjuangkan. Sebab kau tahu, para pecinta itu luar biasa.

Sije

Bahkan Ini pun Harus Kita syukuri

Credit here
Masih ada yang menggerutu tentang pekerjaannya saat ini? Capek, teman kantor yang nggak oke, bos yang galak, atau kalau punya usaha, sepinya order, ditipu orang dan lain sebagainya.

Saya ingin mengajak melihat beberapa fenomena yang ada di sekitar. Fenomena yang harusnya membuat kita mensyukuri apapun yang bisa kita lakukan (yang bisa jadi tidak bisa orang lain lakukan). Setiap senin sore saya selalu melewati satu ruas jalan yang sama. Jalan gambir, kalau masih ada yang tidak tahu, arah ke utara dari fakultas teknik Universitas Negeri Yogyakarta. Setiap senin sore itu pula, Allah menampar saya. Ada seorang bapak yang sudah berumur. Sudah tua dan bungkuk, sedang menunggui jualannya berupa mainan tradisional. Mainan yang tidak semua anak suka, apalagi di era generasi gadget seperti ini.

Kedua, di sekitar ruas jalan yang sama, saya beberapa kali menemui bapak (kalau tidak boleh disebut kakek) sedang mendorong keranjangnya yang berisi penuh celengan dari tanah berbentuk kuda-kudaan, ayam-ayaman dan sejenisnya. Si bapak ini beberapa kali menjajakan jualannya di sekitaran kampus.

Ketiga, ada seorang bapak yang atas ijin Allah dibuat istimewa (tidak bisa melihat), pada hari-hari terentu dia akan menjajakan jualannya berupa keset, sulak (kemoceng), kain lap dan sejenisnya di sekitaran masjid kampus UGM.

Keempat, bagi yang domisili di Jogja coba sekali-sekali saat pagi hari, belanja di pasar demangan.  Setelah belanja sempatkan untuk lewat di dekat bak sampah (sebuah kotak besar dari semen) yang ada di  pojok depan pasar. Disana akan ditemui seorang bapak yang duduk di antara tumpukan sampah sambil memilah-milah sampah. Mana yang bisa dijual kembali dan mana yang tidak. Inilah kenapa buat para mbak-mbak dan ibu-ibu, kalau buang (maaf) pembalut tolong lebih hati-hati.

Kelima, ahh rasanya saya nyaris tidak sanggup menuliskannya, setiap sore (akhir-akhir ini tidak ada) ada sepasang suami istri (sudah berumur) menjajakan topi anyaman. Jangan pikirkan seperti topi anyaman yang untuk di pantai. Dan beberapa kali saya lihat, jualannya tidak kunjung berkurang banyak.

Pernah saya berpikir dan mungkin banyak orang lain yang berpikir serupa, kenapa sih bapak-bapak itu tidak berjualan yang mudah habis atau minimal yang ‘lebih modern’. Kan kalau mudah habis orang akan beli lagi, misalnya makanan. Lha kalau yang dijual celengan kuda-kudaan, atau mainan, kan nggak mungkin setiap hari beli. Nggak mungkin kan dalam satu hari celengannya penuh.

Namun, kemudian saya berpikir bagaimana kalau memang hanya itu keahlian yang mereka punya. Membuat celengan dari tanah, merangkai bilah-bilah bambu untuk membuat mainan, menganyam rotan untuk membuat topi dan lain-lain.

Ada satu hal yang harus segera kita syukuri, kemampuan untuk bertahan hidup. Kemampuan yang atas ijin Allah menempel pada diri kita. Bisa menulis, mengajar, ilmu kedokteran, ilmu tentang bumi (perminyakan, geologi, geografi dll), kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik, kemampuan marketing yang mudah diterima dan lain sebagainya. Bisa dibayangkan kalau tetiba Allah membalik semuanya? Ilmu-ilmu yang kita miliki berpindah tubuh ke orang lain misalnya.
Itulah kenapa ada hak orang lain dari harta kita.

