Senin, Januari 04, 2016

Rem


Pernah merasa ingin beli ini itu? Sudah punya banyak tas tapi tetap tergoda ketika melihat tas brand tertentu launching produk terbaru. Padahal dirumah sudah ada banyak tas mulai dari ransel hingga tas tangan. Apalagi kalau yang nawarin sahabat dekat, “Nggak enak kalau nggak beli”, padahal aslinya gengsi #ups. Atau kalau saya seringnya merasa masih kurang piknik, padahal pekan kemarin baru saja pulang dari naik gunung.

Lebih-lebih di akhir dan awal tahun seperti ini, mall-mall seolah belomba untuk menuliskan tulisan besar dan tebal, DISKON AKHIR TAHUN, HARGA CUCI GUDANG. Alhasil, setiap datang ke pusat perbelanjaan, selalu ngiler kalau lihat koleksi sepatu dengan label diskon 50%+20%. Belum lagi kalau ada ‘waktu luang’, buka instagram akhirnya kepoin online shop. Mulai dari penjual gamis, jilbab, hingga wajan. Padahal kalau dihitung-hitung, gamis di lemari sudah lebih dari jumlah hari (ini belum rok dan baju atasan lho ya). Entah kapan mau dipakai. Suratan takdir juga, wajan dan kawan-kawannya, plus gamis dan pasukkannya adalah  barang-barang yang genit kedip-kedip menggoda. Belum lagi kalau ada temen yang ngajak jalan-jalan ke toko outdoor, perlengkapan camping sejenis tenda, carrier, bahkan sandal gunung, seolah.. ah sudahlah. Kalau kalimat terakhir ini, saya saja kali ya.

Saat kata maruk (begitu teman saya menyebutnya) menjadi nama tengah, bersyukur saya berasal dari desa. Disana, rumah berlantai keramik pun sudah dianggap ‘mewah’. Mobil? Hanya orang tertentu yang punya, itu pun merk lama. Jangan tanya tentang kitchen set yang mewah, hampir setiap rumah- termasuk di rumah saya- masih menggunakan tungku dari tanah. Sarjana? Menjadi gelar ‘dewa’. Apalagi gelar master, simbahnya dewa kali ya.

Bersyukur juga saya –masih- hidup di Jogja, beberapa kali melihat bapak-bapak tua memanggul dagangan mainan tradisional yang entah siapa mau memainkannya. Juga sepasang orang tua yang tiap hari selalu ada di perempatan kampus, meminta-minta.

Bersyukur juga, kini teknologi bisa saya nikmati dengan segera. Ketika maruk mulai berkuasa, buka google dan segera ketik keyword, penjual asongan, atau pedagang kaki lima, kalau terlalu panjang, cukup ketik kata ‘rakyat’saja. Ubah ke pencarian gambar. InsyaAllah ini menjadi rem yang pakem banget. Menjadikan nurani kembali juara. Silakan dicoba, kalau masih kurang pakem, sepertinya kita harus pergi ke bengkel :D.

Tidak boleh beli ini itu ya?

Bolehlah. Tapi gunakan logika fungsi, bukan logika style. Logika fungsi akan mengarahkan kita untuk membeli barang-barang yang ada fungsinya. Sedangkan logika style akan mengajak kita terus masuk ke dunia model dan nafsu. Namun meskipun begitu, pastikan semua sesuai porsinya, secukupnya. Memang wajan (kok wajan lagi sih je? -_-“) itu perlu, tapi satu atau dua saja cukup kan? Lipstik memang butuh, tapi nggak perlu kan kita mengoleksi semua warna? Lebih baik, uang yang 200 atau 500 ribu itu ditabung. Bisa untuk tabungan dunia, bisa juga akhirat. Ganti-gantian aja.

Arumdalu, 29 Desember 2015 09.00 WIB.

Judul dan inspirasi dari blog Mbak Mulki.

    Choose :
  • OR
  • To comment
1 komentar:
Write Comment
  1. Logika style sama logika fungsi....hmmm boleh uga je...

    BalasHapus