Gambar Menyusul :D
Sastra. Apa itu sastra? Sapai saat ini aku masih bingung kalau
ditanya. Kamu ikut organisasi kepenulisan kan? Kamu bisa nulis kan? Bisa nggak
mengartikan puisi ini? Diam. hanya itu yang bisa aku lakukan. Sampai sekarang
aku masih sering menghindari buku “sastra berat”. Pernah dulu saat aku ulang
tahun ke-20, ada seorang teman yang menghadiahkan sebuah buku sastra kepadaku.
Judulnya aku sudah lupa, buku itu kini sudah masuk ke dalam kardus. bukan aku
tak ingin memahami buku itu, hampir satu bulan aku coba menyelesaikan buku itu,
tapi sampai sekarang aku rasa-rasanya tak ingin lagi membaca buku itu. kecuali
kalau aku ingat ada seseorang disana yang memberikan buku itu untukku. Tapi
sekeras apapun aku mencoba memahaminya, aku hanya seperti orang linglung.
Sejak bertahun-tahun lalu. Mulai dari pertama kali aku mengenal
perpustakaan dan “buku”, aku sudah mulai membaca banyak buku atau kumpulan
cerpen. Tapi meskipun seperti itu aku “menyisihkan” buku-buku “sastra berat” .
bukan aku tak mau membacanya, tapi lebih karena aku tak mampu memahaminya.
Kenapa sastra harus begitu rumit? Pertanyaan itu yang sampai sekarang belum
bisa kutemukan jawabannya.
Beberapa waktu yang lalu aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke
sebuah pameran buku. Besar-besaran di Jogja. Banyak buku dijual dnegan harga
yang sangat murah. Kadang, sebagai pecinta buku aku prihatin. Buku sebagus itu
hanya dihargai 10.000, bahkan ada yang dihargai 5000 rupiah. Tidakkah para
penerbit itu berpikir tentang proses kreatif yang harus dilalui para penulis
untuk melahirkan sebuah buku. Bukan serta merta semalam jadi. Bulanan, bahkan
mungkin tahunan. Itu pun masih harus direvisi berkali-kali. Di pameran itu aku
menemukan sebuah buku yang ditulis keroyokan oleh penulis-penulis kenamaan di
Indonesia. Mulai dari Ahmad Tohari, Ayu Utami, Prie GS, A. Mustofa Bisri,
Abidah el-Khalieqy dan lain sebagainya. Aku tertarik dengan buku itu. secara
fisik buku itu sudah jelek. Mungkin dyulu covernya putih, tapi sekarang sudah
kekuningan dan noda dimana-mana. Judulnya, cerita-cerita pengantin. Aku
putuskan untuk membelinya. Sekali lagi aku harus meringis, aku membeli buku itu
seharga 10.000. Semurah itukah ide di hargai di negeri ini?
Setelah aku membayar buku itu, aku berjalan ke toko buku selanjutnya.
Disana aku lebih ingin menangis. Aku bukan menangis karena sedih, tapi marah.
Dengan sangat gamblang, mereka menjual bajakan buku dalam bentuk softfile.
Entah apa kutukan yang diterima negeri ini. ide tak ubahnya sepeti barang
buangan yang tidak dihargai.
Buku yang sudah kekening-kuningan itu kubawa pulang. Berharap aku
bisa sedikit membuka celah sastra dari buku itu. Sebuah pengantar manis
diberikan oleh seorang Triyanto Triwikromo. Penulis yang menulis buku Rezim
Seks, Ragaula, Sayap Anjing dan lain sebagainya. Blow Kiss untuk Kekasih,
begilau judul pengantarnya. Sebuah kalimat pertama yang dia pilih bisa
menggambarkan apa yang akan dia tulis selanjutnya. “Jangan pernah menganggap
perkawinan sebagai porselin atau keramik yang tak pernah retak”. Hampir semua
cerpen di tertulis dibuku ini menceritakan perkawinan dari sudut yang berbeda.
bukan sekedar cara meneguk minuman manis, atau membuat gula-gula dari senyuman
pengantin baru. Mulai dari pengantin yang menikah dengan tumbal kakeknya,
hingga bujang lapuk yang “takut” perempuan.
Bagus, tapi sampai hari ini, buku itu pun tak kunjung kuselesaikan.
Sekali lagi, karena bagiku sastra masih satu hal yang terlalu manis untuk
sekedar direguk.
Endorfin
Tidak ada komentar:
Write Comment