Zink!! Ini kenap tetiba saya jadi begitu serius begini ya, Oh no, kotak tertawa, mana kotak tertawa.

Sije

Senin, Februari 20, 2017

Foto Dulu, Foto Lagi, dan Foto Terus

Credit here
Teknologi memang seperti pisau bermata dua. Satu sisi bisa menjadi manfaat, namun disisi lain juga bisa menjadi bumerang yang mampu menghancukan penggunannya. Salah satu teknologi yang saat ini banyak digunakan oleh masyarakat adalah handphone a.k.a Hp.

Sekarang ini hampir semua lapisan masyarakat mempunyai handphone. Mulai dari masyarakat pedesaan hingga perkotaan. Tidak tanggung-tanggung, bukan hanya untuk telfon dan sms namun juga dilengkapi fitur kamera. Teknologi komunikasi memang berkembang cukup pesat, yang awalnya hanya handphone biasa, kini sudah muncul yang namanya smartphone. Fitur yang ditawarkan beragam, mulai dari kamera dengan hasil gambar yang jelas, hingga aplikasi media sosial yang bisa langsung diakses kapan saja.

Kemudahan yang diberikan oleh smartphone ini kini membawa tuah. Banyak remaja kita yang sekarang dijangkiti virus foto selfie. Dimana saja dan kapan saja foto selfie tidak pernah terlupa. Saat menunggu antrian, selesai sholat tarawih, waktu pergi ke tempat wisata, disemua tempat yang dilalui dan disinggahinya. Moto yang digunakan, foto dulu, foto lagi, dan foto terus.

Fenomena ini tidak hanya berhenti sampai foto saja, setelah foto selfie, hal reflek yang banyak kita lakukan adalah mengunggahnya di sosial media. Berburu like dan komentar. Ada rasa jumawa bila banyak yang like atau memberikan komentar. Niat awal yang hanya sekedar mengunggah foto kini menjadi niat ingin mendapat banyak pujian dan like.

Fenomena ini mau tidak mau harus mendapat porsi tersendiri untuk ditangani. Sebab, virus ini katanya banyak menjangkiti para muslimah yang konon fitrahnya bermahkotakan rasa malu. Syetan dengan halusnya memberikan bujuk rayu agar senang foto, senang pamer, dan akhirnya mengharap pujian dari orang lain.

Pada beberapa kelompok ada yang sebenarnya tidak ada niatan untuk pamer foto, namun tidak menyadari bahwa foto yang diunggahnya ke sosial media tanpa manfaat yang mendesak justru membuat mudhorot bagi orang lain. Banyak muslimah yang bersungut-sungut tak suka ketika ada laki-laki yang menggodanya. Namun diwaktu yang sama masih sering kali mengunggah foto selfie cantiknya. Bersembunyi di belakang kalimat, “ah…salah sendiri tidak bisa jaga mata”. Kepada kita yang masih seperti ini, ada sebuah nasehat.

Kita tidak pernah tahu kondisi iman saudara kita. Maka tugas kitalah untuk saling menjaga iman saudaranya yang lain. Salah satunya adalah dengan tidak melakukan hal-hal yang justru membuat iman mereka turun. Bagaimana kalau ternyata foto-foto kita lah yang selama ini membuat rontok iman mereka?

Lalu apakah muslimah tidak boleh berfoto?
Ulama masih berbeda pendapat tentang ini. Namun kalau pun berpegangan dengan pendapat ulama yang memperbolehkan foto, alangkah baiknya foto-foto itu disimpan sendiri, untuk konsumsi pribadi. Tak perlulah diunggah ke sosial media. Bukankah setiap apa yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban nantinya. Pun diunggah, seperlunya saja. Sebutuhnya. Tentu saja kebutuhan eksis seorang public figure berbeda dengan ibu rumah tangga biasa.

Satu yang jauh lebih penting dari semuanya adalah, apa jawaban kita atas foto-foto yang beredar di dunia maya?


Sije